Bajingan di layar

Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.
Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.
Quentin Tarantino melakukan kebalikannya.
Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.
Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik pulp yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura blaxploitation dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.
Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.
Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film western yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.






