Kata Rangga

Entries Comments


Paralel

14 October, 2011 (17:16) | Hidup | 2 comments

Kemarin saya berulangtahun yang ke 34.

Mungkin bukan hal yang spesial buat kebanyakan, tapi ada satu hal yang membuat saya berpikir.

Pada hari Senin lalu, ibunda teman saya meninggal dunia dan dimakamkan dekat tempat beristirahat ayah saya. Ketika saya berkunjung dan melihat nisannya, saya baru sadar dia meninggal beberapa bulan sebelum dia mencapai umur saya sekarang.

Tiba-tiba saya membayangkan dia pada saat itu. Cukup mudah, karena kami berada di umur yang sama, pengalaman hidup yang sama panjangnya dan harapan yang sama - mungkin.

Terus terang seperti yang selalu saya ceritakan, saya tidak terlalu ingat ayah saya secara detil. Saya tidak tahu apa yang dia kerjakan selain dia seorang arsitek, saya tidak tahu masa lalu dia selain dia orangnya terkenal bandel di keluarganya dan saya tidak pernah tahu pasti apa yang dia rasakan tentang saya.

Ya tentunya saya tahu dia menyayangi saya dengan caranya sendiri; dengan cuek. :)

Bisa dibilang di beberapa lama sebelum dia meninggalkan saya, kami hidup terpisah karena ibu saya harus mengenyam pendidikan di Jogja sehingga saya tinggal dengan nenek saya.

Kami hanya bertemu pada akhir minggu. Biasanya dia mengajak saya jalan-jalan; entah mengunjungi kakaknya atau ikut nongkrong bersama teman-teman dia. Oh, atau ke Pasar Seni Ancol, mengunjungi Om Jarot, seorang seniman tanah liat.

Gerungan Grunge.

22 September, 2011 (18:12) | Hidup, Layar, Musik | No comments

 

Diambil dari videoklip Even Flow, Pearl Jam

Selasa kemarin saya menonton sebuah film dokumenter yang berjudul Pearl Jam Twenty (PJ20). Film ini hanya sekali diputar serentak di seluruh dunia pada tanggal yang sama untuk merayakan ulang tahun keduapuluh band ini.

Saya tidak akan berbicara banyak tentang film ini, karena sejarah band ini toh sudah ada di Wikipedia dan film memang harus ditonton langsung untuk bisa dinikmati.

Saya hanya akan bercerita ke mana film itu membawa saya.

Agustus 1991.

Ketika itu saya masih SMP kelas dua dan kebetulan tinggal di sebuah negara di Eropa. Bulan itu masih terhitung liburan musim panas dan banyak waktu saya habiskan di depan TV, terutama MTV karena sumber musik saya hanya dari situ. Majalah masih terhitung mahal dan internet belum menjadi milik semua orang.

Pada saat itu, musik yang saya dengarkan terbagi antara Heavy Metal (Metallica, Guns N’ Roses, Skid Row, Anthrax, etc.) dan Hip-Hop (Public Enemy, Run DMC, Supreme NTM, etc.).Walau dua jenis musik itu bisa dianggap bertolak belakang, mereka punya satu kesamaan.

Mereka adalah dewa bagi penggemarnya.

Surat Pendek Untuk Lidia.

1 April, 2011 (19:16) | Hidup | 4 comments

Hey, Lid…

Gua masih inget ketika pertama kali masuk ke Adwork, ada ibu-ibu berkemeja putih yang ngerokok di bale-bale lantai tiga. Gua jadi merasa aman buat nyalain rokok gua pada saat itu. Meskipun agak keterusan sih, karena gua kok ya bawa rokok ke ruangannya Ndang sampai akhirnya dia ngasih tatakan cangkir buat asbak gua. Pada saat itu gua masih buta sama yang namanya Traffic tuh ngapain sih. Akhirnya gua berkesimpulan kalian kerjanya marahin kreatif supaya cepet kelar kerjaan.

Ya gak jauh-jauh amat sih sebenernya. Kita sering banget kan saling berargumen, apalagi 6 bulan pertama. Entah kenapa kok semua kerjaan tumpah ke gua. Tapi akhirnya toh selalu kita duduk di bale-bale sambil ketawa bareng; entah sambil nyemil atau ngopi.

Dan siklus itu terus berlangsung. Berantem, baikan, berantem, baikan. Yang ada si Pak Mus geleng-geleng aja jadinya. Belum lagi kalau anak-anak studio ketiban banyak kerjaan, kita selalu berantem dulu tapi pada akhirnya selalu ada solusi.

