Pelangi di layar…

Foto dari situs resmi Laskar Pelangi
Ada sebuah cerita tentang seorang pematung yang sangat handal; semua yang dia pahat selalu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Pada suatu hari, dia ditanya oleh salah seorang pengagumnya; bagaimana caranya dia bisa membuat sebuah patung gajah yang sangat indah. Dia hanya menjawab, “Saya hanya membuang apa yang tidak berbentuk gajah.”
Mengadaptasi sebuah cerita novel dalam bentuk film bukanlah hal yang mudah karena penerimaan isi dari kedua media itu berbeda di penikmatnya. Sebuah novel selalu mempunyai dua penulis; si pengarang dan pembacanya, di mana mereka akan melewati cerita itu dengan pengalaman masing-masing. Hal ini akan menghasilkan sebuah interpretasi unik pada setiap cerita karena pada akhirnya, dunia yang terbangun dalam pikiran pembaca akan berbeda-beda.
Film sebagai media audio visual tidak akan menyisakan banyak ruang untuk imajinasi kita. Penonton bisa dibilang hanya menelan apa yang disajikan oleh pencipta film itu tanpa harus turut membangun dunia baru dalam diri mereka.
Menyadur sebuah novel dalam bentuk film akhirnya menjadi sebuah situasi yang cukup rumit karena sutradara harus bisa menyajikan sebuah dunia yang sesuai dengan ekspektasi penontonnya. Apalagi untuk sebuah novel sekaliber Laskar Pelangi yang tercatat sebagai salah satu buku yang paling laris akhir-akhir ini.
Tugas Riri Riza sebagai konduktor film ini cukup berat; bagaimana dia bisa mengasah sebuah novel yang sarat dengan jargon-jargon sains, yang bahkan menurut saya agak berlebih, menjadi sebuah narasi yang bisa dinikmati oleh kebanyakan orang. Sebagai sebuah novel, Laskar Pelangi bisa dibilang cukup mengharuskan pembacanya untuk mengerenyitkan dahi; terlalu banyak istilah, teori dan pemikiran dari berbagai disiplin pengetahuan yang pada akhirnya mengaburkan inti cerita itu sendiri,
Cerita Laskar Pelangi bersituasi di Pulau Belitung pada tahun 70an, masa dimana pulau itu dipenuhi oleh nadi-nadi timah yang tak henti disedot oleh para pendatang; salah satu pulau terkaya di Indonesia dimana penduduk aslinya justru hidup dibawah garis kemiskinan. Mereka kebanyakan adalah buruh kasar pertambangan timah dan sisanya menghidupi diri dengan berdagang kecil-kecilan atau bergantung dengan hasil bumi.
Film ini menceritakan perjalanan akademis anak-anak mereka, yang karena keterbatasan finansial, bersekolah di sebuah SD Muhammadiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, namun lebih mendahulukan ajaran budi pekerti. Hal ini akhirnya menjadi tulang punggung pendidikan mereka selama 6 tahun ke depan.
Sepuluh anak, sepuluh karakter, sepuluh pribadi yang berbeda yang menyatu menjadi satu entitas yang membuat film ini hidup. Cukup lucu melihat sebuah film dimana sederetan pemain sekaliber Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer, Matthias Muchus dan lain-lain bisa dibilang hanya menjadi pemeran pendukung. Entah bagaimana caranya, Riri Riza dan tim mampu mengarahkan anak-anak asli Belitung itu bermain dengan cemerlang. Kealamian mereka dalam berakting membuat saya merasa berada di samping mereka, bukan sekedar menonton film. Perasaan yang sama ketika dulu saya melihat kelakuan anak-anak jalanan di film Daun di Atas Bantal. Saya hanya bisa berharap para laskar kecil ini tidak akan menghilang begitu saja dari peredaran.
Walau kelompok itu berisikan sepuluh anak (plus satu nantinya), namun porsi cerita terbesar diberikan ke tiga anak; Ikal sebagai narator dan benang merah, Mahar sebagai seniman kelas dan tentunya, Lintang, sang jenius. Ketiga anak inilah yang menjadi motor dinamisme perkumpulan ini dan mereka lah yang akan menjadi pusat perhatian kita sepanjang film ini. Namun kita tetap bisa melihat sinergi yang bagus antara anak-anak lainnya. Samson yang selalu berusaha menjadikan temannya berdada bidang, Sahara yang selalu mengemong Harun, Kucai yang bingung terpaksa menjadi ketua kelas dan banyak hal-hal kecil yang mewarnai persahabatan semua anak itu.
