<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.2" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Kata Rangga</title>
	<link>http://katarangga.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 10:37:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Today in Advertising</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=74</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=74#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 10:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru menemukan video ini di YouTube. Sepertinya ini dibuat untuk sebuah pesta perpisahan beberapa karyawan di sebuah agensi di Perancis.




Saya akan mencoba untuk menerjemahkannya - dalam bahasa inggris, maafkan saya.  Dan ada beberapa bagian yang saya lewatkan karena terlalu internal.
Selamat menikmati.
Today in advertising, we are becoming honest; we put legal mention everywhere to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru menemukan video ini di YouTube. Sepertinya ini dibuat untuk sebuah pesta perpisahan beberapa karyawan di sebuah agensi di Perancis.</p>
<p><object width="560" height="340">
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/FvvXDTSvbbo&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param>
<param name="allowFullScreen" value="true"></param>
<param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/FvvXDTSvbbo&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object></p>
<p>Saya akan mencoba untuk menerjemahkannya - dalam bahasa inggris, maafkan saya. <img src='http://katarangga.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Dan ada beberapa bagian yang saya lewatkan karena terlalu internal.</p>
<p>Selamat menikmati.</p>
<p><em>Today in advertising, we are becoming honest; we put legal mention everywhere to warn the consumers we are lying to. But in very little size of course, we don’t want them to read it.</p>
<p>Today in advertising, we use a lot less coke, because it became too popular.</p>
<p>Today in advertising, we know who don’t work by their activities in facebook pages. Some spend their day to tweet. But their superiors would never know; too old to be in Twitter.</p>
<p>Today in advertising, we do the 365 degree, because 360 is too obsolete.</p>
<p>Today in advertising, everybody has shitty salary, except those who will get fired soon.</p>
<p>Today in advertising, we shoot on green screen in studios in some industrial zones, because flying to exotic places is really not eco-responsible. And we really don’t have the budget. So we make do and we say that it’s Gondryism. BUT for group test, we always have money. So we do mood boards, storyboards, storymatic, animatic… and it’s fantastic.</p>
<p>Today in advertising, everybody has iPhone and Blackberry, to give the impression of being very busy, but in reality, not at all.</p>
<p>Today in advertising, we recognize the seniors by their excellence in… playing games.</p>
<p>Today in advertising, to talk with each other, we write emails.</p>
<p>Today in advertising, guys wear vests.</p>
<p>Today in advertising, we don’t get pizza deliveries; we order sushi. Because it has Omega 3, and Omega 3 in advertising is essential.</p>
<p>Today in advertising, we can’t do anything because everything is already done. So we pay tribute; we get inspired.</p>
<p>Today in advertising, we drink on Tuesdays. Because we are too tired on Wednesday. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=74</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Warung Kopi dan Rumah</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=72</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=72#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 10:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[
Seorang teman di Twitter menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah  empat bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://katarangga.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-warungkopi.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p>Seorang <a href="http://twitter.com/BrettMcGuire/status/9725184860" title="Pertanyaan dari Brett" target="_blank">teman</a> di <a href="http://twitter.com" title="Silahkan mencoba">Twitter</a> menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah  empat bulan saya mengabaikan rumah ini; pasti sudah berdebu dan banyak sarang laba-laba.</p>
<p>Apa yang menyebabkan saya mangkir menulis di sini? Sebuah alasan yang selalu saya gunakan adalah tentu saja pekerjaan, dimana semua klien tiba-tiba langsung aktif setelah beberapa lama “beristirahat”. Tapi masa hanya itu?</p>
<p>Saya pun kembali membaca tulisan-tulisan sebelumnya, melihat tanggal mereka diterbitkan. Lah, ternyata frekuensinya pun berkurang. Dulu saya bisa menulis paling lama sebulan dua kali, tapi kok bisa sampai dua bulan sekali? Apakah saya bosan menulis? Rasanya pun tidak. Tidak ada bahan yang menarik? Ah, itu pun bukan alasan karena sepertinya kok dangkal sekali; bukankah saya sendiri selalu bilang bahwa hidup itu selalu penuh dengan cerita?</p>
<p>Akhirnya saya menemukan tersangka yang paling patut dicurigai meskipun lewat dia lah saya baru saja diingatkan untuk menulis blog ini lagi.</p>
<p>Twitter.</p>
<p>Ketika blog ini adalah sebuah rumah, maka akun twitter saya adalah kursi saya di sebuah warung kopi yang ramai. Tempat itu adalah tempat nongkrong teman-teman saya, baik teman lama maupun teman baru. Kami bisa saling berbincang, mengutarakan isi pikiran masing-masing dan berbagi hal-hal menarik yang kami temukan.</p>
<p>Terus terang saya sudah lama mempunyai akun twitter ini; umurnya sama dengan blog ini karena dia mempunyai nama yang sama; nama yang susah payah saya cari sampai akhirnya direstui oleh orang yang menendang saya untuk membuat blog ini.</p>
<p>Tapi pada saat itu saya belum menemukan keasyikannya. Seperti biasa, karena twitter adalah sebuah tempat baru, saya masih duduk sendirian dan hanya melihat beberapa orang mengobrol antara mereka. Wah, kok saya belum nyaman ya. Akhirnya saya hanya mengunjunginya beberapa kali dan itu pun tidak duduk; hanya sekedar menengok sekilas ke dalam.</p>
<p>Lalu saya pindah kantor. <em>-Lah, apa hubungannya?- </em></p>
<p>Nah, di kantor saya yang baru ini, kami semua sangat dianjurkan untuk memakai Blackberry untuk memudahkan semua proses pekerjaan. Akhirnya saya mengganti handphone Nokia tahan banting yang sudah setia menemani saya bertahun-tahun. Saya pun terhubung dengan internet 24 jam.</p>
<p>Sampai suatu hari saya iseng mencoba sebuah aplikasi yang bernama <a href="http://www.orangatame.com/products/openbeak/" title="Dan sekarang berubah jadi Open Beak" target="_blank">Twitterberry</a> atas saran sebuah situs.</p>
<p>Wah, ternyata warung kopi ini menjadi semakin ramai.</p>
<p>Baiklah, mari kita mulai mendengarkan diskusi-diskusi di sekitar saya dengan lebih seksama. Pada saat itu seorang teman baik saya, <a href="http://twitter.com/ifahmi" title="Salah satu selebitweet kelas dunia :D" target="_blank">Ismet</a>, melempar sebuah tema yang menggelitik saya; sebuah permainan yang sebelumnya pun sering kami lakukan lewat Yahoo!Messenger. Permainan itu adalah <a href="http://twitter.com/#search?q=%23sixwords" title="Contoh di twitter" target="_blank">Sixwords</a> di mana kami saling melontarkan cerita-cerita sepanjang enam kata. Contohnya adalah “Hidup bersama, tangan bergandeng, jiwa terpisah” atau “Kubuka cadarnya perlahan, taringnya mencengkeram leherku”.</p>
