Kata Rangga

Entries Comments


Today in Advertising

19 April, 2010 (17:24) | Hidup | 6 comments

Saya baru menemukan video ini di YouTube. Sepertinya ini dibuat untuk sebuah pesta perpisahan beberapa karyawan di sebuah agensi di Perancis.

Saya akan mencoba untuk menerjemahkannya - dalam bahasa inggris, maafkan saya. :) Dan ada beberapa bagian yang saya lewatkan karena terlalu internal.

Selamat menikmati.

Today in advertising, we are becoming honest; we put legal mention everywhere to warn the consumers we are lying to. But in very little size of course, we don’t want them to read it.

Today in advertising, we use a lot less coke, because it became too popular.

Today in advertising, we know who don’t work by their activities in facebook pages. Some spend their day to tweet. But their superiors would never know; too old to be in Twitter.

Today in advertising, we do the 365 degree, because 360 is too obsolete.

Today in advertising, everybody has shitty salary, except those who will get fired soon.

Today in advertising, we shoot on green screen in studios in some industrial zones, because flying to exotic places is really not eco-responsible. And we really don’t have the budget. So we make do and we say that it’s Gondryism. BUT for group test, we always have money. So we do mood boards, storyboards, storymatic, animatic… and it’s fantastic.

Antara Warung Kopi dan Rumah

6 March, 2010 (17:06) | Hidup | 8 comments

Seorang teman di Twitter menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah empat bulan saya mengabaikan rumah ini; pasti sudah berdebu dan banyak sarang laba-laba.

Apa yang menyebabkan saya mangkir menulis di sini? Sebuah alasan yang selalu saya gunakan adalah tentu saja pekerjaan, dimana semua klien tiba-tiba langsung aktif setelah beberapa lama “beristirahat”. Tapi masa hanya itu?

Saya pun kembali membaca tulisan-tulisan sebelumnya, melihat tanggal mereka diterbitkan. Lah, ternyata frekuensinya pun berkurang. Dulu saya bisa menulis paling lama sebulan dua kali, tapi kok bisa sampai dua bulan sekali? Apakah saya bosan menulis? Rasanya pun tidak. Tidak ada bahan yang menarik? Ah, itu pun bukan alasan karena sepertinya kok dangkal sekali; bukankah saya sendiri selalu bilang bahwa hidup itu selalu penuh dengan cerita?

Akhirnya saya menemukan tersangka yang paling patut dicurigai meskipun lewat dia lah saya baru saja diingatkan untuk menulis blog ini lagi.

Twitter.

Bajingan di layar

29 October, 2009 (12:36) | Layar | 8 comments

Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.

Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.

Quentin Tarantino melakukan kebalikannya.

Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.

Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik pulp yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura blaxploitation dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.

Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.

Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film western yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.

Lima menit…

13 October, 2009 (00:00) | Hidup | 14 comments

Gelas ketiga malam ini.

Hangat.

Tempat ini mulai sepi, beberapa tamu sudah beranjak dari meja mereka. Ada sepasang insan sedang bercengkerama di pojokan, mengobrol santai sambil sesekali melirik ke arah televisi. Di depan sekelompok teman sedang asyik bercanda, melontarkan banyolan dan ejekan ke masing-masing. Santai. Seperti di rumah; rumah adalah dimana teman berada.

Sementara itu para pelayan berbaju oranye berjalan mengitari ruangan atau berdiri di pojokan, menunggu seseorang mengangkat tangan sambil berteriak “mas!” atau “mbak!”.

Tempat ini mulai sepi.

Hanya tawa dan canda terdengar sesekali.

iPod saya melantunkan lagu dari Noir Desir, sebuah rock band Prancis yang selalu menggetarkan hati saya dengan liriknya. Saya pun melirik jam tangan saya.

Masih ada waktu. Lima menit. Tiga ratus detik.

Apa yang telah saya lakukan selama ini?

Begitu banyak pilihan yang saya ambil selama ini, saya sendiri tidak bisa mengutarakannya satu per satu. Tapi ada beberapa yang telah mengubah hidup saya.

