Kata Rangga

Entries Comments


Oleh-oleh iklan daerah…

11 August, 2008 (12:51) | Hidup | 5 comments

Untuk pertama kalinya, saya minggu lalu menghadiri sebuah ajang periklanan di Yogyakarta yang bernama Pinasthika. Selama ini saya memang selalu mangkir datang ke acara itu karena keterbatasan waktu dan sebenarnya, acara itu tidak penting-penting amat lah.

Paling tidak itu yang saya pikir beberapa tahun yang lalu.

Namun sekitar dua tahun yang lalu, pendapat saya menjadi berubah setelah melihat kesegaran dalam karya-karya yang ditampilkan. Ide-ide yang nyeleneh, kadang tidak peduli pada template periklanan yang baku; semua tampil dengan liar, meledak-ledak. Saya ingat betapa lucu karya dari Srengenge yang mengiklankan sebuah kedai kopi tradisional. Semua yang ada membuat saya percaya bahwa generasi baru periklanan akan bermula dari daerah.

Pinasthika tahun lalu pun mengukuhkan perkiraan saya. Saya senang sekaligus kagum melihat semangat beberapa mahasiswa membentuk sebuah agensi sendiri –dengan klien yang valid- bernama Bohlam Advertising sebagai tempat mereka berlatih dan hebatnya, karya mereka diakui sebagai iklan televisi terbaik pada saat itu.

Saya pun makin tergelitik untuk melihat secara langsung fenomena ini.

Tahun ini, saya dikirim oleh kantor saya untuk menghadiri Pinasthika Award 2008. Wah, saya senang sekali bisa mendapatkan kesempatan ini, siapa tahu saya bisa menemukan beberapa bibit unggul untuk saya bajak nantinya, hehehe.

Satria Kelam…

21 July, 2008 (16:22) | Layar | 10 comments

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan kita; benar dan salah, baik dan jahat, cinta dan benci, hidup dan mati dan seterusnya. Selalu ada pilihan yang akan kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, selalu ada dua cabang yang akan kita pilih.

Apakah kita memilih jalan yang benar atau yang salah, apakah kita memilih untuk mencapai kebahagiaan lewat keteraturan atau kekacauan dan apakah kita akan memilih untuk menyerah atau berjalan terus?

Dan apakah kita akan memilih menyongsong fajar atau menutup jendela rapat sampai cahaya enggan masuk?

Inilah tema utama yang saya lihat di film terbaru dari seri Batman, The Dark Knight; dengan sebuah ideologi dualitas yang sangat kental di setiap menitnya. Christopher dan Jonathan Nolan dengan lancarnya menceritakan sebuah drama klasik tentang baik dan benar dalam sebuah ruangan gelap bernama Gotham City. Ini bukan film action yang penuh dengan warna, ini adalah sebuah lukisan hitam putih dengan sebuah garis kelabu. Lupakan semua seri Batman yang sebelumnya. Babak pertama buat saya dimulai dengan Batman Begins. Saya bahkan tidak menghitung dua film Batman yang dibesut oleh Tim Burton, selain mereka adalah bagian dari sejarah tentunya. Dan tidak usah bertanya tentang film Batman yang lainnya, saya masih trauma melihat Bat-Nipple sampai sekarang.

Adieu…

30 June, 2008 (23:41) | Hidup | 6 comments

Baru-baru ini saya kembali ke salah satu tempat pelarian saya; teras kecil penghubung lantai 4 dan sebuah tangga darurat. Seseorang pernah membawa saya merokok di situ dan setelah itu saya menjadi sering sekali mengunjungi tempat itu.Di tempat itu lah saya biasanya menghabiskan beberapa batang rokok dan mendengarkan musik dari iPod setia saya. Kadang, ketika terjadi sebuah pencerahan, beberapa kalimat akan tertuliskan di sebuah notes kecil atau bahkan terkadang beberapa layout.

Tapi sebisa mungkin saya tidak membawa otak kerja saya ke tempat itu karena di situ lah saya bisa menenangkan pikiran saya, hanya dengan memandangi hamparan kota Jakarta, lengkap dengan jejeran gedung pencakar langitnya.