<p>Tiba-tiba saya mulai menulis banyak cerita enam kata seperti itu dan yang menyenangkan adalah banyak orang yang berkenalan dengan saya dengan cara me-follow. Artinya mereka mendengarkan saya dan bahkan banyak juga yang menanggapi dan mengomentari saya.</p>
<p>Warung ini menjadi jauh lebih menarik.</p>
<p>Selepas permainan itu, ternyata banyak lagi hal yang bisa ditemukan di dalam Twitter. Di sini, orang-orang dari berbagai latar belakang saling berdiskusi, saling mengobrol, saling meledek dan bahkan terkadang juga terlibat dalam berbagai konflik.</p>
<p>Sebuah kehidupan nyata yang berpindah ke dalam sebuah dunia maya.</p>
<p>Dan seperti layaknya sebuah diskusi warung kopi, kita tidak mendapatkan tempat untuk bermonolog panjang lebar. Kita dibatasi untuk berucap sepanjang 140 karakter. Sangat ringkas memang, tapi itu memberikan semua pengunjung warung kesempatan yang sama besarnya untuk mengutarakan pikiran mereka.</p>
<p>Setelah cukup lama, ternyata mulai terlihat pribadi-pribadi unik yang bermunculan. Ternyata di dalam warung ini, mayoritas pengunjungnya bersikap seperti aslinya di dunia nyata; mereka tidak bersembunyi di balik kepribadian yang berbeda. Mereka datang menjadi diri mereka sendiri.</p>
<p><em>“Terus kenapa loe berenti nge-blog, Ngga?”</em></p>
<p>Blog ini memang dibuat untuk menuliskan pikiran-pikiran saya; pandangan saya mengenai sekitar saya, apa yang saya alami dan apa yang saya saksikan dalam hidup ini. Dulu, ketika medium yang saya gunakan hanyalah rumah ini, saya mempunyai kebiasaan untuk menyimpan sebuah pikiran untuk dibagi ke, kalau boleh saya katakan, dunia.</p>
<p>Dengan adanya Twitter, simpanan cerita atau pikiran itu bisa dengan mudahnya tersebar dengan langsung, meskipun jauh lebih pendek. Tapi ada sebuah penyelesaian dalam diri saya; pikiran itu sudah tertuliskan dan saya merasa tidak perlu mengelaborasinya lebih lanjut. Itu yang membuat saya sedikit absen di blog ini.</p>
<p>Tapi kembali lagi, penggunaan sebuah medium memang selalu disesuaikan dengan keperluan pemakainya. Dan ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi, kita tidak harus memaksakan diri untuk melanjutkannya.</p>
<p>Terus terang saya kangen menulis seperti ini, tapi saya tahu bahwa saya sedang dalam sebuah euforia dunia instan yang ditawarkan oleh Twitter.</p>
<p>Sebuah warung kopi ramai dengan pengunjung yang saling berbagi cerita.</p>
<p>Tapi kita semua tahu bahwa senyaman apa pun tempat kita berada di luar, seramai apa pun itu&#8230;</p>
<p>Kita akan selalu kembali ke rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=72</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bajingan di layar</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=70</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=70#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 05:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Layar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[ 
Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.
Yang terjadi biasanya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <img src="http://katarangga.com/wp-content/uploads/2009/10/blog-basterds.jpg" height="207" width="278" /></p>
<p>Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.</p>
<p>Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quentin_Tarantino" title="wikipedia" target="_blank">Quentin Tarantino</a> melakukan kebalikannya.</p>
<p>Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.</p>
<p>Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik <em>pulp</em> yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura <em>blaxploitation</em> dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.</p>
<p>Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.</p>
<p>Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film <em>western</em> yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.</p>
<p>Ya, film ini memang menceritakan tentang perang dunia II.</p>
<p>Kita semua sudah tahu berkat promosi yang sangat gencar bahwa <a href="http://www.imdb.com/title/tt0361748/" title="imdb" target="_blank">Inglourious Basterds</a> memang menceritakan sekelompok pasukan yang membunuhi para nazi dengan sadis. Tujuan mereka adalah menyebarkan teror sehingga para nazi itu akan segan untuk meneruskan perang.</p>
<p>Menarik.</p>
<p>Sangat Tarantino.</p>
<p>Benarkah?</p>
<p>Ketika saya duduk di dalam bioskop, saya mempersiapkan diri untuk menonton sebuah film yang <em>nyeleneh</em>, sebuah pesta darah khas Tarantino dan dialog-dialog yang dilontarkan dengan lancar. Saya menunggu para Basterds itu untuk membantai nazi dengan cara-cara yang kocak, tak terduga dan saya ingin melihat para nazi berdiri gemetar sambil menahan buang air ketika mereka tahu Basterds akan menyerang lagi. Hampir sama ketika para pembunuh profesional resah menunggu The Bride dalam Kill Bill.</p>
<p>Tapi Tarantino menggunakan cara lain untuk bercerita.</p>
<p>Inglourious Basterds adalah sebuah buku yang dengan rapi ditata; per bab.</p>
<p>Para penggemar garis keras Tarantino akan menaikkan alis kanan mereka. Mereka tidak akan disuguhi kekerasan yang berlebih, bergalon-galon darah dan bagian badan yang berterbangan.</p>
<p>Mereka akan diberikan sebuah cerita yang rapi.</p>
<p>Jangan salah, Tarantino seperti yang saya ungkapkan di atas, adalah seorang koki handal. Dia tetap memberikan sentuhan pribadinya. Bahkan salah satu bab akan memberikan penonton sebuah situasi yang penuh dengan dialog cerdas dan semua detil kecil ala Tarantino. Bagaimana sebuah gerakan kecil bisa menjadi titik <em>pivotal</em> adegan tersebut; hanya dia yang bisa menciptakan hal seperti itu.</p>
<p>Film ini akan membagi para penggemar Tarantino. Beberapa teman di twitter maupun facebook memberikan komentar, <em>“Inglourious Basterds is overrated”</em>.</p>
<p>Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka termakan ekspektasi yang telah bertahun-tahun dibentuk oleh Tarantino. Ditambah lagi setelah digempur promosi yang sangat gencar memberikan kode dimana penonton akan bermandikan darah bersama para Basterds.</p>
<p>Saya hanya menyarankan film ini untuk ditonton dengan kacamata baru. Nikmati semua detil, semua perkataan yang muncul dari mulut setiap karakter, permainan kamera yang sangat indah. Bersiaplah untuk terpaksa suka dengan Hans Landa, karakter antagonis yang diperankan dengan sangat fasih dan menakjubkan oleh Christopher Waltz.</p>
<p>Quentin Tarantino tidak pernah mengecewakan saya. Saya pribadi tidak akan berteriak-teriak memuji film ini karena buat saya, Inglourious Basterds bukanlah film yang bisa didefinisikan dengan kalimat “keren banget loe mesti nonton gila”.</p>
<p>Film-film Tarantino yang dulu adalah serentetan gelas berisi tequila dengan cacing di dalamnya. Minum segelas, dua gelas dan kita akan langsung terkapar.</p>
<p>Inglorious Basterds adalah sebotol anggur yang harus lama diresap rasanya. Menikmati tetes demi tetes asam dan manisnya melewati tenggorokan kita.</p>
<p>Sampai akhirnya di tegukan terakhir kita melihat angka 40% di label botol.</p>
<p>Dan kita pun sadar, sekali lagi, Tarantino kembali memperkosa pikiran kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=70</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lima menit&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=69</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=69#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 17:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Gelas ketiga malam ini.
