Kata Rangga

Entries Comments


Bola Sodok…

30 March, 2009 (14:12) | Hidup | 5 comments

Saya punya satu hobi sampingan.

“Apaan tuh, hobi sampingan?”

Hobi sampingan itu adalah hobi yang bisa saya sering lakukan lagi meskipun sudah lama tidak. Dalam kasus ini, hobi sampingan saya adalah bermain bilyar. Saya mulai akrab dengan permainan ini sewaktu kuliah semester satu gara-gara dikompori teman saya. Setiap hari kami berdua bisa menghabiskan waktu di Bengkel Billiard (waktu itu namanya masih Arena) selama minimal 4 jam.

Satu hal yang memberhentikan kami tentu saja adalah masalah finansial; lama-lama kok tabungan kami menipis.

Akhirnya datanglah masa vakuum bilyar pertama saya.

Sekitar dua tahun kemudian, di dekat kampus saya, tepatnya di parkiran bawah tanah Supermal Karawaci, dibuka sebuah tempat bilyar. Di situ lah saya mulai kembali intens bermain bilyar, bahkan sampai belajar ke para pelatnas yang sering main di situ. Dari mulai bermain sendirian sampai akhirnya memberanikan diri ikut turnamen. Saya tidak pernah juara, bahkan masuk ke 10 besar pun belum pernah. Saya ikut turnamen sekedar untuk mengetes mental saya yang ternyata memang tidak terlalu stabil.

Setelah berhenti kuliah dan mulai bekerja, saya hampir tidak pernah bersentuhan dengan meja bilyar lagi. Paling sekedar untuk bersosialisasi atau ikut ajakan teman saya. Tapi saya tidak lagi sengaja datang ke sebuah tempat dan berniat bermain sendiri seperti masa kuliah saya.

Sabtu malam…

23 February, 2009 (20:27) | Hidup | 14 comments

Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir Americano (double espresso ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan laptop-nya. Saya pun melakukan hal yang sama.

Beberapa meja tidak jauh dari kami, terdapat sekelompok teman yang sedang asyik berdiskusi dengan suara cukup keras. Mulanya hal itu lumayan mengganggu saya, tapi kelamaan saya malah ikut menguping pembicaraan mereka. Ya, siapa tahu ada beberapa bahan yang bisa saya masukkan ke sini, hehehe.

Ternyata tawa dan canda mereka mengiringi sebuah topik yang cukup menarik; mereka sedang membicarakan salah satu teman mereka yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang menceritakan kembali kelakuan lucu teman ini dan mereka berbicara seakan teman itu hanya sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada romantisme ataupun melankolisme; semua mengalir begitu saja.

Saya pun berhenti sejenak dan memandang beberapa teman baik saya yang sedang berada di sekitar saya. Ada yang sedang mengobrol di telepon sendiri, ada yang saling bercanda di luar sambil merokok dan ada yang duduk di sebelah saya setelah syuting seharian.

Antara Pintu dan Sorban…

26 January, 2009 (19:21) | Layar | 4 comments

Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik Pintu Terlarang ini.

Saya kadang bertemu Joko di tempat saya ngupi dan dari situ saya kurang lebih tahu seperti apa dia; dia adalah seorang pencinta film dengan gairah yang tinggi -terserah mau diartikan apa :)-. Hal ini memberikan saya sebuah ekspektasi tertentu untuk film ini.

Ketika film dimulai, dari sinematografi dan nuansa, muncul kecurigaan bahwa Joko banyak terpengaruh dengan koleksi film noir-nya; lebih terbukti lagi dengan desain opening title yang sangat kental dengan nuansa komik pulp tahun 20an yang membuat saya tersenyum gembira -geek-. Apalagi ditambah dengan sebuah kota khayalan dengan poster dan billboard optimis yang membuat dunia ini menjadi lebih kontradiktif.

Surat Pendek…

29 December, 2008 (16:18) | Hidup | 8 comments

Maaf aku baru bisa menulis surat ini sekarang.

Salah satu sahabatku baru saja kehilangan ayahnya dan karena beberapa hal, aku tidak sempat mengirimkan tulisan ini pada hari itu.

Ketika aku bertemu dengan dia di pemakaman, aku tidak berkata apa pun selain “it’s ok…” karena tidak ada kata lain yang bisa meredam pedihnya. Aku hanya bisa memeluk dirinya erat dan aku tahu, hanya itu yang dia butuhkan dari aku; bukan nasihat, bukan kalimat menghibur. Dia hanya butuh untuk tahu aku ada untuk dia pada saat itu.

Karena kepedihan itu hal yang sangat pribadi.

