Kata Rangga

Entries Comments


Dunia lain…

3 April, 2008 (18:41) | Hidup

Saya masih ingat pertama kali saya berkenalan dengan dunia internet. Waktu itu sekitar tahun 1997 kalau tidak salah. Yah, memang sih, saya sedikit telat. Sementara yang lain sudah asyik chatting di mIRC, saya masih terkagum-kagum dengan banyaknya situs berlabel “sex” di mesin pencari Yahoo. Saya menggunakan media internet dulu untuk mencari lirik lagu, berita-berita dari Indonesia dan juga chatting menggunakan situs bernama Alamak. Pokoknya saya dulu benar-benar gaptek deh. Oh, dan pada saat itu saya akhirnya mempunyai alamat email memakai jasa Hotmail. Rasanya dulu keren banget punya benda itu; hal yang sekarang sudah menjadi sangat umum.

Setelah saya kembali ke Indonesia, saya sempat vakum berinternetan sekitar dua sampai tiga tahun. Alasannya sederhana: saya tidak mempunyai akses di rumah. Tapi ya sudah lah, wong saya tidak butuh-butuh amat.

Suatu hari saya berjalan-jalan ke sebuah pertokoan di seberang tempat tinggal saya. Ternyata ada sebuah warnet yang pada saat itu cukup cepat koneksinya. Murah lagi. Akhirnya saya pun mulai kembali mengunjungi dunia maya itu. Saya mulai menelusuri setiap pojokannya. Kalau internet adalah sebuah kota, maka saya sudah jalan-jalan dari daerah glamornya sampai ke red light district-nya, hehehe.

Nah, tahun 2002 akhir, saya mulai bekerja di sebuah biro periklanan kecil. Di situ saya mendapat akses tak terbatas ke internet, mau men-download, mau browsing, mau ngeliat hal-hal “seru”, no problemo lah. Terserah. Seperti yang saya bilang di salah satu tulisan saya dulu, pada saat itu lah saya mulai menulis blog.

Sebuah revolusi ternyata sedang terjadi di masa itu. Sebuah gaya berinternet baru sedang muncul, perlahan pada awalnya tapi bak virus ganas, penyebarannya meluas dengan cepat.

Blog adalah hal yang sangat luar biasa buat saya. Pada awal-awal saya berinternet, yang saya lakukan hanyalah menerima konten yang dibuat orang lain, baik individual maupun secara korporat. Tidak terbesit di kepala saya bahwa saya pun bisa mengkontribusikan sesuatu ke dalam dunia itu. Saya hanyalah seorang turis di dalamnya. Hanya boleh melihat, tapi tidak bisa mengubah.

Dengan adanya blog, kita sebagai pengguna diberikan kesempatan untuk memberikan sesuatu ke dunia. Apalagi didukung dengan adanya aplikasi-aplikasi yang sangat sederhana dari berbagai penyedia. Dunia internet menjadi sebuah dunia dimana elitisme sudah tidak ada lagi. Semua orang sama. Hidup sosialisme!

Tapi semua kebebasan ada harganya. Seperti halnya hidup, selalu ada yang baik dan selalu ada yang jahat. Di sebuah dunia yang kebebasannya bisa dibilang mutlak, kedua sisi itu akan selalu ada. Internet adalah lebih dari sebuah tempat, dia juga adalah sebuah alat dan sebagaimana layaknya sebuah alat, dia bisa digunakan dengan tujuan yang baik ataupun sebaliknya.

Sebuah pena bisa dipakai untuk menulis dan juga bisa dipakai untuk membunuh –ditancapkan ke bola mata, misalnya-.

Tapi bukan berarti kita harus memberikan label alat pembunuh ke sebuah pena, bukan?

Seseorang baru-baru ini mengatakan bahwa para blogger adalah, singkatnya, penjahat. Mereka tidak ada bedanya dengan hacker-hacker yang jahat, suka merusak, suka mencuri dan tidak rajin menabung. Saya sendiri terus terang sempat terpana membaca beritanya. Masalahnya orang ini sudah ditetapkan –entah oleh siapa- menjadi pakar di bidang ini. Saya sebenarnya tidak suka berprasangka buruk, tapi dalam kasus ini, kok saya jadi sangat antipati ya. Saya pernah mengatakan, benci itu butuh alasan. Nah, saya menemukan alasan untuk tidak suka orang ini. Apalagi dia mulai menyebutkan nama tanpa bukti sedikit pun. Kalau tidak salah ada istilah untuk perbuatan ini.

Oh iya. Fitnah.

Memang ada blog yang isinya tidak benar, tapi bukan berarti semuanya seperti itu. Sebelum dia berkomentar, apakah dia sudah menjelajahi semua blog indonesia dan setelah dianalisa, oh memang ternyata 90% blog indonesia itu sampah, ergo semua blogger indonesia adalah penjahat?