Hangat.
Tempat ini mulai sepi, beberapa tamu sudah beranjak dari meja mereka. Ada sepasang insan sedang bercengkerama di pojokan, mengobrol santai sambil sesekali melirik ke arah televisi. Di depan sekelompok teman sedang asyik bercanda, melontarkan banyolan dan ejekan ke masing-masing. Santai. Seperti di rumah; rumah adalah dimana teman berada.
Sementara itu para pelayan berbaju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gelas ketiga malam ini.</p>
<p>Hangat.</p>
<p>Tempat ini mulai sepi, beberapa tamu sudah beranjak dari meja mereka. Ada sepasang insan sedang bercengkerama di pojokan, mengobrol santai sambil sesekali melirik ke arah televisi. Di depan sekelompok teman sedang asyik bercanda, melontarkan banyolan dan ejekan ke masing-masing. Santai. Seperti di rumah; rumah adalah dimana teman berada.</p>
<p>Sementara itu para pelayan berbaju oranye berjalan mengitari ruangan atau berdiri di pojokan, menunggu seseorang mengangkat tangan sambil berteriak “mas!” atau “mbak!”.</p>
<p>Tempat ini mulai sepi.</p>
<p>Hanya tawa dan canda terdengar sesekali.</p>
<p>iPod saya melantunkan lagu dari Noir Desir, sebuah <em>rock band </em>Prancis yang selalu menggetarkan hati saya dengan liriknya. Saya pun melirik jam tangan saya.</p>
<p>Masih ada waktu. <em>Lima menit. Tiga ratus detik.</em></p>
<p>Apa yang telah saya lakukan selama ini?</p>
<p>Begitu banyak pilihan yang saya ambil selama ini, saya sendiri tidak bisa mengutarakannya satu per satu. Tapi ada beberapa yang telah mengubah hidup saya.</p>
<p>Tapi ada satu hal yang menyamakan semua pilihan itu. Hanya saya sendiri yang memilih. Dengan konsekuensi yang saya terima dengan lapang dada, apapun bentuknya.</p>
<p><em>Empat menit. Dua ratus empat puluh detik.</em></p>
<p>Jangan pernah menyesal. Itu selalu menjadi kredo saya selama ini. Cukup untuk membuat saya terus melangkah. Tanpa kecut hati, tetap tegak menghadap angin yang mendera di depan. Selalu.</p>
<p>“Terus jalan, Dit”, bisikan ayah saya yang selalu saya ingat dari sebuah pertemuan di alam mimpi. Entah itu hasil dari alam pikiran saya atau memang dia memberikan nasehat terakhir ke saya. Wallahualam.</p>
<p><em>Tiga menit. Seratus delapan puluh detik.</em></p>
<p>Saya telah melewati berbagai banyak hal. Saya tidak sempurna. Saya tahu saya telah mengecewakan beberapa. Memberikan rasa sakit yang mungkin tidak termaafkan. Namun ada satu hal yang harus diingat. Setiap luka mereka adalah luka saya.</p>
<p>“Kamu terlalu empati!” ujar mendiang ibu saya suatu hari ketika beliau sedang menyisir rambut di depan kaca.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan itu. Biarkan saya merasakan sakit yang sama.</p>
<p>Sakit harus ditanggung bersama, begitu juga kebahagiaan.</p>
<p><em>Dua menit. Seratus dua puluh detik.</em></p>
<p>Tuhan selalu maha adil. Ketika ada pahit, pasti ada manis. Hidup memang tidak pernah selamanya menyakitkan. Kebahagiaan akan selalu menunggu kita di tikungan berikut.</p>
<p>Banyak orang yang telah memberikan kebahagiaan ke saya. Untuk itu saya sangat berterimakasih ke mereka.</p>
<p><em>Satu menit. Enam puluh detik.</em></p>
<p>Pilihan akan selalu ada.</p>
<p>Untuk pilihan berikut ini saya sangat memohon kepada Yang Berkuasa untuk diberikan kekuatan; diberikan kemampuan dan kemauan untuk tetap berjalan di jalan ini selamanya.</p>
<p>Manusia berencana, Dia yang menentukan.</p>
<p>Saya hanya mengajukan satu permohonan kali ini&#8230;</p>
<p><em>Lima.<br />
Empat.<br />
Tiga.<br />
Dua.<br />
Satu.</em></p>
<p>&#8230; Biarkan saya bersama dirinya selama-lamanya. Karena saya sayang dia.</p>
<p>Bertrand Cantat, si penyanyi, menanyakan satu hal, “takdir tanpa batas, kita memilih satu; apa yang kita dapatkan?”</p>
<p>Kebahagian. Hanya itu yang saya inginkan.</p>
<p>Sayup-sayup di antara petikan gitar, saya mendengar, <em>“Happy birthday, you bastard.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=69</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bola Sodok&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=68</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=68#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 07:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Saya punya satu hobi sampingan.
“Apaan tuh, hobi sampingan?”