22 tahun yang lalu aku mengalami hal yang sama. Ingat kan ketika aku hanya bisa memeluk tanpa bisa berkata-kata sementara Mama menjeritkan nama Papa di samping tanah yang masih merah. Maafkan aku telah berbohong selama seminggu mengatakan dia ada di ruangan sebelah, tapi itu adalah hal yang terbaik karena Mama tidak akan bisa menerima kenyataan itu sementara kondisi fisik Mama masih lemah.

Sepuluh tahun kemudian hal yang sama terjadi lagi. Aku hanya bisa memandang Mama terbaring tenang. Walau aku merasa siap menerima kenyataan itu, aku tidak tahu aku akan merasa sakitnya lama kemudian. Bukan pada saat garis itu menjadi rata, bukan pada saat tanah menyelimuti Mama dan bukan saat aku terdiam di rumah beberapa malam setelahnya.

Nonton yuk!

6 December, 2008 (15:52) | Hidup, Layar | 6 comments

Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.

Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum pemutaran film utama selalu ada trailer dan kebetulan pada saat itu yang diputar adalah trailer film horor. Nah, sebagai anak berumur 6 tahun, saya harus berhadapan dengan sebuah tangan terpotong yang berjalan menyusuri tangga bak laba-laba dan adegan itu disorotkan ke layar yang lebar selebar-lebarnya. Bayangkan, tangan sebesar itu di depan saya. Saking takutnya, saya tidak bisa menutup mata.

Saya bahkan sampai tidak ingat alur film Zorro itu. Yang ada di dalam kepala saya adalah potongan tangan yang merambat pelan. Ya sudah lah, saya pada saat itu langsung memutuskan tidak akan masuk ke dalam bioskop, kalau bisa bahkan seumur hidup.

Citra Pariwara 2008…

15 November, 2008 (17:26) | Hidup, Iklan | 5 comments

Sebuah pesta berakhir sudah. Paling tidak untuk tahun ini.

Citra Pariwara merupakan sebuah ajang unjuk gigi di industri periklanan yang paling ditunggu-tunggu, setidaknya oleh para praktisinya. Namun ada satu hal yang berbeda saat ini; tempat acara dipindah ke Senayan City. Saya pribadi sangat senang karena saya bisa melihat dengan langsung reaksi masyarakat awam terhadap iklan-iklan yang diikutkan dalam kompetisi ini. Biasanya acara ini diselenggarakan di tempat yang tertutup. Ruang yang terbuka ini memberikan sebuah insight yang lebih jelas ke kami khususnya, apa sih sebenarnya reaksi orang melihat iklan “aneh”?

Ternyata reaksi yang timbul berbeda-beda; seorang ibu terlihat bingung melihat sebuah iklan sampai harus mendekatinya jarak lima sentimeter, seorang anak langsung minta dibelikan es krim melihat sebuah iklan bervisual itu dan lucunya, ada seseorang yang sampai datang dua kali untuk, tolong pegangan, MEMBELI salah satu karya yang dipajang.

Apakah artinya fenomena ini? Buat saya, masyarakat sudah bisa menikmati iklan sebagai karya seni. Jarak antara mereka dan karya sudah semakin sempit. Karena kita sering lupa bahwa sebenarnya masyarakat sudah berubah; mereka juga bergerak walaupun mungkin tidak secepat yang kita inginkan, tapi mereka bergerak.

Kejang…

26 October, 2008 (23:04) | Hidup, Layar | 4 comments

Foto didapat dari beckermanphoto.com

Minggu siang tadi saya isi dengan menonton film dokumenter mengenai breakdancing yang berjudul Planet B-Boy. Film ini bukan sekedar mengulas sejarah tentang seni itu, namun lebih menuturkan perjalanan dari beberapa tim, atau yang lebih sering disebut crew, dari empat negara yang berbeda menuju sebuah ajang lomba paling besar: Battle of the Year. Sebelum membicarakan ini lebih lanjut, mari kita sedikit kembali ke masa lalu.

Terus terang saya sangat suka dengan seni tari ini. Saya banyak mengunduh video-video dari beberapa jagoan breakdance sekedar untuk menikmati saja, karena saya yakin badan saya akan menolak dengan keras melakukan gerakan-gerakan yang, weleh-weleh, rumit tenan.

Saya ingat sekitar tahun 80an, saya menonton salah satu film WarKop -lupa judulnya- dimana ada sebuah pesta kecil yang menampilkan beberapa pemuda menari kejang. Wah, saya dulu semangat sekali menirukan gerakan “memegang kaca”, hehehe. Tapi kelenturan dari penari-penari itu membuat saya kagum. Setelah mencoba beberapa gaya rumit yang membuat badan saya kejang betulan, akhirnya saya menyerah. Sudah lah, itu bukan buat saya.