Pada akhirnya, kita bisa saling kerja sama dengan harmonis. Gua bisa lebih cepet kerjanya dan loe bisa membagi semuanya dengan lebih tenang.

Yah, yang namanya hubungan kreatif dan trafik bohong lah kalau gak diseling berantem, seperti yang gua tulis tadi. Tapi gua selalu respek loe; pada akhirnya loe adalah temen gua. Titik.

Damai.

21 November, 2010 (15:20) | Hidup | 2 comments

Kemarin siang saya mengantar Irma ke Pondok Indah Mal untuk bertemu dengan seseorang yang meminta dia untuk mendesain ulang grafis restorannya. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya beliau datang dan kemudian, salah satu temannya menyusul.

Si pemilik restoran menunjuk ke arah saya sembari berkata ke temannya, “Itu Ditto, anaknya Doddy!”
Si teman kaget tak percaya dan diam beberapa saat sebelum berkata, “Oh ya ampun, tante kakaknya sahabat papamu, om Ari!”
Seketika saya terbawa ke masa lalu saya.

Saya berada di antara orang tua saya di dalam sebuah Kijang pick-up biru metalik. Mobil kami memasuki sebuah pelataran parkir yang menanjak. Di teras sudah berdiri sepasang suami istri dan seorang anak seumuran saya. Perlahan siluet si suami mulai berbentuk.

“Om Ari itu yang mukanya agak panjang gitu kan?” tanya saya ke kenalan baru saya. Dia mengiyakan sambil tersenyum lebar.

Setelah mengobrol, saya meminta nomor telepon om Ari. Ternyata beliau masih aktif menjadi pilot dan sekarang bekerja di sebuah maskapai Korea. Akhirnya saya diberikan nomor istrinya dan saya lantas mengirim sebuah pesan pendek.

Sekedar menyampaikan salam saja.

Salam yang disambut dengan ajakan bertemu malam harinya karena kebetulan sahabat ayah saya sedang berada di Jakarta.

Today in Advertising

19 April, 2010 (17:24) | Hidup | 6 comments

Saya baru menemukan video ini di YouTube. Sepertinya ini dibuat untuk sebuah pesta perpisahan beberapa karyawan di sebuah agensi di Perancis.

Saya akan mencoba untuk menerjemahkannya - dalam bahasa inggris, maafkan saya. :) Dan ada beberapa bagian yang saya lewatkan karena terlalu internal.

Selamat menikmati.

Today in advertising, we are becoming honest; we put legal mention everywhere to warn the consumers we are lying to. But in very little size of course, we don’t want them to read it.

Today in advertising, we use a lot less coke, because it became too popular.

Today in advertising, we know who don’t work by their activities in facebook pages. Some spend their day to tweet. But their superiors would never know; too old to be in Twitter.

Today in advertising, we do the 365 degree, because 360 is too obsolete.

Today in advertising, everybody has shitty salary, except those who will get fired soon.

Today in advertising, we shoot on green screen in studios in some industrial zones, because flying to exotic places is really not eco-responsible. And we really don’t have the budget. So we make do and we say that it’s Gondryism. BUT for group test, we always have money. So we do mood boards, storyboards, storymatic, animatic… and it’s fantastic.

Antara Warung Kopi dan Rumah

6 March, 2010 (17:06) | Hidup | 8 comments

Seorang teman di Twitter menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah empat bulan saya mengabaikan rumah ini; pasti sudah berdebu dan banyak sarang laba-laba.

Apa yang menyebabkan saya mangkir menulis di sini? Sebuah alasan yang selalu saya gunakan adalah tentu saja pekerjaan, dimana semua klien tiba-tiba langsung aktif setelah beberapa lama “beristirahat”. Tapi masa hanya itu?

Saya pun kembali membaca tulisan-tulisan sebelumnya, melihat tanggal mereka diterbitkan. Lah, ternyata frekuensinya pun berkurang. Dulu saya bisa menulis paling lama sebulan dua kali, tapi kok bisa sampai dua bulan sekali? Apakah saya bosan menulis? Rasanya pun tidak. Tidak ada bahan yang menarik? Ah, itu pun bukan alasan karena sepertinya kok dangkal sekali; bukankah saya sendiri selalu bilang bahwa hidup itu selalu penuh dengan cerita?

Akhirnya saya menemukan tersangka yang paling patut dicurigai meskipun lewat dia lah saya baru saja diingatkan untuk menulis blog ini lagi.

Twitter.

Bajingan di layar

29 October, 2009 (12:36) | Layar | 8 comments

Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.

Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.

