Antara Warung Kopi dan Rumah

Seorang teman di Twitter menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah empat bulan saya mengabaikan rumah ini; pasti sudah berdebu dan banyak sarang laba-laba.
Apa yang menyebabkan saya mangkir menulis di sini? Sebuah alasan yang selalu saya gunakan adalah tentu saja pekerjaan, dimana semua klien tiba-tiba langsung aktif setelah beberapa lama “beristirahat”. Tapi masa hanya itu?
Saya pun kembali membaca tulisan-tulisan sebelumnya, melihat tanggal mereka diterbitkan. Lah, ternyata frekuensinya pun berkurang. Dulu saya bisa menulis paling lama sebulan dua kali, tapi kok bisa sampai dua bulan sekali? Apakah saya bosan menulis? Rasanya pun tidak. Tidak ada bahan yang menarik? Ah, itu pun bukan alasan karena sepertinya kok dangkal sekali; bukankah saya sendiri selalu bilang bahwa hidup itu selalu penuh dengan cerita?
Akhirnya saya menemukan tersangka yang paling patut dicurigai meskipun lewat dia lah saya baru saja diingatkan untuk menulis blog ini lagi.
Twitter.