Sungguh tenang.

Di situ saya bisa melepas diri dari kerjaan, masalah-masalah pribadi atau pun pikiran-pikiran lain yang sedang berseliweran di kepala saya. Saya bisa berdialog dengan saya sendiri.

Dan kemarin ini saya berdiri di situ.

Memandang kota Jakarta di hadapan saya dan merasakan kesibukan kantor saya di punggung.

Hmmm, sebuah gambaran yang sesuai.

Saya akan meninggalkan EuroRSCG/Adwork! menuju sebuah tempat baru dimana saya akan meneruskan karir saya. Tempat yang saya harap bisa memberikan pelajaran-pelajaran baru untuk lebih mengisi hidup saya.

Pagi…

13 June, 2008 (12:35) | Hidup | 7 comments

Ketika saya membuka mata pagi ini, matahari sudah terik melewati tirai jendela kamar saya. Di luar sudah terdengar berbagai kesibukan rumah; pembantu yang hilir mudik, mesin cuci yang berdengung, piring-piring yang sedang dicuci dan tentunya suara TV dengan berita-berita yang sudah lama tidak saya ikuti.

Dengan sedikt malas saya keluar dari kamar saya.

Saya melihat sosoknya di ruang tamu sedang membaca koran diteman sebungkus Surya 16 dan secangkir kopi pekat. Dia menoleh ke arah saya dan tersenyum, “Kesiangan?”

Saya hanya menyengir, “Gara-gara kebangun jam 3, gak bisa tidur lagi akhirnya aku nonton DVD aja. Aku minta sebatang ya, rokokku habis.”

Saya duduk di hadapannya dan menyulut sebatang rokok. Saya merasakan asap perlahan menuruni kerongkongan saya dan menari di dada. Sedikit keliyengan, saya tidak biasa merokok kretek kelas berat seperti ini. Dia menatap saya geli dan berkata, “Padahal dulu kamu pernah bilang gak mau ngerokok seumur hidup.”

“Yah, aku kan baru enam tahun pas disuruh ngicipin.”

Kami berdua tertawa mengingat kejadian itu.

Dia meneruskan membaca koran sementara saya berusaha menikmati rokok itu. Kok susah ya, mungkin memang saya tidak cocok dengan rasanya. Atau seperti yang saya bilang ke manager rokok ini dulu ketika saya ketahuan mengkonsumsi rokok lain, saya mungkin belum pantas.

Rasanya…

28 May, 2008 (16:53) | Layar | 3 comments

Baru-baru ini saya menyewa sebuah film action yang cukup seru. Sebenarnya film ini sudah dirilis cukup lama, tapi saya selalu lupa untuk membelinya. Sehingga sekarang saya tidak bisa lagi menemukannya di toko-toko DVD mana pun.

Film itu berjudul Equilibrium dan diperankan oleh Christian Bale, seorang aktor yang menurut saya sangat cocok untuk peran-peran laga. Alkisah, di sebuah masa depan fiktif, telah terjadi perang dunia ke tiga yang menimbulkan penderitaan yang sangat besar ke masyrakat dunia. Setelah selesai, sebuah negara/kota, Libria, mencanangkan hukum dimana perasaan menjadi ilegal karena dia adalah sumber dari segala tindakan buruk manusia.

Untuk menjaga stabilitas, dibentuklah sebuah satuan khusus bernama Kopass, eh, Grammaton yang berisi Clerics, agen pemberantas Sense Offender. Tugas mereka adalah mencari dan melenyapkan benda-benda yang menggugah perasaan kita seperti karya seni misalnya (musik, lukisan, puisi…) dan para penggunanya. Christian Bale memerankan John Preston, salah satu Cleric yang paling handal.

Ceritanya memang sedikit klise, tapi satu hal yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini adalah adegan laganya yang sering dikatakan sama atau bahkan lebih keren daripada trilogi Matrix.

Dan ternyata memang benar.

Pulau Dewata…

14 May, 2008 (16:54) | Hidup | 12 comments

Beberapa waktu yang lalu saya mengajukan cuti ke bos saya. Dia tahu tim saya telah didera-dera oleh salah satu klien kami yang cukup punya rasa humor dalam soal tenggat waktu. Dia bertanya ke saya, “Kemana, Jogja?”

