Antara Pintu dan Sorban…

Apa yang membuat saya ingin membuka pintu yang telah diciptakan oleh Joko Anwar? Selain pose Marsha Timothy di posternya, saya sebenarnya ingin memasuki dunia yang dilukis oleh salah satu sutradara lokal favorit saya. Setelah kehabisan nafas mengikuti petualangan Joni dan melebur ke sebuah kala yang mistis, saya ingin tahu apa yang diberikan Joko di balik Pintu Terlarang ini.
Saya kadang bertemu Joko di tempat saya ngupi dan dari situ saya kurang lebih tahu seperti apa dia; dia adalah seorang pencinta film dengan gairah yang tinggi -terserah mau diartikan apa :)-. Hal ini memberikan saya sebuah ekspektasi tertentu untuk film ini.
Ketika film dimulai, dari sinematografi dan nuansa, muncul kecurigaan bahwa Joko banyak terpengaruh dengan koleksi film noir-nya; lebih terbukti lagi dengan desain opening title yang sangat kental dengan nuansa komik pulp tahun 20an yang membuat saya tersenyum gembira -geek-. Apalagi ditambah dengan sebuah kota khayalan dengan poster dan billboard optimis yang membuat dunia ini menjadi lebih kontradiktif.
Pintu Terlarang yang disadur dari novel karangan Sekar Ayu Asmara menceritakan kehidupan seorang seniman patung bernama Gambir (Fachri Albar) yang sangat sukses di kalangan kolektor bukan hanya dari hasil karyanya, tapi juga campur tangan istrinya yang dominan, Talyda (Marsha Timothy) dan seorang kurator ambisius yang akrab dipanggil Koh Jimmy (Tio Pakusudewo). Semua yang dia hasilkan selalu ludes terjual dengan harga selangit; sebuah kesuksesan yang membuat bangga sekaligus iri kedua sahabatnya Dandung (Ario Bayu) dan Rio (Otto Djauhari). Sungguh sebuah mise en scene yang ideal, apalagi Talyda digambarkan sangat akrab dengan ibu mertuanya (Henidar Amroe), sebuah hal yang tidak terlalu jamak terjadi di dunia film.
Tapi tidak mungkin cerita berhenti di situ. Selalu ada sebuah rahasia yang tersimpan dibalik setiap kesempurnaan; sebuah rahasia yang sangat besar sehingga menyimpannya akan menjadi sebuah siksaan batin yang sangat mendalam. Gambir pun keluar dari ruang pameran, menyalakan rokoknya dengan gemetar dan berjanji untuk tidak mematung lagi.
Gambir selalu membuat patung berbentuk wanita hamil dengan segala pose yang membuat banyak pembelinya langsung membayar tunai karena patung-patung itu mengingatkan mereka ke masa lalunya. Apakah sebenarnya semua patung itu juga sebuah interpretasi Gambir ke masa lalunya atau malah keinginan dia untuk menjadi orang tua?
Tapi Gambir sendiri menyatakan (mempertanyakan) dengan gamblang, “Apakah setiap orang tua sudah memikirkan betul mereka menginginkan anak?”. Dari sini sebenarnya penonton sudah diberikan sebuah petunjuk yang cukup penting.
Di tengah kehidupan utopis ini, di rumah mewahnya hasil hibahan mertua, Gambir menemukan sebuah pintu merah tergembok rapat di balik lemari besar di studionya. Ketika dia ingin membukanya dengan paksa, Talyda memohon dengan sangat untuk tidak melakukannya, karena apa yang ada dibalik pintu itu bisa merusak hubungan rumah tangga yang telah dengan susah payah mereka bina. Ketidakberhasilan mereka untuk punya anak telah membuat sebuah jarak yang sangat besar antara mereka. Meskipun sebenarnya hal ini adalah hasil dari kelakuan masa lalu mereka. Gambir terpaksa menuruti istrinya. Rahasia itu terlalu besar.
Tapi tiba-tiba Gambir dihadapkan dengan sebuah misteri yang akan menghantui setiap menit hidupnya. Entah dari mana, sebuah kalimat selalu muncul di hampir setiap kegiatannya; “Tolong Saya”. Bentuknya pun tidak semata tertulis, bahkan Gambir mendengarnya lewat telepon misterius yang dia terima suatu malam, dengan suara anak kecil pula.
Seorang anak kecil yang meminta tolong. Gambir yang mengusung tema kehamilan di setiap karyanya. Satukan kedua hal itu sehingga timbul sebuah konflik batin yang perlahan menjadi sebuah obsesi.
