Kata Rangga

Entries Comments


Category: Layar

Bajingan di layar

29 October, 2009 (12:36) | Layar | 8 comments

Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.

Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.

Quentin Tarantino melakukan kebalikannya.

Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.

Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik pulp yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura blaxploitation dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.

Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.

Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film western yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.

Antara Pintu dan Sorban…

26 January, 2009 (19:21) | Layar | 4 comments

Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik Pintu Terlarang ini.

Saya kadang bertemu Joko di tempat saya ngupi dan dari situ saya kurang lebih tahu seperti apa dia; dia adalah seorang pencinta film dengan gairah yang tinggi -terserah mau diartikan apa :)-. Hal ini memberikan saya sebuah ekspektasi tertentu untuk film ini.

Ketika film dimulai, dari sinematografi dan nuansa, muncul kecurigaan bahwa Joko banyak terpengaruh dengan koleksi film noir-nya; lebih terbukti lagi dengan desain opening title yang sangat kental dengan nuansa komik pulp tahun 20an yang membuat saya tersenyum gembira -geek-. Apalagi ditambah dengan sebuah kota khayalan dengan poster dan billboard optimis yang membuat dunia ini menjadi lebih kontradiktif.

Nonton yuk!

6 December, 2008 (15:52) | Hidup, Layar | 6 comments

Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.

Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum pemutaran film utama selalu ada trailer dan kebetulan pada saat itu yang diputar adalah trailer film horor. Nah, sebagai anak berumur 6 tahun, saya harus berhadapan dengan sebuah tangan terpotong yang berjalan menyusuri tangga bak laba-laba dan adegan itu disorotkan ke layar yang lebar selebar-lebarnya. Bayangkan, tangan sebesar itu di depan saya. Saking takutnya, saya tidak bisa menutup mata.

Saya bahkan sampai tidak ingat alur film Zorro itu. Yang ada di dalam kepala saya adalah potongan tangan yang merambat pelan. Ya sudah lah, saya pada saat itu langsung memutuskan tidak akan masuk ke dalam bioskop, kalau bisa bahkan seumur hidup.

Kejang…

26 October, 2008 (23:04) | Hidup, Layar | 4 comments

Foto didapat dari beckermanphoto.com

Minggu siang tadi saya isi dengan menonton film dokumenter mengenai breakdancing yang berjudul Planet B-Boy. Film ini bukan sekedar mengulas sejarah tentang seni itu, namun lebih menuturkan perjalanan dari beberapa tim, atau yang lebih sering disebut crew, dari empat negara yang berbeda menuju sebuah ajang lomba paling besar: Battle of the Year. Sebelum membicarakan ini lebih lanjut, mari kita sedikit kembali ke masa lalu.

Terus terang saya sangat suka dengan seni tari ini. Saya banyak mengunduh video-video dari beberapa jagoan breakdance sekedar untuk menikmati saja, karena saya yakin badan saya akan menolak dengan keras melakukan gerakan-gerakan yang, weleh-weleh, rumit tenan.

Saya ingat sekitar tahun 80an, saya menonton salah satu film WarKop -lupa judulnya- dimana ada sebuah pesta kecil yang menampilkan beberapa pemuda menari kejang. Wah, saya dulu semangat sekali menirukan gerakan “memegang kaca”, hehehe. Tapi kelenturan dari penari-penari itu membuat saya kagum. Setelah mencoba beberapa gaya rumit yang membuat badan saya kejang betulan, akhirnya saya menyerah. Sudah lah, itu bukan buat saya.

Pelangi di layar…

5 October, 2008 (14:39) | Layar | 7 comments

Foto dari situs resmi Laskar Pelangi

Ada sebuah cerita tentang seorang pematung yang sangat handal; semua yang dia pahat selalu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Pada suatu hari, dia ditanya oleh salah seorang pengagumnya; bagaimana caranya dia bisa membuat sebuah patung gajah yang sangat indah. Dia hanya menjawab, “Saya hanya membuang apa yang tidak berbentuk gajah.”

