Paralel
Kemarin saya berulangtahun yang ke 34.
Mungkin bukan hal yang spesial buat kebanyakan, tapi ada satu hal yang membuat saya berpikir.
Pada hari Senin lalu, ibunda teman saya meninggal dunia dan dimakamkan dekat tempat beristirahat ayah saya. Ketika saya berkunjung dan melihat nisannya, saya baru sadar dia meninggal beberapa bulan sebelum dia mencapai umur saya sekarang.
Tiba-tiba saya membayangkan dia pada saat itu. Cukup mudah, karena kami berada di umur yang sama, pengalaman hidup yang sama panjangnya dan harapan yang sama - mungkin.
Terus terang seperti yang selalu saya ceritakan, saya tidak terlalu ingat ayah saya secara detil. Saya tidak tahu apa yang dia kerjakan selain dia seorang arsitek, saya tidak tahu masa lalu dia selain dia orangnya terkenal bandel di keluarganya dan saya tidak pernah tahu pasti apa yang dia rasakan tentang saya.
Ya tentunya saya tahu dia menyayangi saya dengan caranya sendiri; dengan cuek.
Bisa dibilang di beberapa lama sebelum dia meninggalkan saya, kami hidup terpisah karena ibu saya harus mengenyam pendidikan di Jogja sehingga saya tinggal dengan nenek saya.
Kami hanya bertemu pada akhir minggu. Biasanya dia mengajak saya jalan-jalan; entah mengunjungi kakaknya atau ikut nongkrong bersama teman-teman dia. Oh, atau ke Pasar Seni Ancol, mengunjungi Om Jarot, seorang seniman tanah liat.


