Kata Rangga

Entries Comments


Kejang…

26 October, 2008 (23:04) | Hidup, Layar

Foto didapat dari beckermanphoto.com

Minggu siang tadi saya isi dengan menonton film dokumenter mengenai breakdancing yang berjudul Planet B-Boy. Film ini bukan sekedar mengulas sejarah tentang seni itu, namun lebih menuturkan perjalanan dari beberapa tim, atau yang lebih sering disebut crew, dari empat negara yang berbeda menuju sebuah ajang lomba paling besar: Battle of the Year. Sebelum membicarakan ini lebih lanjut, mari kita sedikit kembali ke masa lalu.

Terus terang saya sangat suka dengan seni tari ini. Saya banyak mengunduh video-video dari beberapa jagoan breakdance sekedar untuk menikmati saja, karena saya yakin badan saya akan menolak dengan keras melakukan gerakan-gerakan yang, weleh-weleh, rumit tenan.

Saya ingat sekitar tahun 80an, saya menonton salah satu film WarKop -lupa judulnya- dimana ada sebuah pesta kecil yang menampilkan beberapa pemuda menari kejang. Wah, saya dulu semangat sekali menirukan gerakan “memegang kaca”, hehehe. Tapi kelenturan dari penari-penari itu membuat saya kagum. Setelah mencoba beberapa gaya rumit yang membuat badan saya kejang betulan, akhirnya saya menyerah. Sudah lah, itu bukan buat saya.

Demam breakdance ini ternyata juga mewabah di kalangan anak muda saat itu. Saya masih ingat beberapa kali ikut ke Parkir Timur Senayan dimana anak-anak itu saling mempertunjukkan kebolehan mereka bermodal stereo boombox, lempengan kardus dan lampu sorot mobil masing-masing. Kostum standar masa itu adalah: training bahan parasut komplit, ikat kepala, sepatu kets tinggi dan kacamata cengdem. Yang mereka lakukan kebanyakan adalah membuat ombak dengan tubuh mereka dengan lentur, diselingi dengan beberapa gerakan yang beristilah power moves, dimana mereka menggunakan punggung atau kepala mereka untuk membuat kincir dengan kaki mereka -kerap disebut windmill-.

Satu dekade kemudian, saya kembali bersentuhan dengan dunia ini. Wabah musik hip-hop sedang melanda dunia di era awal 90an. Sedikit anekdot, sebenarnya lahirnya jenis musik ini disebabkan oleh satu peristiwa yaitu padamnya listrik kota New York di tahun 1977; penjarahan toko musik memberikan akses orang-orang ghetto ke berbagai peralatan DJ. Beberapa saat kemudian, lahirlah ratusan DJ baru di daerah-daerah tersebut.

Kembali lagi ke wabah hip-hop pada tahun 90an. Wabah itu juga menjangkiti negara dimana saya bersekolah pada waktu itu, Swiss. Penggemar punk dan new wave mulai tergeser oleh gerombolan anak-anak berpakaian gombrong dengan rambut yang tinggi berdiri dengan motif-motif garis tercukur rapi. Musisi seperti Public Enemy, De La Soul, A Tribe Called Quest atau LL Cool J mulai menempati posisi atas peringkat lagu internasional. Alhasil, sebagai anak muda yang -ingin- mengikuti trend, saya juga ikut berbaur dengan budaya itu. Nah, pada saat itu, semua anak berlomba-lomba ingin bisa melakukan gerakan power moves seperti yang saya deskripsikan di atas. Kecuali saya, karena saya malas. Hehehe. Suatu hari ada sebuah pesta di sekolah saya dan ada pertunjukan hip-hop. Semua anak-anak itu melakukan gaya berputar-putar, kepala di bawah, kaki bak kincir angin. Kecuali satu teman baik saya yang kami panggil Fitou. Tiba-tiba dia dengan lenturnya menggerakkan sekujur tubuh dan memberikan kami semua sebuah hal yang berbeda dari yang sebelumnya. Breakdance memang bukan sekedar berakrobat, tapi ini adalah tarian. Sebuah seni. Sebuah perpaduan yang harmonis antara atletisme dan keindahan.

Film Planet B-Boy ini mempunyai sebuah slogan: Breakdance Has Evolved.

Evolusi dalam budaya ini sangat menarik. Ketika semua pelakunya sudah jenuh untuk mengikuti pola yang selalu sama, baik dalam gerakan maupun gaya, mereka berusaha untuk menemukan sesuatu yang unik untuk dimasukkan ke dalam tarian mereka. Disinilah kita melihat pengaruh budaya masing-masing negara di dalam para breaker ini.

