Kata Rangga

Entries Comments


Nonton yuk!

6 December, 2008 (15:52) | Hidup, Layar

Saya selalu ingat kala pertama saya menonton di bioskop. Ketika itu mendiang ibu saya mengajak untuk menonton film Batman yang masih diperankan oleh Adam West. Tapi sesampainya di bioskop, ternyata pemutaran film itu dibatalkan dan diganti dengan film Zorro.

Kenapa saya selalu teringat saat itu? Karena sebenarnya pengalaman bioskop pertama saya sangat traumatis; seperti biasa, sebelum pemutaran film utama selalu ada trailer dan kebetulan pada saat itu yang diputar adalah trailer film horor. Nah, sebagai anak berumur 6 tahun, saya harus berhadapan dengan sebuah tangan terpotong yang berjalan menyusuri tangga bak laba-laba dan adegan itu disorotkan ke layar yang lebar selebar-lebarnya. Bayangkan, tangan sebesar itu di depan saya. Saking takutnya, saya tidak bisa menutup mata.

Saya bahkan sampai tidak ingat alur film Zorro itu. Yang ada di dalam kepala saya adalah potongan tangan yang merambat pelan. Ya sudah lah, saya pada saat itu langsung memutuskan tidak akan masuk ke dalam bioskop, kalau bisa bahkan seumur hidup.

Ketika saya berumur sekitar 9 atau 10 tahun, ibu saya kembali mengajak saya menonton di bioskop. Saya tidak ingat persisnya, tapi kalau tidak salah ada saat saya teriak-teriak di kamar menolak untuk ikut pergi. Tapi ibu saya memaksa dan bahkan meminta maaf bahwa selama ini dia tidak pernah membawa saya ke bioskop. Entah bagaimana caranya, akhirnya saya ikut pergi bersamanya. Setelah film selesai diputar, ternyata saya menemukan bahwa menonton di bioskop itu menyenangkan. Oh, filmnya waktu itu adalah Crocodile Dundee. Mungkin saya suatu hari harus berterima kasih ke Paul Hogan yang telah mengembalikan saya ke ruang bioskop.

Setelah itu saya pun menjadi sering meminta ibu saya untuk menonton bioskop dan tiba-tiba saya menjadi suka menonton film, baik di layar lebar atau lewat betamax. Kadang saya dan ibu saya menyewa beberapa film untuk ditonton bersama. Komposisinya pada saat itu biasanya adalah satu kartun jepang, satu film keluarga dan satu film serius yang akan ditonton ibu saya. Saking seringnya kami meminjam video, kami sering dapat hadiah dari tempat penyewaan, hehehe.

Ada satu masa setelah lulus SD dimana saya menganggur karena visa untuk sekolah di luar negeri tak kunjung keluar sementara ibu saya telanjur mengambil pekerjaan di Jerman. Akhirnya saya sempat tinggal beberapa bulan bersama salah satu kerabat saya yang punya koleksi laserdisc yang cukup lengkap. Karena saya tidak ada kegiatan siang hari, saya pun mulai menontoni film-film itu. Dari mulai film-film action kelas B sampai film serius. Entah kenapa, saya menikmati dunia fiksi di layar kaca itu. Bahkan saya menonton film yang berjudul I Spit on Your Grave, sebuah film cult yang sangat sadis dan berat tentang perkosaan dan konsekuensinya. Meskipun yang saya tangkap dari film tersebut pada saat itu adalah sekedar ada wanita telanjangnya.

Dan saya akhirnya mempunyai preferensi genre yang spesifik; komedi atau action. Sangat standar sebenarnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, wong saya terekposnya dengan itu; masih sangat tergantung pilihan si pemilik laserdisc.

Pada tahun 1994, saya menonton sebuah film yang mengubah persepsi saya mengenai film sekaligus memperluas selera saya. Film itu adalah Pulp Fiction yang dibesut oleh Quentin Tarantino. Yang saya tonton pada saat itu bukan hanya sekedar film, tapi bisa dibilang sebuah orgi yang melibatkan mata, telinga dan otak; visual yang sangat bervariasi tapi harmonis (dedikasi Tarantino ke beberapa genre favorit dia), musik dan scoring yang keren dan tentunya dialog yang lucu tapi cerdas. Ditambah permainan waktu yang tidak linear membuat saya makin terkagum-kagum dengan film ini.