Tapi ada satu hal yang menyamakan semua pilihan itu. Hanya saya sendiri yang memilih. Dengan konsekuensi yang saya terima dengan lapang dada, apapun bentuknya.

Empat menit. Dua ratus empat puluh detik.

Bola Sodok…

30 March, 2009 (14:12) | Hidup | 6 comments

Saya punya satu hobi sampingan.

“Apaan tuh, hobi sampingan?”

Hobi sampingan itu adalah hobi yang bisa saya sering lakukan lagi meskipun sudah lama tidak. Dalam kasus ini, hobi sampingan saya adalah bermain bilyar. Saya mulai akrab dengan permainan ini sewaktu kuliah semester satu gara-gara dikompori teman saya. Setiap hari kami berdua bisa menghabiskan waktu di Bengkel Billiard (waktu itu namanya masih Arena) selama minimal 4 jam.

Satu hal yang memberhentikan kami tentu saja adalah masalah finansial; lama-lama kok tabungan kami menipis.

Akhirnya datanglah masa vakuum bilyar pertama saya.

Sekitar dua tahun kemudian, di dekat kampus saya, tepatnya di parkiran bawah tanah Supermal Karawaci, dibuka sebuah tempat bilyar. Di situ lah saya mulai kembali intens bermain bilyar, bahkan sampai belajar ke para pelatnas yang sering main di situ. Dari mulai bermain sendirian sampai akhirnya memberanikan diri ikut turnamen. Saya tidak pernah juara, bahkan masuk ke 10 besar pun belum pernah. Saya ikut turnamen sekedar untuk mengetes mental saya yang ternyata memang tidak terlalu stabil.

Setelah berhenti kuliah dan mulai bekerja, saya hampir tidak pernah bersentuhan dengan meja bilyar lagi. Paling sekedar untuk bersosialisasi atau ikut ajakan teman saya. Tapi saya tidak lagi sengaja datang ke sebuah tempat dan berniat bermain sendiri seperti masa kuliah saya.

Sabtu malam…

23 February, 2009 (20:27) | Hidup | 15 comments

Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir Americano (double espresso ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan laptop-nya. Saya pun melakukan hal yang sama.

Beberapa meja tidak jauh dari kami, terdapat sekelompok teman yang sedang asyik berdiskusi dengan suara cukup keras. Mulanya hal itu lumayan mengganggu saya, tapi kelamaan saya malah ikut menguping pembicaraan mereka. Ya, siapa tahu ada beberapa bahan yang bisa saya masukkan ke sini, hehehe.

Ternyata tawa dan canda mereka mengiringi sebuah topik yang cukup menarik; mereka sedang membicarakan salah satu teman mereka yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang menceritakan kembali kelakuan lucu teman ini dan mereka berbicara seakan teman itu hanya sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada romantisme ataupun melankolisme; semua mengalir begitu saja.

Saya pun berhenti sejenak dan memandang beberapa teman baik saya yang sedang berada di sekitar saya. Ada yang sedang mengobrol di telepon sendiri, ada yang saling bercanda di luar sambil merokok dan ada yang duduk di sebelah saya setelah syuting seharian.

Antara Pintu dan Sorban…

26 January, 2009 (19:21) | Layar | 4 comments

Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik Pintu Terlarang ini.

Saya kadang bertemu Joko di tempat saya ngupi dan dari situ saya kurang lebih tahu seperti apa dia; dia adalah seorang pencinta film dengan gairah yang tinggi -terserah mau diartikan apa :)-. Hal ini memberikan saya sebuah ekspektasi tertentu untuk film ini.

Ketika film dimulai, dari sinematografi dan nuansa, muncul kecurigaan bahwa Joko banyak terpengaruh dengan koleksi film noir-nya; lebih terbukti lagi dengan desain opening title yang sangat kental dengan nuansa komik pulp tahun 20an yang membuat saya tersenyum gembira -geek-. Apalagi ditambah dengan sebuah kota khayalan dengan poster dan billboard optimis yang membuat dunia ini menjadi lebih kontradiktif.