“Nggak, gua mau ke Bali.”

Dia memandang saya dan tersenyum, “Ah, liburan kok gak kreatif.. kesana mulu.”

Tiba-tiba terlintas di benak saya, benar juga ya, hampir setiap kali saya mengajukan cuti pasti dengan alasan mau ke Bali. Sambil berjalan ke meja sekretaris kreatif untuk memberikan surat, saya memikirkan hal itu.

Beberapa hari yang lalu kebetulan saya diberikan kesempatan oleh kantor saya untuk “bertugas” di Bali. Intinya sebenarnya menemani klien yang sedang meninjau sebuah acara yang mereka sponsori, tapi saya beserta beberapa teman dari bagian kreatif menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi Legian dan sekitarnya. Kami sangat menikmati jeda dari rutinitas harian kami.

Malam minggu kemarin, setelah makan malam dan karaoke bersama klien, saya memilih untuk berjalan kaki ke arah hotel daripada naik mobil melewati kemacetan Legian yang luar biasa. Saya pun berjalan menyusuri pantai, menikmati terpaan angin dan basuhan ombak di telapak kaki saya.

Kendala kendara…

24 April, 2008 (20:32) | Hidup | 13 comments

Sampai saat ini saya belum mempunyai kendaraan sendiri. Entah kenapa, benda yang satu itu selalu saya kesampingkan dalam daftar prioritas saya, meskipun ada suara kecil yang berkata, “Ayo laaah, bisa kok beli mobil…” Tapi saya kok masih belum tertarik ya?

Selama ini saya berpergian dengan mengandalkan angkutan umum. Saya selalu kagum dengan semua warna kehidupan yang menghiasinya. Dulu ketika saya masih tinggal di daerah Rempoa, saya selalu setia naik bis untuk pergi ke kantor saya yang terletak di Tebet. Rutinitas saya adalah bangun jam 7 pagi, menunggu jam 8.30 untuk berangkat dan menikmati perjalanan selama sekitar satu setengah jam dengan berbagai medium: Metro Mini, bis dan akhirnya ojek (biar gak becek, halah).

Dan saya senang melihat hal-hal yang terjadi sepanjang perjalanan. Kadang saya suka iseng membeli barang-barang murah meriah yang dijajakan di Metro Mini menjelang masuk terminal Blok M. Ada pulpen Rp 1.000,- dapat dua biji, lem super kuat yang akhirnya bakal luntur juga setelah beberapa bulan, buku notes kecil, peniti (saya dulu pernah butuh banyak, lumayan, Rp 1.000,- dapat banyak), TTS (hehehe… gak pernah kelar) dan banyak pernik lainnya. Belum lagi penumpangnya, mau dari mbak-mbak wangi sampai anak-anak SD bau matahari. Agak aneh, kok pagi-pagi sudah beraroma begitu, padahal kan mereka belum beraktivitas.

Dunia lain…

3 April, 2008 (18:41) | Hidup | 14 comments

Saya masih ingat pertama kali saya berkenalan dengan dunia internet. Waktu itu sekitar tahun 1997 kalau tidak salah. Yah, memang sih, saya sedikit telat. Sementara yang lain sudah asyik chatting di mIRC, saya masih terkagum-kagum dengan banyaknya situs berlabel “sex” di mesin pencari Yahoo. Saya menggunakan media internet dulu untuk mencari lirik lagu, berita-berita dari Indonesia dan juga chatting menggunakan situs bernama Alamak. Pokoknya saya dulu benar-benar gaptek deh. Oh, dan pada saat itu saya akhirnya mempunyai alamat email memakai jasa Hotmail. Rasanya dulu keren banget punya benda itu; hal yang sekarang sudah menjadi sangat umum.

Setelah saya kembali ke Indonesia, saya sempat vakum berinternetan sekitar dua sampai tiga tahun. Alasannya sederhana: saya tidak mempunyai akses di rumah. Tapi ya sudah lah, wong saya tidak butuh-butuh amat.