Hobi sampingan itu adalah hobi yang bisa saya sering lakukan lagi meskipun sudah lama tidak. Dalam kasus ini, hobi sampingan saya adalah bermain bilyar. Saya mulai akrab dengan permainan ini sewaktu kuliah semester satu gara-gara dikompori teman saya. Setiap hari kami berdua bisa menghabiskan waktu di Bengkel Billiard [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya satu hobi sampingan.</p>
<p><em>“Apaan tuh, hobi sampingan?”</em></p>
<p>Hobi sampingan itu adalah hobi yang bisa saya sering lakukan lagi meskipun sudah lama tidak. Dalam kasus ini, hobi sampingan saya adalah bermain bilyar. Saya mulai akrab dengan permainan ini sewaktu kuliah semester satu gara-gara dikompori teman saya. Setiap hari kami berdua bisa menghabiskan waktu di Bengkel Billiard (waktu itu namanya masih Arena) selama minimal 4 jam.</p>
<p>Satu hal yang memberhentikan kami tentu saja adalah masalah finansial; lama-lama kok tabungan kami menipis.</p>
<p>Akhirnya datanglah masa vakuum bilyar pertama saya.</p>
<p>Sekitar dua tahun kemudian, di dekat kampus saya, tepatnya di parkiran bawah tanah Supermal Karawaci, dibuka sebuah tempat bilyar. Di situ lah saya mulai kembali intens bermain bilyar, bahkan sampai belajar ke para pelatnas yang sering main di situ. Dari mulai bermain sendirian sampai akhirnya memberanikan diri ikut turnamen. Saya tidak pernah juara, bahkan masuk ke 10 besar pun belum pernah. Saya ikut turnamen sekedar untuk mengetes mental saya yang ternyata memang tidak terlalu stabil.</p>
<p>Setelah berhenti kuliah dan mulai bekerja, saya hampir tidak pernah bersentuhan dengan meja bilyar lagi. Paling sekedar untuk bersosialisasi atau ikut ajakan teman saya. Tapi saya tidak lagi sengaja datang ke sebuah tempat dan berniat bermain sendiri seperti masa kuliah saya.</p>
<p>Tapi kadang ada masa-masa dimana saya tiba-tiba kangen bermain bilyar.</p>
<p>Di saat itu lah saya melarikan diri ke tempat bilyar terdekat dan menghabiskan waktu main sendirian ditemani iPod setia saya (entah kenapa, musik di tempat-tempat itu selalu bikin saya tidak konsen). Bahkan ajakan bermain dari penjaga maupun PR yang cantik-cantik selalu saya tolak, karena saya suka main sendirian.</p>
<p>Teman saya pernah bertanya alasan saya.</p>
<p>Saya sendiri bingung menjawabnya. Tapi ketika saya lamunkan, saya sedikit mengerti alasannya.</p>
<p>Ada dua tahap utama dalam permainan bilyar. Pertama ketika kita memecahkan bola-bola yang telah kita susun dan kedua ketika kita memasukan mereka ke dalam lubang-lubang yang ada.</p>
<p>Sering kali kita merasa pecahan hidup kita menyebar ke segala penjuru. Sebuah kekacauan yang seringkali kita ciptakan sendiri (<em>breaking</em> kalau di bilyar) dan kita harus membereskan mereka; mengumpulkan mereka ke dalam suatu tempat sehingga kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas.</p>
<p>Kadang itu yang saya rasakan ketika saya sedang bermain bilyar; saya sedang menata pikiran dan perasaan saya sehingga saya menjadi lebih fokus lagi. Ada sebuah perasaan yang melegakan ketika satu persatu bola masuk dengan mulus ke lubang yang saya sasarkan.</p>
<p>Ketika saya gundah, saya bisa menjadi lebih lega ketika menyelesaikan satu permainan. Kadang saya main sampai perasaan itu hilang sama sekali, meskipun saya harus bermain sampai duapuluhan permainan sekalipun.</p>
<p>Tapi itu yang membuat saya menjadi lebih fokus ke pokok permasalahan saya. Ketika saya melihat satu bola di depan lubang, itu lah masalah yang harus saya tuntaskan. Sementara ada sembilan bola di atas meja. Saya hanya berpikir, masing-masing bola adalah pecahan kecil dari masalah saya, detil-detil kecil dari seluruh dilema saya.</p>
<p>Mungkin itu yang membuat saya menjadikan bilyar sebagai hobi sampingan. Saya bermain ketika saya sedang memerlukannya.</p>
<p>Atau ketika teman mengajak, seperti akhir-akhir ini, yang membuat saya kecanduan lagi.</p>
<p>Hmpf.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=68</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sabtu malam&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=67</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=67#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 13:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir Americano (double espresso ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan laptop-nya. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir <em>Americano</em> (<em>double espresso</em> ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan <em>laptop</em>-nya. Saya pun melakukan hal yang sama.</p>
<p>Beberapa meja tidak jauh dari kami, terdapat sekelompok teman yang sedang asyik berdiskusi dengan suara cukup keras. Mulanya hal itu lumayan mengganggu saya, tapi kelamaan saya malah ikut menguping pembicaraan mereka. Ya, siapa tahu ada beberapa bahan yang bisa saya masukkan ke <a href="http://ngupingjakarta.blogspot.com" title="Nguping Jakarta" target="_blank">sini</a>, hehehe.</p>
<p>Ternyata tawa dan canda mereka mengiringi sebuah topik yang cukup menarik; mereka sedang membicarakan salah satu teman mereka yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang menceritakan kembali kelakuan lucu teman ini dan mereka berbicara seakan teman itu hanya sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada romantisme ataupun melankolisme; semua mengalir begitu saja.</p>
<p>Saya pun berhenti sejenak dan memandang beberapa teman baik saya yang sedang berada di sekitar saya. Ada yang sedang mengobrol di telepon sendiri, ada yang saling bercanda di luar sambil merokok dan ada yang duduk di sebelah saya setelah syuting seharian.</p>
<p>Apa yang akan mereka bicarakan tentang saya suatu saat saya sudah tidak ada lagi?</p>
<p>Apakah mereka akan membicarakan tentang karir saya selama ini, betapa saya tidak mau bekerja di bidang lain selain iklan? Apakah mereka tetap akan menganggap saya sebagai seorang yang suka <em>flirt</em> ke lawan jenis? Apakah mereka akan ingat tentang ke-<em>bitchy</em>-an saya selama ini? Atau mungkin tentang si pemimpi yang tidak kunjung bangun?</p>
<p>Terus terang selama ini saya banyak memikirkan akhir hidup saya. Hal-hal kecil seperti lagu apa yang akan diputar di pemakaman saya, tulisan apa yang akan ada di nisan saya dan lain-lain. Tapi saya belum pernah membayangkan saat setelah itu; setelah, taruhlah, dua atau tiga tahun saya <em>mangkat</em>. Apa yang akan orang ingat dari saya?</p>
<p>Semua skenario berputar di kepala saya pada saat itu. Tapi satu hal yang terus muncul di kepala saya.</p>
<p>Mungkin saya hanya ingin semua teman saya tersenyum ketika mengingat saya.</p>
<p>Terserah apa alasannya.</p>
<p>Dan hal itu membuat saya tersenyum. Ketika saya menoleh ke teman saya yang sedang memejamkan mata sambil memegangi perut yang belum lama ditempati buah hatinya, saya pun membatin:</p>
<p>Semoga tidak lama lagi saya pun bisa meninggalkan jejak di dunia ini seperti dia.</p>
<p>Sekelompok orang di meja itu tiba-tiba terdiam. Saya yakin mereka sedang menyalami teman mereka dengan cara masing-masing.</p>
<p>Di tengah kesunyian sesaat itu, saya pun berdiri perlahan, mengambil kotak rokok saya dan keluar menghirup kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=67</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Pintu dan Sorban&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=66</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=66#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 12:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Layar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[
Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://katarangga.com/wp-content/uploads/2009/01/blog-pintu.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p>Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik <a href="http://www.pintuterlarang.com/" title="Official Website" target="_blank">Pintu Terlarang</a> ini.</p>
<p>Saya kadang bertemu Joko di tempat saya ngupi dan dari situ saya kurang lebih tahu seperti apa dia; dia adalah seorang pencinta film dengan gairah yang tinggi <em>-terserah mau diartikan apa :)-</em>. Hal ini memberikan saya sebuah ekspektasi tertentu untuk film ini.</p>
<p>Ketika film dimulai, dari sinematografi dan nuansa, muncul kecurigaan bahwa Joko banyak terpengaruh dengan koleksi <em>film noir</em>-nya; lebih terbukti lagi dengan desain <em>opening title</em> yang sangat kental dengan nuansa komik <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pulp_magazine"><em>pulp</em></a> tahun 20an yang membuat saya tersenyum gembira <em>-geek-</em>. Apalagi ditambah dengan sebuah kota khayalan dengan poster dan billboard optimis yang membuat dunia ini menjadi lebih kontradiktif.</p>
<p>Pintu Terlarang yang disadur dari novel karangan Sekar Ayu Asmara menceritakan kehidupan seorang seniman patung bernama Gambir (Fachri Albar) yang sangat sukses di kalangan kolektor bukan hanya dari hasil karyanya, tapi juga campur tangan istrinya yang dominan, Talyda (Marsha Timothy) dan seorang kurator ambisius yang akrab dipanggil Koh Jimmy (Tio Pakusudewo). Semua yang dia hasilkan selalu ludes terjual dengan harga selangit; sebuah kesuksesan yang membuat bangga sekaligus iri kedua sahabatnya Dandung (Ario Bayu) dan Rio (Otto Djauhari). Sungguh sebuah <em>mise en scene</em> yang ideal, apalagi Talyda digambarkan sangat akrab dengan ibu mertuanya (Henidar Amroe), sebuah hal yang tidak terlalu jamak terjadi di dunia film.</p>
<p>Tapi tidak mungkin cerita berhenti di situ. Selalu ada sebuah rahasia yang tersimpan dibalik setiap kesempurnaan; sebuah rahasia yang sangat besar sehingga menyimpannya akan menjadi sebuah siksaan batin yang sangat mendalam. Gambir pun keluar dari ruang pameran, menyalakan rokoknya dengan gemetar dan berjanji untuk tidak mematung lagi.</p>
<p>Gambir selalu membuat patung berbentuk wanita hamil dengan segala pose yang membuat banyak pembelinya langsung membayar tunai karena patung-patung itu mengingatkan mereka ke masa lalunya. Apakah sebenarnya semua patung itu juga sebuah interpretasi Gambir ke masa lalunya atau malah keinginan dia untuk menjadi orang tua?</p>
<p>Tapi Gambir sendiri menyatakan (mempertanyakan) dengan gamblang, “Apakah setiap orang tua sudah memikirkan betul mereka menginginkan anak?”. Dari sini sebenarnya penonton sudah diberikan sebuah petunjuk yang cukup penting.</p>
<p>Di tengah kehidupan utopis ini, di rumah mewahnya hasil hibahan mertua, Gambir menemukan sebuah pintu merah tergembok rapat di balik lemari besar di studionya. Ketika dia ingin membukanya dengan paksa, Talyda memohon dengan sangat untuk tidak melakukannya, karena apa yang ada dibalik pintu itu bisa merusak hubungan rumah tangga yang telah dengan susah payah mereka bina. Ketidakberhasilan mereka untuk punya anak telah membuat sebuah jarak yang sangat besar antara mereka. Meskipun sebenarnya hal ini adalah hasil dari kelakuan masa lalu mereka. Gambir terpaksa menuruti istrinya. Rahasia itu terlalu besar.</p>
<p>Tapi tiba-tiba Gambir dihadapkan dengan sebuah misteri yang akan menghantui setiap menit hidupnya. Entah dari mana, sebuah kalimat selalu muncul di hampir setiap kegiatannya; “Tolong Saya”. Bentuknya pun tidak semata tertulis, bahkan Gambir mendengarnya lewat telepon misterius yang dia terima suatu malam, dengan suara anak kecil pula.</p>
<p>Seorang anak kecil yang meminta tolong. Gambir yang mengusung tema kehamilan di setiap karyanya. Satukan kedua hal itu sehingga timbul sebuah konflik batin yang perlahan menjadi sebuah obsesi.</p>
<p>Penonton pun akhirnya dibawa untuk mengikuti pengejaran Gambir mencari jawaban atas misteri ini sampai satu hari dia didaftarkan Dandung untuk menjadi anggota sebuah klub tertutup yang memberikan Gambir sebuah “jendela” yang bisa memberikan dia jalan untuk menuntaskan obsesi dia.</p>
<p>Pencarian ini memberikan Gambir sebuah pengalihan dari rasa ingin tahu dia ke rahasia pintu merah itu.</p>
<p>Tapi kembali lagi semua orang melarang dia untuk meneruskan pencariannya. Sahabat yang Gambir anggap paling mengerti dirinya pun ikut mencegah dia dengan paksa. Semua orang ingin mengatur hidupnya. Dari istri, ibu, sahabat sampai ke rekan kerja terus menekan dia; ingin memberikan dia tujuan hidup yang menguntungkan mereka pada akhirnya.</p>
<p>Apa yang terjadi ketika sebuah tekanan terus naik sementara ruang untuk melepaskannya ditutup rapat?</p>
<p>Ledakan yang luar biasa. Ledakan yang digambarkan dengan kasar oleh Joko. Tapi ini bukan kekerasan yang tanpa alasan.</p>
<p>Alasannya bahkan yang paling kuat dari semuanya; kekerasan akan menimbulkan kekerasan.</p>
<p>Jangan buka pintu itu kalau kita memang belum siap menerima alasan itu.</p>
<p>Dengan Pintu Terlarang, Joko menghadiahi saya sebuah thriller psikologis yang sederhana dengan bungkus <em>film noir</em> yang terus terang, sangat sayang untuk diabaikan apalagi dibuang.</p>
<p align="center"><img src="http://katarangga.com/wp-content/uploads/2009/01/blog-sorban.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p>Terus terang saya tidak sebegitu akrabnya dengan dunia Islam. Apa pun yang saya tahu mengenai agama ini lebih banyak dari penafsiran diri sendiri atau diskusi bersama. Saya tidak mengenal yang namanya pesantren, sekolah islam dan bahkan pelajaran agama yang saya dapatkan ketika SD tidak terlalu menempel di kepala saya.</p>
<p>Yang saya tahu adalah <em>-menurut pendapat pribadi saya tentunya- </em>bahwa agama Islam adalah agama yang toleran dan adil. Kenapa adil, karena konsekuensi perbuatan kita akan mendapat ganjarannya, entah itu baik atau buruk. Konsep surga dan neraka pun buat saya adalah masalah sebagaimana tenangnya kita setelah hidup kita berakhir. Buat saya, api neraka itu adalah kobaran yang dihidupkan oleh masyarakat sendiri. Saya justru lebih seram kalau neraka ternyata adalah sebuah musim dingin yang berkepanjangan atau, ini lebih ke imajinasi saya, sebuah lorong yang tak berujung dan saya tidak bisa berhenti berjalan.</p>
<p>Tapi pedoman saya dalam hidup adalah tetap satu; berusaha berbuat baik. Itu ajaran yang selalu saya ingat dari dulu. Jadilah orang yang baik; baik ke sesama, baik ke diri sendiri dan terutama, baik ke Tuhan. Ini pun saya olah kembali menjadi lebih ke baik ke keyakinan sendiri. Artinya saya harus konsisten, sebisa mungkin jangan pernah mengubah keyakinan saya atau kepercayaan saya dalam hidup.</p>
<p>Saya memutuskan untuk menonton Perempuan Berkalung Sorban lebih karena untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. Setelah film Ayat-Ayat Cinta yang sangat sukses di pasaran (namun tidak terlalu di saya), saya ingin melihat karya islami sutradara Hanung Bramantyo yang kedua ini.</p>
<p>Film ini sekali lagi diambil dari sebuah novel karya Abidah el Khalieqy yang saya belum baca juga, sehingga kali ini saya tidak akan membedakan soto mie dan bakso (halo, <a href="http://pakde.com" target="_blank">Pakde</a>, hehehe). Film ini menceritakan kehidupan Anissa (Revalina S. Temat), putri bungsu Kyai Hanan (Joshua Pandelaky) yang mengelola sebuah pesantren di daerah Jogja dibantu istri (Widyawati) dan kedua anak lelakinya. Dari kecil, Anissa selalu mempertanyakan kodratnya sebagai seorang muslimah; kelakuan yang sering membuat dirinya menerima hukuman dari ayahnya. Untung saja, Anissa selalu mendapat hiburan dari sepupu jauh sekaligus sahabatnya, Khudori (Oka Antara).</p>