Pelangi di layar…

5 October, 2008 (14:39) | Layar | 7 comments

Foto dari situs resmi Laskar Pelangi

Ada sebuah cerita tentang seorang pematung yang sangat handal; semua yang dia pahat selalu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Pada suatu hari, dia ditanya oleh salah seorang pengagumnya; bagaimana caranya dia bisa membuat sebuah patung gajah yang sangat indah. Dia hanya menjawab, “Saya hanya membuang apa yang tidak berbentuk gajah.”

Mengadaptasi sebuah cerita novel dalam bentuk film bukanlah hal yang mudah karena penerimaan isi dari kedua media itu berbeda di penikmatnya. Sebuah novel selalu mempunyai dua penulis; si pengarang dan pembacanya, di mana mereka akan melewati cerita itu dengan pengalaman masing-masing. Hal ini akan menghasilkan sebuah interpretasi unik pada setiap cerita karena pada akhirnya, dunia yang terbangun dalam pikiran pembaca akan berbeda-beda.

Film sebagai media audio visual tidak akan menyisakan banyak ruang untuk imajinasi kita. Penonton bisa dibilang hanya menelan apa yang disajikan oleh pencipta film itu tanpa harus turut membangun dunia baru dalam diri mereka.

Menyadur sebuah novel dalam bentuk film akhirnya menjadi sebuah situasi yang cukup rumit karena sutradara harus bisa menyajikan sebuah dunia yang sesuai dengan ekspektasi penontonnya. Apalagi untuk sebuah novel sekaliber Laskar Pelangi yang tercatat sebagai salah satu buku yang paling laris akhir-akhir ini.

Takut…

22 September, 2008 (20:17) | Hidup | 5 comments

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film besutan Robert Redford berjudul Lions for Lambs yang sedikit memberikan saya sebuah kejutan menyenangkan. Film itu menceritakan tiga kisah yang berlangsung dalam waktu yang bersamaan; sebuah wawancara antara seorang senator dan reporter, sebuah diskusi antara seorang dosen dan mahasiswanya dan sebuah misi militer di Afganistan.

Ada satu dialog yang terekam di kepala saya; ketika si mahasiswa mulai berargumen, si dosen yang diperankan dengan wajar oleh Robert Redford sendiri hanya mengutarakan satu hal: “Apa yang kamu takutkan? Semua orang melakukan sesuatu karena takut.”

Takut.

Dosen itu kemudian mengelaborasi lebih lanjut dengan mengatakan bahwa semua orang punya ketakutan yang membuatnya terus berjalan; kehilangan keluarga, jatuh miskin, kehilangan kebebasan dan masih banyak hal lainnya.

“Apa yang kamu takutkan dalam hidup?” tanyanya lagi ke mahasiswa itu.

Saya melihat ke layar televisi dan melihat mata biru Robert Redford menatap saya tajam; tiba-tiba saya merasa pertanyaan itu juga ditujukan ke saya. Setelah film itu habis, saya pun mulai memikirkan jawaban pertanyaan tadi.

Hmmm…

1 September, 2008 (14:03) | Hidup | 10 comments

Sekumpulan wanita muda sedang bergunjing di teras sebuah gerai kopi internasional. Sambil menyeruput kopi, salah satu dari mereka tiba-tiba berseru, “Eh bo, jangan lupa ya minggu depan buka puasa bareng!”

Temannya pun menyambar, “Oh penting banget tuh, kita ke resto itali baru itu aja di Kemang, katanya pastanya bener-bener enak!”

“Eh, tapi mahal gak?”

“Ah, paling pek go per orang lah, santai kan?”

Muka mereka pun berbinar merencanakan reriungan nanti.

—–

Sementara di tempat lain, di sebuah rumah di bilangan mewah ibukota, beberapa ibu tengah baya sedang saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tentang anak yang sedang kuliah di luar negeri, suami yang sibuk bekerja, mahalnya BBM sehingga harus mulai mengirit dengan tidak membeli tas baru. Begitu banyak topik yang seakan tidak pernah habis. Salah satu dari mereka pun berkata, “Jeng, jangan lupa ya nanti tanggal 13 buka puasa di rumahku, sekalian silaturahim kan…”

“Wah, kok tumben-tumbenan, Mbak?”

“Iya, sekalian anakku juga lagi di Jakarta. Nanti aku juga manggil Ustad Ujep, itu lho yang ngguanteng, hehehe.”

“Pasti seru ya, Mbak. Ngundang siapa aja?”

“Ah, yang pasti keluarga dan temen-temen deket aja, paling cuma seratusan orang.”

—–

« Older entries