Saya akhirnya hanya bisa tertawa sendiri.

Tapi akhirnya saya merasa sedih. Menurut saya, kemajuan negara ini bergantung ke internet sebagai sebuah medium pertukaran pengetahuan karena masing-masing daerah saling terpisah secara geografis. Saya pernah berdiskusi dengan sahabat saya mengenai kemajuan Eropa yang melampaui Cina. Secara teknologi, Cina telah maju jauh sebelum Eropa, tapi mengapa pada akhirnya, kemajuan itu tersendat. Satu-satunya “teori” yang bisa kami temukan adalah secara kultural, Eropa jauh lebih bervariasi dan lancarnya perputaran informasi antar negara memfasilitasi kemajuan itu –terjadi kemungkinan besar di jaman Renaissance-.

Indonesia memerlukan itu untuk bisa maju. Internet adalah salah satu cara yang paling efisien dan efektif untuk melakukan pertukaran itu. Ketika internet mendapatkan publikasi negatif, para calon pengguna akan berpikir dua kali untuk menggunakannya. Sayang sekali.

Dan publikasi negatif itu sudah membuahkan hasil. Sebuah undang-undang telah disahkan dan itu akan banyak mencanangkan pagar di dunia yang seharusnya lapang itu.

Ini bertentangan dengan konsep kebebasan di internet.

Ini akan membuat dunia internet di Indonesia berjalan mundur. Kemajuan yang saya harapkan akan perlahan tersendat sampai mencapai titik mati.

Sebuah institusi tidak berhak untuk mengatur dunia ini. Ini adalah sebuah komunitas, tidak ada pemimpin apalagi diktator. Polisi pun hanya sebatas menyergapi cyber crime dan pornografi anak, bukan pornografi umum.

Saya pendukung fanatik kemajuan lewat internet, baik dari segi individual maupun komunal. Ketika medium ini juga para penggunanya diberi nama buruk dan dibatasi gerak-geriknya, saya menjadi pesimis tentang masa depan negara ini.

Ide tidak sepatutnya dibatasi.

Biarlah ide berevolusi. Biarlah masyarakat belajar dan berkembang sendiri. Berikan mereka kebebasan untuk berekplorasi. Karena hanya dengan cara itulah mereka akan maju.

Tuhan telah mengkaruniai manusia kemampuan untuk memilih. Siapakah kita untuk berani mencabutnya?

« Judeeeeee…

 Kendala kendara… »

Comments

Comment from ii
Time: April 3, 2008, 6:54 pm

iya punya pilihan, memilih menjadi pintar atau bodoh…

Comment from imam
Time: April 3, 2008, 7:44 pm

Menurut seorang pakar, 68% persen blogger adalah orang iseng, kriminal, dan hacker. Iya, dan hacker! Blogger itu hacker, kata beliau.

Hi Roy! -ciee.. kaya blogger gaul.

And I, I dont even write blog post anymore for almost a year -bro.

Comment from Nia
Time: April 3, 2008, 7:44 pm

Menurut gue, yang penting ngga ada jalan buat anak-anak di bawah umur buat mengakses “informasi” yang “berbahaya”. Dengan kata lain ini PR buat warnet dan pengguna internet rumahan buat memastikan perangkat internetnya “child proof”. Tapi kalo dibabat semuanya…hmmm…bukan masalah setuju gak setuju..tapi apa pemerintah kita sanggup?? Lha wong membabat pungli aja ngga becus, apalagi menyensor dunia maya…hehehehe

Comment from imam
Time: April 3, 2008, 7:52 pm

Kita lihat saja, is there any wisdom in this crowd.

Saya masih agak skeptis ketika budaya latah, sungkan, dan feodalisme masih juga kita bawa-bawa ke dunia maya. Which is not always bad, though.

After all, it is the people who generate the content. The same old people and the same old culture.
Seperti yang pernah kita diskusikan tentang twitter -dan iya, tentang blog juga.

Comment from rangga
Time: April 3, 2008, 8:44 pm

Ii: Yups, masalahnya, ketika medium untuk memilih menjadi pintar dibatasi, masyarakat otomatis jadi gak bisa memilih… free will rules!

Imam: budaya latah, gak papa… gua suka, minimal semua orang jadi mencoba dan sering banget justru ada yang menemukan “panggilan hidup”nya di situ. Sungkan, ya well, oke lah… nah feodalisme ini yang gua gak setuju. Itu harusnya gak ada di dunia itu. People-generated contents would always generate new ideas, it’s a pot pourri of thoughts which would, in the end, create a new culture.