Mengadaptasi sebuah cerita novel dalam bentuk film bukanlah hal yang mudah karena penerimaan isi dari kedua media itu berbeda di penikmatnya. Sebuah novel selalu mempunyai dua penulis; si pengarang dan pembacanya, di mana mereka akan melewati cerita itu dengan pengalaman masing-masing. Hal ini akan menghasilkan sebuah interpretasi unik pada setiap cerita karena pada akhirnya, dunia yang terbangun dalam pikiran pembaca akan berbeda-beda.

Film sebagai media audio visual tidak akan menyisakan banyak ruang untuk imajinasi kita. Penonton bisa dibilang hanya menelan apa yang disajikan oleh pencipta film itu tanpa harus turut membangun dunia baru dalam diri mereka.

Menyadur sebuah novel dalam bentuk film akhirnya menjadi sebuah situasi yang cukup rumit karena sutradara harus bisa menyajikan sebuah dunia yang sesuai dengan ekspektasi penontonnya. Apalagi untuk sebuah novel sekaliber Laskar Pelangi yang tercatat sebagai salah satu buku yang paling laris akhir-akhir ini.

Satria Kelam…

21 July, 2008 (16:22) | Layar | 10 comments

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan kita; benar dan salah, baik dan jahat, cinta dan benci, hidup dan mati dan seterusnya. Selalu ada pilihan yang akan kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, selalu ada dua cabang yang akan kita pilih.

Apakah kita memilih jalan yang benar atau yang salah, apakah kita memilih untuk mencapai kebahagiaan lewat keteraturan atau kekacauan dan apakah kita akan memilih untuk menyerah atau berjalan terus?

Dan apakah kita akan memilih menyongsong fajar atau menutup jendela rapat sampai cahaya enggan masuk?

Inilah tema utama yang saya lihat di film terbaru dari seri Batman, The Dark Knight; dengan sebuah ideologi dualitas yang sangat kental di setiap menitnya. Christopher dan Jonathan Nolan dengan lancarnya menceritakan sebuah drama klasik tentang baik dan benar dalam sebuah ruangan gelap bernama Gotham City. Ini bukan film action yang penuh dengan warna, ini adalah sebuah lukisan hitam putih dengan sebuah garis kelabu. Lupakan semua seri Batman yang sebelumnya. Babak pertama buat saya dimulai dengan Batman Begins. Saya bahkan tidak menghitung dua film Batman yang dibesut oleh Tim Burton, selain mereka adalah bagian dari sejarah tentunya. Dan tidak usah bertanya tentang film Batman yang lainnya, saya masih trauma melihat Bat-Nipple sampai sekarang.

Rasanya…

28 May, 2008 (16:53) | Layar | 3 comments

Baru-baru ini saya menyewa sebuah film action yang cukup seru. Sebenarnya film ini sudah dirilis cukup lama, tapi saya selalu lupa untuk membelinya. Sehingga sekarang saya tidak bisa lagi menemukannya di toko-toko DVD mana pun.

Film itu berjudul Equilibrium dan diperankan oleh Christian Bale, seorang aktor yang menurut saya sangat cocok untuk peran-peran laga. Alkisah, di sebuah masa depan fiktif, telah terjadi perang dunia ke tiga yang menimbulkan penderitaan yang sangat besar ke masyrakat dunia. Setelah selesai, sebuah negara/kota, Libria, mencanangkan hukum dimana perasaan menjadi ilegal karena dia adalah sumber dari segala tindakan buruk manusia.

Untuk menjaga stabilitas, dibentuklah sebuah satuan khusus bernama Kopass, eh, Grammaton yang berisi Clerics, agen pemberantas Sense Offender. Tugas mereka adalah mencari dan melenyapkan benda-benda yang menggugah perasaan kita seperti karya seni misalnya (musik, lukisan, puisi…) dan para penggunanya. Christian Bale memerankan John Preston, salah satu Cleric yang paling handal.

Ceritanya memang sedikit klise, tapi satu hal yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini adalah adegan laganya yang sering dikatakan sama atau bahkan lebih keren daripada trilogi Matrix.

Dan ternyata memang benar.

Ada apa dengan Ayat-Ayat Cinta?