Penonton pun akhirnya dibawa untuk mengikuti pengejaran Gambir mencari jawaban atas misteri ini sampai satu hari dia didaftarkan Dandung untuk menjadi anggota sebuah klub tertutup yang memberikan Gambir sebuah “jendela” yang bisa memberikan dia jalan untuk menuntaskan obsesi dia.
Pencarian ini memberikan Gambir sebuah pengalihan dari rasa ingin tahu dia ke rahasia pintu merah itu.
Tapi kembali lagi semua orang melarang dia untuk meneruskan pencariannya. Sahabat yang Gambir anggap paling mengerti dirinya pun ikut mencegah dia dengan paksa. Semua orang ingin mengatur hidupnya. Dari istri, ibu, sahabat sampai ke rekan kerja terus menekan dia; ingin memberikan dia tujuan hidup yang menguntungkan mereka pada akhirnya.
Apa yang terjadi ketika sebuah tekanan terus naik sementara ruang untuk melepaskannya ditutup rapat?
Ledakan yang luar biasa. Ledakan yang digambarkan dengan kasar oleh Joko. Tapi ini bukan kekerasan yang tanpa alasan.
Alasannya bahkan yang paling kuat dari semuanya; kekerasan akan menimbulkan kekerasan.
Jangan buka pintu itu kalau kita memang belum siap menerima alasan itu.
Dengan Pintu Terlarang, Joko menghadiahi saya sebuah thriller psikologis yang sederhana dengan bungkus film noir yang terus terang, sangat sayang untuk diabaikan apalagi dibuang.

Terus terang saya tidak sebegitu akrabnya dengan dunia Islam. Apa pun yang saya tahu mengenai agama ini lebih banyak dari penafsiran diri sendiri atau diskusi bersama. Saya tidak mengenal yang namanya pesantren, sekolah islam dan bahkan pelajaran agama yang saya dapatkan ketika SD tidak terlalu menempel di kepala saya.
Yang saya tahu adalah -menurut pendapat pribadi saya tentunya- bahwa agama Islam adalah agama yang toleran dan adil. Kenapa adil, karena konsekuensi perbuatan kita akan mendapat ganjarannya, entah itu baik atau buruk. Konsep surga dan neraka pun buat saya adalah masalah sebagaimana tenangnya kita setelah hidup kita berakhir. Buat saya, api neraka itu adalah kobaran yang dihidupkan oleh masyarakat sendiri. Saya justru lebih seram kalau neraka ternyata adalah sebuah musim dingin yang berkepanjangan atau, ini lebih ke imajinasi saya, sebuah lorong yang tak berujung dan saya tidak bisa berhenti berjalan.
Tapi pedoman saya dalam hidup adalah tetap satu; berusaha berbuat baik. Itu ajaran yang selalu saya ingat dari dulu. Jadilah orang yang baik; baik ke sesama, baik ke diri sendiri dan terutama, baik ke Tuhan. Ini pun saya olah kembali menjadi lebih ke baik ke keyakinan sendiri. Artinya saya harus konsisten, sebisa mungkin jangan pernah mengubah keyakinan saya atau kepercayaan saya dalam hidup.
Saya memutuskan untuk menonton Perempuan Berkalung Sorban lebih karena untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. Setelah film Ayat-Ayat Cinta yang sangat sukses di pasaran (namun tidak terlalu di saya), saya ingin melihat karya islami sutradara Hanung Bramantyo yang kedua ini.
Film ini sekali lagi diambil dari sebuah novel karya Abidah el Khalieqy yang saya belum baca juga, sehingga kali ini saya tidak akan membedakan soto mie dan bakso (halo, Pakde, hehehe). Film ini menceritakan kehidupan Anissa (Revalina S. Temat), putri bungsu Kyai Hanan (Joshua Pandelaky) yang mengelola sebuah pesantren di daerah Jogja dibantu istri (Widyawati) dan kedua anak lelakinya. Dari kecil, Anissa selalu mempertanyakan kodratnya sebagai seorang muslimah; kelakuan yang sering membuat dirinya menerima hukuman dari ayahnya. Untung saja, Anissa selalu mendapat hiburan dari sepupu jauh sekaligus sahabatnya, Khudori (Oka Antara).