Seperti layaknya pelangi, film ini memiliki banyak warna yang akhirnya menyatu dan saya tidak akan bisa mendeskripsikannya satu per satu; pengambilan gambar, musik pendukung dan permainan para pemerannya memang harus dialami sendiri langsung, bukan hanya sekedar dari membaca ulasan ini.
Karena buat saya, film ini memang tidak memerlukan sebuah analisa yang rumit, karena bagaimana pun juga, salah satu tugas sebuah film adalah mengantarkan sebuah pesan, sebuah single message kalau di iklan. Bentuk gajah yang dipahat oleh tim produksi Laskar Pelangi.
Cita-cita yang harus dikejar apa pun kondisinya, harapan yang harus selalu kita usahakan untuk diraih.
Apa pun situasinya, kita tidak boleh menyerah kecuali terpaksa.
Sesederhana itu.
« Takut…
Kejang… »
Comments
Comment from Nia
Time: October 6, 2008, 6:51 pm
walaupun banyak bedanya dibanding novel
walaupun Lintang dewasa terlalu ganteng
walaupun peran Tora Sudiro amat sangat gak penting
tapi…
…tetap saja, film seperti inilah Indonesia butuhkan.
:))
Comment from Suar
Time: October 6, 2008, 10:42 pm
sbh perubahan progresif dr film indonesia yg layak diapresiasi stelah zaman arifin c. noer dkk berlalu. saya pribadi percaya komitmen mira lesmana, riri riza, dkk utk ini.
utk karya adaptasi mmg dilematis. toh market indonesia kebanyakan blm brpikir skritis itu.
interpretasi mereka justru g essensial bgt.
kita sama2 tunggu Drupadi akhir thn ini ![]()
Comment from rangga
Time: October 10, 2008, 6:19 pm
Indy (atau bukan?): Nonton dulu filmnya, baru situ tahu… hehehe. TOS!
Nia: Film yang kita semua butuhkan setelah banjir film horor, cinta picisan, humor selangkangan… huh!
Suar: Saya juga menunggu Drupadi, penasaran. Saya yakin film-film ini bisa jadi katalis perubahan, karena gak selamanya kok orang makan junkfood; lama-lama sadar makanan sehat juga kan. ![]()
Comment from chibialfa
Time: October 11, 2008, 5:17 am
gue sih berharap anak2 belitong itu gak jadi terkenal dgn mulai main sinetron…apalagi maen iklan…urgh
nge-re-tweet reply gue di twitter waktu ditanya ama Ismet dan Mandy “nangis gak”? Jawaban adalah, iya, dan paling ketonjok waktu gurunya bilang “memberilah sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya”. Jadi malu ama profesi…..
Comment from omahseta
Time: December 2, 2008, 4:46 pm
“laskar pelangi” dan tetraloginya, sebenarnya “berbahaya”, kian meneguhkan bahwa sekolah yang formal itu penting dan utama, bahwa menjadi pegawai bumn itu top markotop, bahwa eropa itu altar peradaban, dan afrika itu “akar keterbelakangan”, dan karena itu eksotis.
laskar pelangi meneguhkan cara pandang kolonial atas negara jajahan, cara baca orientalis, yang sangat dikritik edward said. apalagi ketika “yang fiksi” menjadi narasi besar, dan digaungkan sebagai “fakta sejarah”. apalagi ketika bu mus mendapat lencana dari sby, karena –pandangan naif saya– popularitasnya di mata massa, terutama arus muda muhamadiyah.
laskar pelangi berbahaya, karena sampai saat ini dibaca dalam “kacamata” tunggal, dan dipuji dalam “deretan angka-angka” rekor, penjualan buku, pembaca, penonton. entah apa dampaknya angka itu bagi perbaikan pendidikan, bagi perubahan sistem pengajaran, untuk mentalitas guru dan pns, untuk struktur kebijakan negara atas anggaran pendidikan.
laskar pelangi berbahaya karena ikal tak ubahnya seperti “Aris idol”, yang bergerak untuk semata kepentingan diri, tanpa terikat pada aspek sosial-kemasyarakatan. nyaris sebangun dengan kursus menjadi kaya dalam sekejap, dan lainnya. laskar bebahaya karena, ahh– banyak sekali pun alasan lainnya, hehehe…
Comment from rangga
Time: December 4, 2008, 5:41 pm
Chibialfa: Kenapa harus malu, Fa? Bukan di setiap bidang selalu ada cara untuk memberi?
Omahseta: Seperti semua hal, selalu ada dua sisi, Mas… Masalah berbahaya atau tidak, itu tergantung persepsi, pengalaman dan cita-cita penggunanya. Hehehe.
Comment from bukanindy
Time: October 6, 2008, 8:24 am
But how (or when?) do we know that it’s already terpaksa stage?