Kata Rangga

Entries Comments


Kendala kendara…

24 April, 2008 (20:32) | Hidup

Sampai saat ini saya belum mempunyai kendaraan sendiri. Entah kenapa, benda yang satu itu selalu saya kesampingkan dalam daftar prioritas saya, meskipun ada suara kecil yang berkata, “Ayo laaah, bisa kok beli mobil…” Tapi saya kok masih belum tertarik ya?

Selama ini saya berpergian dengan mengandalkan angkutan umum. Saya selalu kagum dengan semua warna kehidupan yang menghiasinya. Dulu ketika saya masih tinggal di daerah Rempoa, saya selalu setia naik bis untuk pergi ke kantor saya yang terletak di Tebet. Rutinitas saya adalah bangun jam 7 pagi, menunggu jam 8.30 untuk berangkat dan menikmati perjalanan selama sekitar satu setengah jam dengan berbagai medium: Metro Mini, bis dan akhirnya ojek (biar gak becek, halah).

Dan saya senang melihat hal-hal yang terjadi sepanjang perjalanan. Kadang saya suka iseng membeli barang-barang murah meriah yang dijajakan di Metro Mini menjelang masuk terminal Blok M. Ada pulpen Rp 1.000,- dapat dua biji, lem super kuat yang akhirnya bakal luntur juga setelah beberapa bulan, buku notes kecil, peniti (saya dulu pernah butuh banyak, lumayan, Rp 1.000,- dapat banyak), TTS (hehehe… gak pernah kelar) dan banyak pernik lainnya. Belum lagi penumpangnya, mau dari mbak-mbak wangi sampai anak-anak SD bau matahari. Agak aneh, kok pagi-pagi sudah beraroma begitu, padahal kan mereka belum beraktivitas.

Saya juga senang mengamati kreatifitas para pengamen jalanan. Mulai dari jamannya hanya menggunakan gitar tua yang agak fals sampai masa-masa dimana tiba-tiba ada sebuah band masuk Metro Mini, lengkap dengan loudspeaker mini. Yang cukup bertahan adalah krecekan tutup botol, tapi itu sepertinya hanya diperuntukkan bagi kasta anak-anak kecil. Saya sering menyiapkan beberapa recehan untuk mereka; besar kecilnya tergantung performa mereka. Kalau memang outstanding, seperti pernah ada satu pemuda menyanyikan beberapa lagu asing (termasuk The Beatles) dengan fasih dan merdu, maka beberapa lembar ribuan pun keluar. Tapi kalau asal bersuara lengkap dengan lirik “Mengapaaaa uhmmm hmmmm hmmmm hmmmm…”, maka maaf sekali, saya hanya akan memberikan salam saja.

Tapi sebenarnya yang sangat menarik adalah taksi. Kadang kalau bertemu yang cocok, saya akan sangat menikmati perbincangan one on one sepanjang perjalanan. Tapi seringkali memang saya mendapat yang tidak terlalu oke, yang hanya diam saja atau paling parah, berkali-kali menutup mata karena terlalu mengantuk. Nah, kalau seperti itu kejadiannya, saya langsung ajak mengobrol tentang apapun.

“zzzzz…”

“Pak, namanya Wongso, saking pundi jowo nipun, pak?”

“zzzzzz… uh huh… Pati…”

(lima menit kemudian)

“Pak, seragamnya baru ya, masih licin tuh…”

“zzzz… huh huh, iya nih, kemaren baru dapet.”

Intinya, tetap membuatnya terjaga dengan obrolan, karena sayangnya saya tidak terbiasa membawa seember air kemana-mana.

Namun kadang saya mendapatkan supir taksi yang enak diajak mengobrol. Apalagi kalau dia biasa “ngalong” (shift malam) karena selalu ada cerita-cerita seru dan kadang, saru. Seperti misalnya suatu saat ada satu yang menceritakan suka-dukanya mencari pelanggan di bilangan Melawai. Konon ada sebuah klub jepang yang selalu penuh dengan ekspat negara itu dan mereka selalu membawa “oleh-oleh” untuk dibawa pulang atau ke tempat lainnya. Supir itu bercerita kalau dia sudah mempunyai daftar kos-kosan ataupun hotel-hotel transit di sekitar daerah itu karena biasanya penumpangnya sudah terlalu mabuk untuk bisa memilih tempat. Yang penting privat dan bisa indehoy –wuih, bahasa lama-.

Suatu malam salah satu supir yang sering mangkal di Blok M itu bercerita ke saya tentang bagaimana dia punya langganan seorang hostess yang bekerja di tempat itu. Lucunya sewaktu pertama kali, si mbak ini tidak punya uang, sehingga dia menawarkan pak supir untuk memakai mata uang non materiil. Tentu saja bapak ini menolak, meskipun kata beliau, dixit, “Sebenernya agak nyesel sih, dek, cantik lhoo!” Halah. Tapi mereka akhirnya pun berhubungan baik dan si bapak taksi selalu punya langganan setiap malam.

Ada juga yang pernah menjadi saksi sebuah drama rumah tangga seorang anak jendral. Istri anak itu akhirnya tidak tahan sehingga kabur, mengaku ke rumah kakak padahal langsung ke bandara dan pergi ke Sumatra dengan berbekal segepok uang di dalam pakaian dalamnya. Pak supir bercerita dengan penuh gusto dan mungkin menambahi bumbu-bumbu pedas dalam ceritanya. Tapi perjalanan malam itu buat saya jadi menyenangkan.