Ketika Khudori harus melanjutkan kuliahnya ke Kairo, Anissa pun kehilangan pegangan. Dia harus menerima semua akibat dari idealismenya tanpa ada ruang untuk bisa mengeluarkannya kecuali lewat surat ke Khudori, sebuah medium yang akhirnya diputus justru dari Khudori. Sementara Anissa semakin menggebu hasratnya untuk menjadi perempuan yang ada di dalam idealnya, seperti misalnya mendaftar ke sebuah universitas Islam dan diterima walaupun akhirnya dihambat oleh ayahnya.
Untuk mengontrol Anissa, akhirnya dia dinikahi dengan anak seorang Kyai lainnya yang bernama Samsudin (Reza Rahadian). Namun ternyata perkawinan itu tidak berlangsung mulus dan ditambah lagi dia harus diduakan. Di tengah semua itu, Khudori muncul lagi di pesantren setelah menyelesaikan studinya di Kairo. Semakin lengkaplah konflik hidup Anissa.
Terus terang, saya tidak bisa terlalu bersimpati dengan Anissa. Semata-mata karena dalam cerita ini, menurut saya cara dia memperjuangkan idealismenya masih sama dengan cara ekstremis, dalam arti kata dia berperang membabi buta. Hanya sekedar ngotot, tidak pernah memberikan alasan yang rasional ke lawan bicaranya. Padahal sebelumnya disebutkan dia adalah seorang perempuan yang cerdas, rasional, selalu ranking satu. Saya tidak melihat kedewasaan dia dalam bersikap; Anissa kecil yang kabur dari kelas karena tidak bisa jadi ketua kelas dan Anissa dewasa yang (hampir) kabur karena disiksa suami. Podo wae. Perlawanan yang dangkal untuk seorang perempuan yang menjunjung tinggi intelektualitas kaumnya.
Apa yang bisa terjadi akhirnya? Mungkin orang akan menangkap bahwa memang harus ngotot sengotot-ngototnya untuk mengubah sebuah keadaan. Teriakan akan sering dipakai tanpa aksi yang lebih berarti. Memang Anissa berhasil memberikan bahan bacaan ke para santriwati pada akhirnya, tapi itu penyelesaian yang terlalu mudah buat saya. Bahkan speech dia di hadapan penghuni pesantren menjadi suatu hal yang sulit dipercaya, ada sebuah peralihan karakter yang terlalu tiba-tiba.
Feminisme dalam Islam memang menjadi inti cerita ini. Bahwa perempuan mempunyai hak dan kodrat yang sama dalam hidup ini, itu adalah hal yang mutlak. Tapi ketika yang kita lihat adalah seorang perempuan ngotot di hadapan lelaki yang lebih ngotot, saya menjadi hilang arah; apakah film ini mengenai perlawanan keras atau mengenai persamaan hak?
Karena saya selalu percaya kalau otot tidak akan pernah bisa dilawan dengan otot.
Ah, tapi saya suka sinematografinya. ![]()
Comments
Comment from syanthy
Time: January 27, 2009, 5:58 pm
absofuckin agree w ur comment on pintu terlarang, one sick and twisted movie, if u, by coincidence or not, meet joko anwar again, tell him i congrat him to make such a sick movie. and off course salute too to sekar ayu asmara to write it at the first place.
cant comment on perempuan berkalung sorban, havent seen it yet, and until now, dont have any interest to see it yet hehe, i guess i always see hanung as he is in ayat2 cinta, and well to be frank in here, i dont like ayat2 cinta either ![]()
Comment from Nia
Time: January 27, 2009, 7:08 pm
Pintu Terlarang itu disponsori oleh 3 lhoo…*gdebak-gedebuk nih bikin materi promonya*
hehehe…
Mau? Mau? Mau?
Comment from Akh Rangga
Time: January 29, 2009, 9:31 pm
Perasaan perempuan berkalung sorban itu gak mencerminkan sama sekali gimana seharusnya akhwat muslimah sejati…, terkesan sekedar kisah cinta yang di bumbui nuansa islami..
dari judulnya aja waktu pertama kali dengar udah aneh…, emang apa maknanya “perempuan berkalung sorban”??
tidak mencerminkan sisi muslimah sama sekali…
afwan kalo kurang berkenan… omong2 salam kenal…
silahkan kapan2 perkunjung ke .::. Akh-Rangga.Co.cC .::.
Makasih ^_^
Comment from oca
Time: January 26, 2009, 9:08 pm
U rite on that sorban movie.. Good cinematography. Value story not even much better than AAC. Sebenernya gw bharap peran Widyawati sbg nyokap Annisa bs ngelurusin konsep perempuan di Islam, tapi kok jd cemen yaaa di situ… Ngobrol yuk?