Sebagai contoh, breakers dari Perancis mempunyai cita rasa seni yang tinggi, mereka dengan fasihnya memadukan gerakan dari berbagai seni tari dengan elemen hip-hop. Mereka sekarang sudah tidak banyak melakukan power moves, tapi mulai berubah ke gaya popping; sebuah gaya tarian dimana penarinya menghentakkan bagian tubuh mereka sesuai dengan ritme musik. Para poppers terkenal dari negara ini adalah Salah Benlemqawanssa dan Bruce Ykanji. Mereka juga memasukkan unsur teater, komedi dan bahkan pantomim sehingga bisa dibilang gaya ini merupakan sebuah pertunjukan yang komplit.

Di sisi lain, breakers dari Korea Selatan atau Jepang masih banyak menggunakan power moves yang dipadukan dengan berbagai disiplin seni bela diri. Loncatan-loncatan yang luar biasa tinggi digabungkan dengan koreografi yang bersemangat. Mungkin ini terjadi oleh pengaruh budaya pop mereka seperti video games dan film silat, hehehe. Kita bisa melihat contohnya di kelompok Korea Last 4 One atau Ichigeki Crew dari Jepang.

Saya kok tiba-tiba terbayang sebuah grup dari Indonesia tampil di ajang seperti itu. Bayangkan sebuah gaya yang merupakan perpaduan dari popping dan tari jaipong, atau juga misalnya power moves dengan tari kecak. Hal itu bisa menjadi sebuah keunikan yang bisa menambah repertori breakdance dunia. Kita mau drama, ada gerakan-gerakan wayang orang atau kita mau komedi, wah, tarian-tarian kecil di ketoprak bisa bikin terpingkal-pingkal. Sebuah duet popping dengan gaya srimulatan bisa dengan meyakinkan membuat orang luar tertawa-tawa karena kegaringannya -ayo kita ingat gerakan mata tercolok jari sendiri, hehehe-.

Lalu apa yang membuat kita tidak bisa sekreatif itu?

Para breakers dalam film ini selalu mempunyai motivasi. Mereka adalah kaum yang bisa dibilang marjinal; mereka tidak dianggap oleh sesamanya. Di Korea, mereka adalah anak muda yang dianggap tidak bertanggung jawab; di Jepang, mereka adalah orang-orang yang melanggar pola hidup yang terencana dan di Perancis, mereka adalah kaum yang dicurigai karena warna kulit mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa dengan tarian, mereka bisa memberikan kontribusi untuk masyarakat; breakdance bukanlah sekedar tarian jalanan, namun sebuah seni yang bisa -dan patut- diapresiasi. Mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan itu.

Dan satu hal yang bisa dikategorikan mulia adalah, seperti halnya musik, mereka ingin mempersatukan dunia. Walaupun klise, slogan mereka adalah Peace, Love and Unity.

Breakers Indonesia sebaiknya juga mempunyai semangat yang sama dan yang paling penting, gairah yang kuat untuk maju dan kemauan yang besar untuk berkreasi. Selama mereka hanya bisa menjadi pengikut, mereka tidak akan bisa tampil di kancah internasional.

Dan satu hal lagi, alasan untuk apa mereka menari. Dalam film ini, salah satu anggota Ichigeki menari sebagai persembahan untuk ayahnya yang sudah tiada; anggota Phase T dari Perancis menari untuk membuktikan bahwa dirinya pantas untuk dianggap di tengah masyarakatnya; kelompok KHZ dari Amerika Serikat menari untuk merebut kembali piala itu yang lepas sejak 1998 dan salah satu anggota Last 4 One menari untuk mengatakan ke ayahnya bahwa dia bisa hidup dari gairahnya.

Untuk apa breakers Indonesia menari? Sekedar keren kah? Mengambil hati para wanita kah? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari itu?

Salah satu teman saya melihat di salah satu adegan film ini terpampang sebuah peta dunia. Kepulauan Indonesia bahkan tidak ada di dalamnya. Kesal, mungkin. Tapi saya lebih bertanya-tanya, mungkin kita memang belum pantas dimasukkan di situ.

Breakdance telah berevolusi.

Kita pun harus begitu.

« Pelangi di layar…

 Citra Pariwara 2008… »

Comments

Comment from devie
Time: October 27, 2008, 10:59 am

Step Up juga bagus, baik yang 1 maupun 2.

Di beberapa seri Catatan Si Boy juga pernah nongol breakdance.

Comment from Harumia
Time: October 28, 2008, 4:15 pm

Baru tadi siang gw liat billboardnya. Tapi gw suka liat beberapa grup breakdance yg suka di siarin di TV swasta itu, mereka memang sudah mulai memasukan local wisdom Indonesia ke dalam koreografi mereka. Perkara tujuan, Allahu’alam.. =)

Comment from Bang Jago
Time: October 29, 2008, 8:41 pm

Haahhahahaha.
popping sama jaipong ???.Boleh juga tuh,tapi lebih bagus lagi kalo popping dikombinasikan sama poco-poco.
hehe.

Comment from Suparman & Ibab
Time: November 1, 2008, 1:57 pm

Indonesia termasuk ‘marjinal’ dalam peta B-Boys.
Sekarang tinggal motivasi untuk bisa dimasukkan.

Write a comment