Suatu hari saya berjalan-jalan ke sebuah pertokoan di seberang tempat tinggal saya. Ternyata ada sebuah warnet yang pada saat itu cukup cepat koneksinya. Murah lagi. Akhirnya saya pun mulai kembali mengunjungi dunia maya itu. Saya mulai menelusuri setiap pojokannya. Kalau internet adalah sebuah kota, maka saya sudah jalan-jalan dari daerah glamornya sampai ke red light district-nya, hehehe.

Judeeeeee…

24 March, 2008 (17:11) | Hidup | 4 comments

Saya sebenarnya bukan seorang pemain kartu. Saya ingat sewaktu kecil dulu saya tidak pernah terlalu antusias dengan yang namanya kuartet –walaupun saya suka gambar-gambarnya-, empat satu, cangkulan dan lain-lain. Satu, karena permainan seperti itu terlalu mengandalkan keberuntungan dan dua, seringkali bermain kartu seperti truf mengharuskan saya berhitung dan ketiga, uhmm, biasanya saya kalah terus.

Sewaktu SMA, kelas saya mengadakan sebuah studi wisata yang kebetulan lumayan berjarak dari kota dimana saya tinggal. Kami pun menggunakan kereta api dan lama perjalanannya sekitar 9 jam. Untuk mengisi waktu, ada yang hanya ngobrol-ngobrol, ada yang tidur, ada yang asik masyuk berpacaran, ada yang main gitar dan ada sekelompok teman saya yang iseng bermain kartu. Karena saya bosan memainkan gitar saya dengan lagu yang itu-itu saja, saya pun ikut bergabung.

Oh, ternyata mereka sedang bermain poker. Kebetulan saya cukup tahu caranya karena permainan ini adalah syarat mutlak untuk menyelesaikan sebuah game komputer bernama Police Quest. Ya sudah lah, saya ikut saja. Mula-mula tentu saja kami bermain hanya untuk iseng, tapi kok akhirnya malah taruhan uang walaupun hanya dalam hitungan sen. Ternyata saya jadi makin suka, bahkan sangat bersemangat. Ditambah lagi pada saat itu saya sangat beruntung mendapatkan dua kombinasi paling berharga dalam poker; empat as dan royal flush (urut dari 10 sampai as, bunga sama). Tapi peruntungan bukan satu-satunya faktor dalam poker. Ada yang namanya bluff alias sok punya kartu bagus tapi sebenernya tidak sehingga lawan jadi mengkeret.

Ada apa dengan Ayat-Ayat Cinta?

17 March, 2008 (20:58) | Layar | 16 comments

Dua tahun yang lalu saya direkomendasikan membaca sebuah buku yang tadinya saya hanya pandang sebelah mata. Terus terang saya pada saat itu terjebak dengan ungkapan “menilai buku hanya dari sampulnya” secara harafiah. Wong pada saat itu – dan sampai sekarang -, rak best-sellers di Gramedia dipenuhi oleh buku-buku bernuansa agama; dari tafsiran, riwayat sahabat Nabi, analisa, panduan hidup dan sebagainya. Tak terlintas sedikit pun buku itu akan mengubah pandangan saya terhadap tulisan dengan subyek berbau agama.

Ayat-Ayat Cinta ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy, seorang dai, novelis dan penyair. Novel ini mengambil kesehariannya ketika sedang mengenyam pendidikan di universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Kehidupan yang menurut saya tergambar dengan baik dalam novel tersebut. Saya melahap cerita yang tertutur dengan santai dan tanpa pretensi, bahkan dalam adegan-adegan “penyuluhan” pun saya tidak merasa digurui; saya bahkan menyerapnya dengan suka rela.

Itulah kekuatan Ayat-Ayat Cinta sebagai karya islami. Ajaran yang sangat mudah untuk ditolak tiba-tiba menjadi ringan, seperti asap kretek yang mulus melewati kerongkongan walau lebih berat kandungan nikotinnya daripada rokok putih. Saya pun menjadi lebih mengerti agama yang tertera di KTP saya dan saya menemukan esensi Islam yang banyak orang lupakan: sebuah agama yang sangat toleran.

« Older entries