Nia: Setuju… pendidikan mengenai konten yang berbahaya HARUS selalu dimulai di rumah. Dan itu bukan masalah yang harus ditanggulangi pemerintah, sanggup atau gak sanggup, kecuali tentunya buat child pornography. Masih banyak hal lain yang harus diurus pemerintah…

Comment from ii
Time: April 4, 2008, 10:49 am

iya, cuma orang bodoh (atau mungkin buta?) yang punya pikiran untuk membatasi medium untuk memilih itu..

Comment from Marisa
Time: April 5, 2008, 4:53 pm

Well written article. I found this blog by accident.
Guess from where? Enda Nasution’s iLike application. On Facebook. Yes.

Saya pendukung fanatik kemajuan lewat internet, baik dari segi individual maupun komunal. Ketika medium ini juga para penggunanya diberi nama buruk dan dibatasi gerak-geriknya, saya menjadi pesimis tentang masa depan negara ini.

Ide tidak sepatutnya dibatasi.

Biarlah ide berevolusi. Biarlah masyarakat belajar dan berkembang sendiri. Berikan mereka kebebasan untuk berekplorasi. Karena hanya dengan cara itulah mereka akan maju.

Tuhan telah mengkaruniai manusia kemampuan untuk memilih. Siapakah kita untuk berani mencabutnya?

Berarti Tuhan juga yang sudah mengkaruniai manusia kemampuan untuk mencabut kemampuan manusia lain untuk memilih. Kalau kita bicara Tuhan ..hal yang buruk dan menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh akal sehat pun bisa a/n Tuhan. Pertanyaannya: Tuhan yang di alam pikir, alam jiwa, dan alam indrawi kita itu Tuhan yang bagaimana, itulah yang menentukan kualitas kita sebagai individu, komunitas, atau suatu negara. Biarlah ide berevolusi, yap. Biarlah segala paradigma dan birokrasi lama berevolusi. Biarlah Tuhan berevolusi juga? Nah lo. Disitu letak kontradiksinya.

Oleh karena itu pula, kebebasan ideologi di Indonesia akan selalu menghadapi rintangan.

Comment from rangga
Time: April 5, 2008, 5:43 pm

Ii: Yeah well… seperti yang loe bilang, kita bebas memilih antara menjadi bodoh atau pintar… :)

Marisa: Semua tindakan akan selalu bisa dilakukan atas nama Tuhan, itu benar. Mau yang baik maupun yang buruk. Semua sangat tergantung dengan nilai dan norma yang sudah disepakati maupun yang “dititahkan”. Hehehe. Anyway, semua berevolusi. “Bentuk” Tuhan pun sudah berevolusi dari masa ke masa; apa yang ada di kepala kita tentang Dia akan terus berubah sepanjang masa dan pada akhirnya kepercayaan itu pun akan berevolusi. Buat gua, gak ada kontradiksi antara evolusi ide dan kepercayaan. Duh… hari sabtu diskusi berat… mulai gak bener nih. Salam kenal yaaa… :)

Comment from someone
Time: April 7, 2008, 1:02 am

HOREEEE… Rangga juga ikut berjuang dengan tulisannya.

Aku senang!

Hendaknya perjuangan ini terus dikumandangkan dengan nalar yang sehat. Bukan balik menghujat atau mengkerdilkan oknum tertentu karena hanya akan balik mengkerdilkan diri si penghujat itu sendiri.

Titip pesan perjuangan:
JANGAN MULAI MEMULAI SLOGAN ATAU STIKER ATAU POSTER BENTUK APA PUN YA! :)

Ini perjuangan integritas pikiran.
Bukan sesuatu yang trendi untuk ditempel di kafe-kafe. Menjadi stiker tak bergema di kaca2 mobil. Bukan fesyen yang kita bawa untuk mendapat pengakuan sosial di antara sosialnya.

Menulislah dengan benar, pujanggaku!

Comment from suamimalas
Time: April 8, 2008, 9:43 pm

gilee…beeennerr…penulis dan pengunjung blog ini bahasanya pujangga semuaa…jadi minder…
*Minggir teratur ahhh…..*

Comment from aLex wawo
Time: April 10, 2008, 7:50 am

yoi… internet dunia bebas…. ga boleh diatur2…

kadang yang negatif juga perlu dilihat, biar pikiran kita lebih terbuka…hehe…

Pingback from Dunia Lain - Rangga S. « Mata Cahaya Maya
Time: April 10, 2008, 5:00 pm

[…] http://katarangga.com/?p=39 […]

Pingback from Talk is Cheap. Give It For Free. - Journal by The Lightbeamers, MD.
Time: April 13, 2008, 11:22 pm

[…] Dunia lain…, authored by Rangga […]

Comment from indybrat
Time: April 20, 2008, 9:55 am

853 kata, gak ada kata “kentara” sama sekali?

Write a comment