17 March, 2008 (20:58) | Layar | 16 comments

Dua tahun yang lalu saya direkomendasikan membaca sebuah buku yang tadinya saya hanya pandang sebelah mata. Terus terang saya pada saat itu terjebak dengan ungkapan “menilai buku hanya dari sampulnya” secara harafiah. Wong pada saat itu – dan sampai sekarang -, rak best-sellers di Gramedia dipenuhi oleh buku-buku bernuansa agama; dari tafsiran, riwayat sahabat Nabi, analisa, panduan hidup dan sebagainya. Tak terlintas sedikit pun buku itu akan mengubah pandangan saya terhadap tulisan dengan subyek berbau agama.

Ayat-Ayat Cinta ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy, seorang dai, novelis dan penyair. Novel ini mengambil kesehariannya ketika sedang mengenyam pendidikan di universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Kehidupan yang menurut saya tergambar dengan baik dalam novel tersebut. Saya melahap cerita yang tertutur dengan santai dan tanpa pretensi, bahkan dalam adegan-adegan “penyuluhan” pun saya tidak merasa digurui; saya bahkan menyerapnya dengan suka rela.

Itulah kekuatan Ayat-Ayat Cinta sebagai karya islami. Ajaran yang sangat mudah untuk ditolak tiba-tiba menjadi ringan, seperti asap kretek yang mulus melewati kerongkongan walau lebih berat kandungan nikotinnya daripada rokok putih. Saya pun menjadi lebih mengerti agama yang tertera di KTP saya dan saya menemukan esensi Islam yang banyak orang lupakan: sebuah agama yang sangat toleran.

Kebun semanggi…

18 February, 2008 (19:44) | Layar | 4 comments

Sekitar pertengahan tahun 2007 saya seperti biasa mengunjungi situs Aintitcool untuk melihat apa saja yang akan terjadi di dunia perfilman. Ada satu berita mengenai sebuah video misterius yang beredar di youtube dan membuat heboh para geeks –oke, saya salah satu dari mereka-. Saya segera mengarahkan browser saya ke alamat yang diberikan dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya pun menonton video itu.

“Anjruit!”

Saya mengambil nafas dan memutar ulang video itu.

Yang saya lihat adalah potongan-potongan adegan sebuah video rumahan yang mendokumentasikan sebuah pesta di sebuah apartemen. Di tengah seru-serunya pesta, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan yang disusul oleh gempa singkat. Semua orang kaget dan mereka pun naik ke atas atap gedung untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah ledakan terjadi lagi, kali ini kita melihat langung seberapa besarnya. Semua orang panik dan langsung turun untuk keluar ke jalanan. Ledakan ketiga, jauh lebih besar. Kamera mengarah ke langit dimana sebuah benda tampak melayang, menghantam beberapa gedung dan akhirnya jatuh ke jalanan dimana mereka sedang berada.

Benda itu adalah kepala patung Liberty.

Mesin perang…

11 February, 2008 (20:51) | Layar | 2 comments

Saya lupa kapan pertama kali saya berkenalan dengan tokoh ini. Yang saya ingat adalah saya menontonnya lewat kaset Betamax bersama keluarga besar. Yang pasti saya masih SD pada waktu itu. Entah kenapa para om dan tante saya memperbolehkan saya untuk turut menikmatinya, padahal kalau dipikir-pikir film itu kan penuh dengan adegan keras dan darah yang bermuncratan kemana-mana. Tapi saya tidak terlalu memikirkannya pada saat itu. Yang saya ingat adalah perasaan tegang dan kadang-kadang saya harus menutup mata karena tidak tahan sendiri melihat kekerasan di layar televisi itu.

Itu pertama kali saya melihat seseorang yang sangat brutal sehingga namanya pun akan menjadi sebuah kata jargon yang menggambarkan kekerasan yang tidak perlu.

Rambo.

Ledakan-ledakan yang besar, rentetan tembakan yang tak ada habisnya, satu orang yang sendirian melawan banyak musuh, wah pokoknya buat saya dia adalah seorang jagoan sejati sampai ibu saya harus merelakan beberapa kain lapnya untuk saya jadikan ikat kepala sewaktu bermain dengan sepupu saya.