Setelah itu saya baru sadar bahwa banyak hal lain yang bisa ditangkap dari sebuah film; tidak hanya sekedar gokil, tapi juga kenapa film itu bisa bagus. Mulailah saya berkelana ke banyak ranah genre film yang ada dan untungnya, televisi di Eropa bisa mengakomodir keinginan saya dengan memutar banyak pilihan film.

Ternyata film bukan sekedar hiburan.

Sebagaimana cerita dalam bentuk apa pun, film mengajak penontonnya untuk masuk ke sebuah dunia yang dibentuk oleh para penciptanya. Selalu ada yang bisa kita dapatkan dari sebuah film sesuai dengan pengalaman kita.

Pengalaman.

Film memberikan sebuah pengalaman yang baru ke penontonnya.

Itulah yang saya rasakan akhirnya; menilai sebuah film bukan lah dari sekedar bagus tidaknya aktor berperan, cara bertutur ceritanya dan hal-hal teknis lainnya, tapi apakah film itu bisa memberikan saya pengalaman yang berbeda.

Itulah sebabnya buat saya, tidak ada film yang tidak patut ditonton, karena saya berpikir saya harus tetap membuka pikiran saya, sebagaimana layaknya hidup. Tapi horor asia tetap saya hindari, karena rasanya pengalaman itu saya tidak butuh-butuh amat, hehehe.

Itulah sebabnya saya tetap bilang film Ultraviolet tidak jelek, wong saya ngakak sampai habis atau Daun di Atas Bantal bagus karena saya mempunyai pengalaman berbeda lewat sudut pandang anak jalanan.

Itulah sebabnya saya ingin banyak menonton film di JiFFest 2008.

Berbagai pengalaman baru ditawarkan ke saya dan saya tidak ingin melewatkannya begitu saja.

Selamat menonton!

« Citra Pariwara 2008…

 Surat Pendek… »

Comments

Comment from nik.e
Time: December 8, 2008, 10:02 pm

Hmm.masa-masa menonton laserdisc.menyenangkan sekali.cuma waktu itu saya pinjem di penyewaan aja. kebetulan om saya suka sekali menyewa laserdisc. dari situ, pas jaman SMP, tau film-film Amerika dan jatuh cinta dengan Gary Oldman.
Film ‘pulp fiction’ sepertinya sukses mempengaruhi hidup, atau paling nggak selera, banyak orang. saya juga suka sekali dengan pulp fiction. apalagi dialog-dialognya yang memang cerdas namun kadang ga penting (apa pentingnya membahas jenis-jenis burger McDonald’s) namun justru di situ letak uniknya.
sayang banget jiffest tahun ini cuma 5 hari dan karena kendala lokasi dan waktu, saya ga bisa nonton sebanyak tahun lalu.

Comment from devie
Time: December 10, 2008, 6:46 pm

nonton pilem dan baca buku, 2 buah kenikmatan yang sulit dicari padanannya :)

Comment from Dommy
Time: December 14, 2008, 1:44 am

sepakat. Lewat film, kita bisa memperoleh pengalaman dan pandangan yg luas dlm waktu yg cepat. Kalo pikiran lg penat, kita jg bs dpt hiburan yg instant juga.

Comment from imam
Time: January 6, 2009, 11:26 pm

I Spit on Your Grave itu seperti gabungan Kill Bill dengan Black Emanuelle atau Vampyros Lesbos hahaha..

Comment from didi
Time: February 14, 2009, 8:50 pm

film, akan bermakna apabila kita tau alur cerita yang disampaikan film tersebut, so dari beberapa film yang saya tonton banyak juga yang memberiakn insfirasi dalam menentukan langkah dalam pergaulan yang saya jalani!

Comment from dia
Time: April 7, 2009, 6:05 pm

boleh kah agak terlambat memberi komentar? karena baru baca….
film adalah sarana untuk menangis tanpa ditanya kenapa? sarana untuk tertawa tanpa terlalu lucu… ya gak dit?

Write a comment