Quentin Tarantino melakukan kebalikannya.

Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.

Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik pulp yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura blaxploitation dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.

Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.

Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film western yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.

Lima menit…

13 October, 2009 (00:00) | Hidup | 14 comments

Gelas ketiga malam ini.

Hangat.

Tempat ini mulai sepi, beberapa tamu sudah beranjak dari meja mereka. Ada sepasang insan sedang bercengkerama di pojokan, mengobrol santai sambil sesekali melirik ke arah televisi. Di depan sekelompok teman sedang asyik bercanda, melontarkan banyolan dan ejekan ke masing-masing. Santai. Seperti di rumah; rumah adalah dimana teman berada.

Sementara itu para pelayan berbaju oranye berjalan mengitari ruangan atau berdiri di pojokan, menunggu seseorang mengangkat tangan sambil berteriak “mas!” atau “mbak!”.

Tempat ini mulai sepi.

Hanya tawa dan canda terdengar sesekali.

iPod saya melantunkan lagu dari Noir Desir, sebuah rock band Prancis yang selalu menggetarkan hati saya dengan liriknya. Saya pun melirik jam tangan saya.

Masih ada waktu. Lima menit. Tiga ratus detik.

Apa yang telah saya lakukan selama ini?

Begitu banyak pilihan yang saya ambil selama ini, saya sendiri tidak bisa mengutarakannya satu per satu. Tapi ada beberapa yang telah mengubah hidup saya.

Tapi ada satu hal yang menyamakan semua pilihan itu. Hanya saya sendiri yang memilih. Dengan konsekuensi yang saya terima dengan lapang dada, apapun bentuknya.

Empat menit. Dua ratus empat puluh detik.

Bola Sodok…

30 March, 2009 (14:12) | Hidup | 6 comments

Saya punya satu hobi sampingan.

“Apaan tuh, hobi sampingan?”

Hobi sampingan itu adalah hobi yang bisa saya sering lakukan lagi meskipun sudah lama tidak. Dalam kasus ini, hobi sampingan saya adalah bermain bilyar. Saya mulai akrab dengan permainan ini sewaktu kuliah semester satu gara-gara dikompori teman saya. Setiap hari kami berdua bisa menghabiskan waktu di Bengkel Billiard (waktu itu namanya masih Arena) selama minimal 4 jam.

Satu hal yang memberhentikan kami tentu saja adalah masalah finansial; lama-lama kok tabungan kami menipis.

Akhirnya datanglah masa vakuum bilyar pertama saya.

Sekitar dua tahun kemudian, di dekat kampus saya, tepatnya di parkiran bawah tanah Supermal Karawaci, dibuka sebuah tempat bilyar. Di situ lah saya mulai kembali intens bermain bilyar, bahkan sampai belajar ke para pelatnas yang sering main di situ. Dari mulai bermain sendirian sampai akhirnya memberanikan diri ikut turnamen. Saya tidak pernah juara, bahkan masuk ke 10 besar pun belum pernah. Saya ikut turnamen sekedar untuk mengetes mental saya yang ternyata memang tidak terlalu stabil.

Setelah berhenti kuliah dan mulai bekerja, saya hampir tidak pernah bersentuhan dengan meja bilyar lagi. Paling sekedar untuk bersosialisasi atau ikut ajakan teman saya. Tapi saya tidak lagi sengaja datang ke sebuah tempat dan berniat bermain sendiri seperti masa kuliah saya.

Sabtu malam…

23 February, 2009 (20:27) | Hidup | 15 comments

Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir Americano (double espresso ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan laptop-nya. Saya pun melakukan hal yang sama.

Beberapa meja tidak jauh dari kami, terdapat sekelompok teman yang sedang asyik berdiskusi dengan suara cukup keras. Mulanya hal itu lumayan mengganggu saya, tapi kelamaan saya malah ikut menguping pembicaraan mereka. Ya, siapa tahu ada beberapa bahan yang bisa saya masukkan ke sini, hehehe.

Ternyata tawa dan canda mereka mengiringi sebuah topik yang cukup menarik; mereka sedang membicarakan salah satu teman mereka yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang menceritakan kembali kelakuan lucu teman ini dan mereka berbicara seakan teman itu hanya sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada romantisme ataupun melankolisme; semua mengalir begitu saja.

Saya pun berhenti sejenak dan memandang beberapa teman baik saya yang sedang berada di sekitar saya. Ada yang sedang mengobrol di telepon sendiri, ada yang saling bercanda di luar sambil merokok dan ada yang duduk di sebelah saya setelah syuting seharian.

« Older entries