Surat Pendek…

29 December, 2008 (16:18) | Hidup | 10 comments

Maaf aku baru bisa menulis surat ini sekarang.

Salah satu sahabatku baru saja kehilangan ayahnya dan karena beberapa hal, aku tidak sempat mengirimkan tulisan ini pada hari itu.

Ketika aku bertemu dengan dia di pemakaman, aku tidak berkata apa pun selain “it’s ok…” karena tidak ada kata lain yang bisa meredam pedihnya. Aku hanya bisa memeluk dirinya erat dan aku tahu, hanya itu yang dia butuhkan dari aku; bukan nasihat, bukan kalimat menghibur. Dia hanya butuh untuk tahu aku ada untuk dia pada saat itu.

Karena kepedihan itu hal yang sangat pribadi.

22 tahun yang lalu aku mengalami hal yang sama. Ingat kan ketika aku hanya bisa memeluk tanpa bisa berkata-kata sementara Mama menjeritkan nama Papa di samping tanah yang masih merah. Maafkan aku telah berbohong selama seminggu mengatakan dia ada di ruangan sebelah, tapi itu adalah hal yang terbaik karena Mama tidak akan bisa menerima kenyataan itu sementara kondisi fisik Mama masih lemah.

Sepuluh tahun kemudian hal yang sama terjadi lagi. Aku hanya bisa memandang Mama terbaring tenang. Walau aku merasa siap menerima kenyataan itu, aku tidak tahu aku akan merasa sakitnya lama kemudian. Bukan pada saat garis itu menjadi rata, bukan pada saat tanah menyelimuti Mama dan bukan saat aku terdiam di rumah beberapa malam setelahnya.

Nonton yuk!

6 December, 2008 (15:52) | Hidup, Layar | 6 comments

Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.

Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum pemutaran film utama selalu ada trailer dan kebetulan pada saat itu yang diputar adalah trailer film horor. Nah, sebagai anak berumur 6 tahun, saya harus berhadapan dengan sebuah tangan terpotong yang berjalan menyusuri tangga bak laba-laba dan adegan itu disorotkan ke layar yang lebar selebar-lebarnya. Bayangkan, tangan sebesar itu di depan saya. Saking takutnya, saya tidak bisa menutup mata.

Saya bahkan sampai tidak ingat alur film Zorro itu. Yang ada di dalam kepala saya adalah potongan tangan yang merambat pelan. Ya sudah lah, saya pada saat itu langsung memutuskan tidak akan masuk ke dalam bioskop, kalau bisa bahkan seumur hidup.

Citra Pariwara 2008…

15 November, 2008 (17:26) | Hidup, Iklan | 5 comments

Sebuah pesta berakhir sudah. Paling tidak untuk tahun ini.

Citra Pariwara merupakan sebuah ajang unjuk gigi di industri periklanan yang paling ditunggu-tunggu, setidaknya oleh para praktisinya. Namun ada satu hal yang berbeda saat ini; tempat acara dipindah ke Senayan City. Saya pribadi sangat senang karena saya bisa melihat dengan langsung reaksi masyarakat awam terhadap iklan-iklan yang diikutkan dalam kompetisi ini. Biasanya acara ini diselenggarakan di tempat yang tertutup. Ruang yang terbuka ini memberikan sebuah insight yang lebih jelas ke kami khususnya, apa sih sebenarnya reaksi orang melihat iklan “aneh”?

Ternyata reaksi yang timbul berbeda-beda; seorang ibu terlihat bingung melihat sebuah iklan sampai harus mendekatinya jarak lima sentimeter, seorang anak langsung minta dibelikan es krim melihat sebuah iklan bervisual itu dan lucunya, ada seseorang yang sampai datang dua kali untuk, tolong pegangan, MEMBELI salah satu karya yang dipajang.

Apakah artinya fenomena ini? Buat saya, masyarakat sudah bisa menikmati iklan sebagai karya seni. Jarak antara mereka dan karya sudah semakin sempit. Karena kita sering lupa bahwa sebenarnya masyarakat sudah berubah; mereka juga bergerak walaupun mungkin tidak secepat yang kita inginkan, tapi mereka bergerak.

« Older entries