<p>Ketika Khudori harus melanjutkan kuliahnya ke Kairo, Anissa pun kehilangan pegangan. Dia harus menerima semua akibat dari idealismenya tanpa ada ruang untuk bisa mengeluarkannya kecuali lewat surat ke Khudori, sebuah medium yang akhirnya diputus justru dari Khudori. Sementara Anissa semakin menggebu hasratnya untuk menjadi perempuan yang ada di dalam idealnya, seperti misalnya mendaftar ke sebuah universitas Islam dan diterima walaupun akhirnya dihambat oleh ayahnya.</p>
<p>Untuk mengontrol Anissa, akhirnya dia dinikahi dengan anak seorang Kyai lainnya yang bernama Samsudin (Reza Rahadian). Namun ternyata perkawinan itu tidak berlangsung mulus dan ditambah lagi dia harus diduakan. Di tengah semua itu, Khudori muncul lagi di pesantren setelah menyelesaikan studinya di Kairo. Semakin lengkaplah konflik hidup Anissa.</p>
<p>Terus terang, saya tidak bisa terlalu bersimpati dengan Anissa. Semata-mata karena dalam cerita ini, menurut saya cara dia memperjuangkan idealismenya masih sama dengan cara ekstremis, dalam arti kata dia berperang membabi buta. Hanya sekedar ngotot, tidak pernah memberikan alasan yang rasional ke lawan bicaranya. Padahal sebelumnya disebutkan dia adalah seorang perempuan yang cerdas, rasional, selalu ranking satu. Saya tidak melihat kedewasaan dia dalam bersikap; Anissa kecil yang kabur dari kelas karena tidak bisa jadi ketua kelas dan Anissa dewasa yang (hampir) kabur karena disiksa suami. <em>Podo wae</em>. Perlawanan yang dangkal untuk seorang perempuan yang menjunjung tinggi intelektualitas kaumnya.</p>
<p>Apa yang bisa terjadi akhirnya? Mungkin orang akan menangkap bahwa memang harus ngotot sengotot-ngototnya untuk mengubah sebuah keadaan. Teriakan akan sering dipakai tanpa aksi yang lebih berarti. Memang Anissa berhasil memberikan bahan bacaan ke para santriwati pada akhirnya, tapi itu penyelesaian yang terlalu mudah buat saya. Bahkan speech dia di hadapan penghuni pesantren menjadi suatu hal yang sulit dipercaya, ada sebuah peralihan karakter yang terlalu tiba-tiba.</p>
<p>Feminisme dalam Islam memang menjadi inti cerita ini. Bahwa perempuan mempunyai hak dan kodrat yang sama dalam hidup ini, itu adalah hal yang mutlak. Tapi ketika yang kita lihat adalah seorang perempuan ngotot di hadapan lelaki yang lebih ngotot, saya menjadi hilang arah; apakah film ini mengenai perlawanan keras atau mengenai persamaan hak?</p>
<p>Karena saya selalu percaya kalau otot tidak akan pernah bisa dilawan dengan otot.</p>
<p>Ah, tapi saya suka sinematografinya. <img src='http://katarangga.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=66</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Pendek&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=62</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=62#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 09:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[ 
Maaf aku baru bisa menulis surat ini sekarang.
Salah satu sahabatku baru saja kehilangan ayahnya dan karena beberapa hal, aku tidak sempat mengirimkan tulisan ini pada hari itu.
Ketika aku bertemu dengan dia di pemakaman, aku tidak berkata apa pun selain “it’s ok&#8230;” karena tidak ada kata lain yang bisa meredam pedihnya. Aku hanya bisa memeluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <img src="http://katarangga.com/wp-content/uploads/2008/12/mum.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p>Maaf aku baru bisa menulis surat ini sekarang.</p>
<p>Salah satu sahabatku baru saja kehilangan ayahnya dan karena beberapa hal, aku tidak sempat mengirimkan tulisan ini pada hari itu.</p>
<p>Ketika aku bertemu dengan dia di pemakaman, aku tidak berkata apa pun selain “it’s ok&#8230;” karena tidak ada kata lain yang bisa meredam pedihnya. Aku hanya bisa memeluk dirinya erat dan aku tahu, hanya itu yang dia butuhkan dari aku; bukan nasihat, bukan kalimat menghibur. Dia hanya butuh untuk tahu aku ada untuk dia pada saat itu.</p>
<p>Karena kepedihan itu hal yang sangat pribadi.</p>
<p>22 tahun yang lalu aku mengalami hal yang sama. Ingat kan ketika aku hanya bisa memeluk tanpa bisa berkata-kata sementara Mama menjeritkan nama Papa di samping tanah yang masih merah. Maafkan aku telah berbohong selama seminggu mengatakan dia ada di ruangan sebelah, tapi itu adalah hal yang terbaik karena Mama tidak akan bisa menerima kenyataan itu sementara kondisi fisik Mama masih lemah.</p>
<p>Sepuluh tahun kemudian hal yang sama terjadi lagi. Aku hanya bisa memandang Mama  terbaring tenang. Walau aku merasa siap menerima kenyataan itu, aku tidak tahu aku akan merasa sakitnya lama kemudian. Bukan pada saat garis itu menjadi rata, bukan pada saat tanah menyelimuti Mama dan bukan saat aku terdiam di rumah beberapa malam setelahnya.</p>
<p>Kosong itu terasa ketika aku mendapat nilai yang bagus untuk lukisanku, ketika akhirnya aku memenangkan lomba komik, ketika aku menerima gaji pertamaku dan ketika aku ingin memperkenalkan pasanganku.</p>
<p>Sebuah kosong yang lebih pedih daripada kehilangan.</p>
<p>Aku tahu untuk sahabatku, ini adalah fase marah. Marah karena mungkin dia merasa belum melewatkan waktu sebanyak yang dia mau dengan ayahnya, marah karena dari begitu banyak orang, kenapa harus ayahnya yang pergi dan begitu banyak alasan lainnya.</p>
<p>Aku merasa beruntung karena Mama sudah mengajarkan aku bahwa hidup ada karena mati. Ketika akhirnya Mama beranjak menyusul Papa, aku hanya teringat dua minggu terakhir yang kita lewati bersama; perbincangan mengenai cinta, hidup, pekerjaan, rokok (hal terakhir yang Mama larang karena, “bikin mulut bau&#8230;”) dan terutama, hidup kita bersama. Aku masih sering tersenyum mengingat ketika aku datang menjenguk, aku menemukan gambar yang Mama iseng buat di buku sketsaku. Ah, bodohnya diriku tidak pernah menyimpan gambar itu kecuali di ingatanku.</p>
<p>Pedih itu menyerang ketika hidup terus berjalan, walau tanpa diri Mama. Aku merasa dikhianati, dibohongi dan ditinggalkan oleh yang di Atas. Jari telunjuk yang mengarah ke tanah telah tergantikan jari tengah yang pongah mengacung ke langit. Dan aku merasa sepi; tidak ada apa pun yang bisa membuatku tersenyum dengan tulus. Optimisme bermetamorfosa menjadi sinisme.</p>
<p>Kekosongan itu lah yang membuatku ingin melangkahkan kakiku ke sebuah ruang kosong di hadapanku, sekitar 30 meter di atas tanah beraspal. Namun di saat itulah aku sadar bukan itu yang kalian harapkan dari diriku. Kalian hanya ingin aku menikmati kehidupanku dengan caraku. Sakit itu memang seharusnya bukan penghambat, namun pemicu impianku.</p>
<p>Aku akhirnya terus berjalan, karena aku tahu kalian menginginkan aku untuk tetap memandang horison dengan kepala tegak; terus memilih jalan dengan segala konsekuensinya.</p>
<p>Dan itu yang aku lakukan sampai sekarang.</p>
<p>Pada tanggal 27 Desember ini, seperti biasa aku merencanakan hal-hal yang bisa kita lakukan bersama, hadiah apa yang bisa aku beri ke Mama.</p>
<p>Aku tahu hadiah apa yang Mama inginkan selalu sama; senyumku menyambut hidup yang terpampang luas di depanku.</p>
<p>Selamat ulang tahun, Mam&#8230;</p>
<p>-Ditto-</p>
<p>PS: Kalau kalian bertemu dengan Ismail Marahimin, aku dengar beliau sangat menikmati diskusi panjang ditemani secangkir kopi hitam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=62</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton yuk!</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=60</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=60#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 08:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Layar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.
Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.</p>
<p>Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum pemutaran film utama selalu ada <em>trailer</em> dan kebetulan pada saat itu yang diputar adalah <em>trailer</em> film horor. Nah, sebagai anak berumur 6 tahun, saya harus berhadapan dengan sebuah tangan terpotong yang berjalan menyusuri tangga bak laba-laba dan adegan itu disorotkan ke layar yang lebar selebar-lebarnya. Bayangkan, tangan sebesar itu di depan saya. Saking takutnya, saya tidak bisa menutup mata.</p>
<p>Saya bahkan sampai tidak ingat alur film Zorro itu. Yang ada di dalam kepala saya adalah potongan tangan yang merambat pelan. Ya sudah lah, saya pada saat itu langsung memutuskan tidak akan masuk ke dalam bioskop, kalau bisa bahkan seumur hidup.</p>
<p>Ketika saya berumur sekitar 9 atau 10 tahun, ibu saya kembali mengajak saya menonton di bioskop. Saya tidak ingat persisnya, tapi kalau tidak salah ada saat saya teriak-teriak di kamar menolak untuk ikut pergi. Tapi ibu saya memaksa dan bahkan meminta maaf bahwa selama ini dia tidak pernah membawa saya ke bioskop. Entah bagaimana caranya, akhirnya saya ikut pergi bersamanya. Setelah film selesai diputar, ternyata saya menemukan bahwa menonton di bioskop itu menyenangkan. Oh, filmnya waktu itu adalah Crocodile Dundee. Mungkin saya suatu hari harus berterima kasih ke Paul Hogan yang telah mengembalikan saya ke ruang bioskop.</p>
<p>Setelah itu saya pun menjadi sering meminta ibu saya untuk menonton bioskop dan tiba-tiba saya menjadi suka menonton film, baik di layar lebar atau lewat <em>betamax</em>. Kadang saya dan ibu saya menyewa beberapa film untuk ditonton bersama. Komposisinya pada saat itu biasanya adalah satu kartun jepang, satu film keluarga dan satu film serius yang akan ditonton ibu saya. Saking seringnya kami meminjam video, kami sering dapat hadiah dari tempat penyewaan, hehehe.</p>
<p>Ada satu masa setelah lulus SD dimana saya menganggur karena visa untuk sekolah di luar negeri tak kunjung keluar sementara ibu saya telanjur mengambil pekerjaan di Jerman. Akhirnya saya sempat tinggal beberapa bulan bersama salah satu kerabat saya yang punya koleksi <em>laserdisc</em> yang cukup lengkap. Karena saya tidak ada kegiatan siang hari, saya pun mulai menontoni film-film itu. Dari mulai film-film action kelas B sampai film serius. Entah kenapa, saya menikmati dunia fiksi di layar kaca itu. Bahkan saya menonton film yang berjudul <a href="http://www.imdb.com/title/tt0077713/" target="_blank">I Spit on Your Grave</a>, sebuah film cult yang sangat sadis dan berat tentang perkosaan dan konsekuensinya. Meskipun yang saya tangkap dari film tersebut pada saat itu adalah sekedar ada wanita telanjangnya.</p>
<p>Dan saya akhirnya mempunyai preferensi <em>genre</em> yang spesifik; komedi atau <em>action</em>. Sangat standar sebenarnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, <em>wong</em> saya terekposnya dengan itu; masih sangat tergantung pilihan si pemilik <em>laserdisc</em>.</p>
<p>Pada tahun 1994, saya menonton sebuah film yang mengubah persepsi saya mengenai film sekaligus memperluas selera saya. Film itu adalah Pulp Fiction yang dibesut oleh Quentin Tarantino. Yang saya tonton pada saat itu bukan hanya sekedar film, tapi bisa dibilang sebuah orgi yang melibatkan mata, telinga dan otak; visual yang sangat bervariasi tapi harmonis (dedikasi Tarantino ke beberapa genre favorit dia), musik dan <em>scoring</em> yang keren dan tentunya dialog yang lucu tapi cerdas. Ditambah permainan waktu yang tidak linear membuat saya makin terkagum-kagum dengan film ini.</p>
<p>Setelah itu saya baru sadar bahwa banyak hal lain yang bisa ditangkap dari sebuah film; tidak hanya sekedar gokil, tapi juga kenapa film itu bisa bagus. Mulailah saya berkelana ke banyak ranah genre film yang ada dan untungnya, televisi di Eropa bisa mengakomodir keinginan saya dengan memutar banyak pilihan film.</p>
<p>Ternyata film bukan sekedar hiburan.</p>
<p>Sebagaimana cerita dalam bentuk apa pun, film mengajak penontonnya untuk masuk ke sebuah dunia yang dibentuk oleh para penciptanya. Selalu ada yang bisa kita dapatkan dari sebuah film sesuai dengan pengalaman kita.</p>
<p>Pengalaman.</p>
<p>Film memberikan sebuah pengalaman yang baru ke penontonnya.</p>
<p>Itulah yang saya rasakan akhirnya; menilai sebuah film bukan lah dari sekedar bagus tidaknya aktor berperan, cara bertutur ceritanya dan hal-hal teknis lainnya, tapi apakah film itu bisa memberikan saya pengalaman yang berbeda.</p>
<p>Itulah sebabnya buat saya, tidak ada film yang tidak patut ditonton, karena saya berpikir saya harus tetap membuka pikiran saya, sebagaimana layaknya hidup. Tapi horor asia tetap saya hindari, karena rasanya pengalaman itu saya tidak butuh-butuh amat, hehehe.</p>
<p>Itulah sebabnya saya tetap bilang film Ultraviolet tidak jelek, wong saya ngakak sampai habis atau Daun di Atas Bantal bagus karena saya mempunyai pengalaman berbeda lewat sudut pandang anak jalanan.</p>
<p>Itulah sebabnya saya ingin banyak menonton film di JiFFest 2008.</p>
<p>Berbagai pengalaman baru ditawarkan ke saya dan saya tidak ingin melewatkannya begitu saja.</p>
<p>Selamat menonton!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=60</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Pariwara 2008&#8230;</title>
		<link>http://katarangga.com/?p=59</link>
		<comments>http://katarangga.com/?p=59#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 10:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rangga</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Iklan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katarangga.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pesta berakhir sudah. Paling tidak untuk tahun ini.