Bahkan pernah suatu hari ada yang curhat ke saya, supirnya masih muda dan cukup gaul. Sering kelepasan melontarkan kata “gua” dan akhirnya kami saling ber-“loe-gua”. Intinya dia mau menikah tapi kok dia kepincut sama wanita lain. Halah, lagi-lagi masalah rumput tetangga. Tapi cukup lucu mengobrol dengan dia, sayangnya perjalanan saya dari CiToS ke Tornado tidak cukup panjang untuk lebih mendalami persoalan.

Hal-hal seperti itulah yang membuat saya lebih menikmati hidup sebenarnya. Melihat langsung drama kehidupan kota besar di tengah-tengah pelakunya.

Tapi lama-lama, secara finansial, kantong saya mulai teriak.

Mungkin sudah saatnya…

« Dunia lain…

 Pulau Dewata… »

Comments

Comment from ii
Time: April 25, 2008, 10:03 am

rumah saya yang jauh tidak menolong yah.. hehehe

Comment from indybrat
Time: April 25, 2008, 12:15 pm

Kalau supirnya ugal-ugalan, biasanya gue suka bilang, “Pak, tolong nyetirnya yang bener. Saya lagi hamil nih..” Hayaah! Alesan pisan. Hayo, Rangga, lain kali tulis cerita Tentara Kentara!

Comment from Alia
Time: April 25, 2008, 1:00 pm

Iyah nih Rangga… dulu2 gw juga masih bisa menikmati naik angkutam umum (yes, dan juga naik Kereta ke bogor!),
tapi entah kenapa kok setelah dihitung-hitung.. apalgi udah beberapa taun terakhir ini, cuma mau pake taksi.. wuihh kok yah tekorrr… jadi mikir2 serius nih buat beli mobil huhuhuh

ayo rang ayo rang… beli mobil :D

Comment from imam
Time: April 25, 2008, 3:57 pm

Seorang sopir taksi pernah cerita suka-dukanya berpoligami. Istrinya yang satu di Depok yang satu di Bekasi. Kebetulan habis mengantar tamu hingga Bekasi, belum tentu boleh bermalam di rumah istri kalau bukan jatahnya. Begitupun kalau ke Depok. Harus adil, katanya.

Jadi sekarang kepikiran beli mobil, besok-besok mungkin rumah; Drama kehidupan kota besar juga.

Comment from Ismet
Time: April 25, 2008, 5:05 pm

Rang… emang udah saatnya untuk… melipat gandakan penghasilan… Hahahahahahahahahaha.

Comment from burat
Time: April 25, 2008, 6:15 pm

hayo hayo…memang sepertinya sudah waktunya untuk…mengganti huruf “f” jadi “v” di kata kreativitas, udh jadi copywriter loh, hwekekekekekek…piss

Comment from rangga
Time: April 25, 2008, 6:52 pm

Ii: hehehe… gak jauh-jauh amat kok.

Indy: Tadinya mau masukin kata kentara… tapi masih maksa… next time deh.

Alia: Weeeeeh, ayuk aja.. wiken ini? Warna apa?

Imam: Secara kita juga pelakunya, bukan?

Ismet: Uhhhh… I don’t know what you’re talking about…

Burat: Aahh, saya lebih suka kreatifitas… gak mau sok bule… piss juga

Comment from totot
Time: April 26, 2008, 8:21 am

Oh, No! Bukan ide bagus. Percayalah! Selain bakal makin menuhin jalan, juga bikin tambah macet aja, hehehe. :p

Comment from rangga
Time: April 30, 2008, 4:52 pm

Pakde Totot: Mobil kecil aja kooook… hehehehe… itu juga kalo kesampaian. Kantor juga gak jauh-jauh amat… ;)

Comment from fadhil
Time: May 2, 2008, 4:12 pm

Man, mobil gw aja loe beli…murah ko under 70 mill…hehe

Comment from fierman much
Time: May 8, 2008, 3:36 pm

kalo gw naik angkutan gara2nya gak mau naik motor… ngeri ui naik motor dijakarta… biarpun kitanya udah jalannya super aman… tetep aja bisa celaka gara orang lain yang jalannya ugal - ugalan… :p

trus bonusnya… kl naik angkutan kan bisa tidur… trus kl malem2 udah ngantuk jg tinggal naik taksi… gak perlu cape2 nyetir ke rumah hehehe…

kadang jg sering kejadian kyk rangga, dapet curhatan dari batman. asik jg sih… kadang jadi ikut tambah dewasa kl denger ceritanya mereka.

nyebelinnya naik angkot 1 doang… kl mereka ngetem / jalannya lambat… padahal kita pas lagi buru2 kekantor huaahahahaha….

Comment from aLexwawo.com
Time: May 9, 2008, 1:33 pm

coba alternatif lain, bike to work…
bebas polusi, sangat irit, menyehatkan…
hanya saja jarak tempuh tergantung stamina menggenjot…hehe….

Comment from Nia
Time: May 27, 2008, 4:11 pm

mobil second jg banyak yg bagus rang…DP di bawah 10 juta jg ada…
pengen sih punya mobil…tapi…gue gak bisa nyetir…huhu
mungkin motor alternatif yg baik, tp..gak bisa naik motor juga..
jadi yaa…transjakarta lagi transjakarta lagi deh…hehe

Comment from meity
Time: October 9, 2008, 9:06 am

bung rangga sama ni.
seneng aj ngliat byk orang, dgr lagu2.
berasa lebi hidup.wehehe.

*walo kalo nunggu angkot suka lamaa…xp*

Write a comment