Citra Pariwara merupakan sebuah ajang unjuk gigi di industri periklanan yang paling ditunggu-tunggu, setidaknya oleh para praktisinya. Namun ada satu hal yang berbeda saat ini; tempat acara dipindah ke Senayan City. Saya pribadi sangat senang karena saya bisa melihat dengan langsung reaksi masyarakat awam terhadap iklan-iklan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah pesta berakhir sudah. Paling tidak untuk tahun ini.</p>
<p><a href="http://blog.cp2008.org" title="Blog CP" target="_blank">Citra Pariwara</a> merupakan sebuah ajang unjuk gigi di industri periklanan yang paling ditunggu-tunggu, setidaknya oleh para praktisinya. Namun ada satu hal yang berbeda saat ini; tempat acara dipindah ke Senayan City. Saya pribadi sangat senang karena saya bisa melihat dengan langsung reaksi masyarakat awam terhadap iklan-iklan yang diikutkan dalam kompetisi ini. Biasanya acara ini diselenggarakan di tempat yang tertutup. Ruang yang terbuka ini memberikan sebuah insight yang lebih jelas ke kami khususnya, apa sih sebenarnya reaksi orang melihat iklan “aneh”?</p>
<p>Ternyata reaksi yang timbul berbeda-beda; seorang ibu terlihat bingung melihat sebuah iklan sampai harus mendekatinya jarak lima sentimeter, seorang anak langsung minta dibelikan es krim melihat sebuah iklan bervisual itu dan lucunya, ada seseorang yang sampai datang dua kali untuk, tolong pegangan, MEMBELI salah satu karya yang dipajang.</p>
<p>Apakah artinya fenomena ini? Buat saya, masyarakat sudah bisa menikmati iklan sebagai karya seni. Jarak antara mereka dan karya sudah semakin sempit. Karena kita sering lupa bahwa sebenarnya masyarakat sudah berubah; mereka juga bergerak walaupun mungkin tidak secepat yang kita inginkan, tapi mereka bergerak.</p>
<p>Seorang teman mengungkapkan ke saya bahwa teknologi telah membuat orang semakin berjarak, sudah tidak ada lagi sentuhan personal antar manusia. Selamat ulang tahun hanya tersampaikan lewat pesan pendek atau<em> e-mail</em>, misalnya. Tapi menurut saya, sebenarnya sudah terjadi sebuah pergeseran nilai seiring majunya jaman. Buat misalnya om atau tante saya, mungkin sebuah sms adalah hal yang tidak sopan, namun buat saya pribadi tidak masalah sama sekali. Masih untung orang itu ingat untuk menghubungi saya. Setiap era mempunyai cara berkomunikasi yang berbeda. Mungkin satu hari anak saya cuma akan berkomunikasi ke saya lewat <a href="http://twitter.com" title="Twitter" target="_blank">Twitter</a> dan walaupun saya tidak akan suka, tapi ya itu adalah norma yang akan berlaku.</p>
<p>Sebagai orang yang berkecimpung di dunia komunikasi, saya merasa bahwa saya tidak mengenal target saya dengan baik. Sering saya berpikir, wah buat orang desa bagusnya bikin iklan radio; mereka pasti hanya mendengarkan itu sepanjang hari. Ternyata mereka sama sekali tidak menyentuh benda itu, mereka malah menonton televisi walaupun hanya pada jam-jam tertentu.</p>
<p>Asumsi.</p>
<p>Saya suka sebuah kalimat asing yang berkata, <em>“Assume is making an ass of u and me.”</em> Memang benar. Kita terlalu berasumsi target kita suka ini, tidak mengerti itu, jalan ke sana, makan di sini. Padahal kalau kita lihat dengan benar, mereka sama sekali tidak melakukan semua hal itu. SES dan segalanya sudah menjadi sebuah sistem yang kuno. Karena masyarakat berubah setiap waktu. Kalau saya menghabiskan 1 juta sebulan untuk makan dan bulan depan karena sering meeting saya makan lima juta, apakah SES saya tiba-tiba berubah? (anekdot favorit <a href="http://pakde.com" title="Blognya Pakde" target="_blank">Pakde</a>, <em>planner</em> kantor saya)</p>
<p>Setelah saya ngalor-ngidul tentang itu, apa sih intinya? Hehehe.</p>
<p>Strategi adalah sebuah hal yang sangat penting dalam periklanan. Inilah senjata kita untuk bisa mengomunikasikan sebuah pesan dengan efektif dan efisien (dua kata yang asing di Indonesia, percaya deh). Saya melihat di iklan-iklan luar biasa keren yang dikompetisikan di Citra Pariwara saat ini, ada sebuah (lagi-lagi) jarak antara brand personality dan ide. Padahal sebenarnya bisa kan sebuah iklan keren berbicara tentang produknya tanpa mengorbankan strategi yang ada.</p>
<p>Dan strategi sebenarnya menjadi bahan utama dari seminar-seminar yang berlangsung di Citra Pariwara tahun ini. Kita bisa melihat bagaimana Agnello Dias dan tim dari JWT Mumbai berhasil menggondol Grand Prix di <a href="http://www.canneslions.com" title="Cannes Lions" target="_blank">Cannes Lions</a> bukan dari segi eksekusi keren, tapi dari pemikiran awalnya; pemecahan sebuah masalah yang akhirnya malah terus menggelinding membesar dan melakukan perubahan signifikan di India.</p>
<p>Penghargaan iklan masa kini bukan lagi masalah keradikalan sebuah ide, keindahan visual ataupun kecerdasan sebuah copy, tapi lebih ke apakah semua itu bisa melakukan perubahan yang berarti.</p>
<p>Iklan adalah ajakan untuk berubah. Dari pasta gigi A ke B, dari penyalur telepon C ke D dan sebagainya.</p>
<p>Lebih dari itu, iklan adalah ajakan untuk mengubah kebiasaan, mengubah pola pikir&#8230;. Mengubah diri.</p>
<p>Alangkah bagusnya senjata itu bisa kita gunakan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.</p>
<p>Tidak melulu berteriak menyuruh membeli dan yang pasti, tidak melulu saling mejeng adu keren.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katarangga.com/?feed=rss2&amp;p=59</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
