Sabtu malam…
Akhir minggu lalu seperti biasa saya menghabiskan waktu di Tornado Coffee, memanjakan diri dengan secangkir Americano (double espresso ditambah sedikit sirup karamel). Kebetulan malam itu bagian dalam dari tempat itu sedang bebas rokok, karena ada salah satu teman baik saya yang sedang hamil dan dia sedang duduk bersantai di sebelah saya sambil memainkan laptop-nya. Saya pun melakukan hal yang sama.
Beberapa meja tidak jauh dari kami, terdapat sekelompok teman yang sedang asyik berdiskusi dengan suara cukup keras. Mulanya hal itu lumayan mengganggu saya, tapi kelamaan saya malah ikut menguping pembicaraan mereka. Ya, siapa tahu ada beberapa bahan yang bisa saya masukkan ke sini, hehehe.
Ternyata tawa dan canda mereka mengiringi sebuah topik yang cukup menarik; mereka sedang membicarakan salah satu teman mereka yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Mereka sedang menceritakan kembali kelakuan lucu teman ini dan mereka berbicara seakan teman itu hanya sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada romantisme ataupun melankolisme; semua mengalir begitu saja.
Saya pun berhenti sejenak dan memandang beberapa teman baik saya yang sedang berada di sekitar saya. Ada yang sedang mengobrol di telepon sendiri, ada yang saling bercanda di luar sambil merokok dan ada yang duduk di sebelah saya setelah syuting seharian.
Apa yang akan mereka bicarakan tentang saya suatu saat saya sudah tidak ada lagi?
Apakah mereka akan membicarakan tentang karir saya selama ini, betapa saya tidak mau bekerja di bidang lain selain iklan? Apakah mereka tetap akan menganggap saya sebagai seorang yang suka flirt ke lawan jenis? Apakah mereka akan ingat tentang ke-bitchy-an saya selama ini? Atau mungkin tentang si pemimpi yang tidak kunjung bangun?
Terus terang selama ini saya banyak memikirkan akhir hidup saya. Hal-hal kecil seperti lagu apa yang akan diputar di pemakaman saya, tulisan apa yang akan ada di nisan saya dan lain-lain. Tapi saya belum pernah membayangkan saat setelah itu; setelah, taruhlah, dua atau tiga tahun saya mangkat. Apa yang akan orang ingat dari saya?
Semua skenario berputar di kepala saya pada saat itu. Tapi satu hal yang terus muncul di kepala saya.
Mungkin saya hanya ingin semua teman saya tersenyum ketika mengingat saya.
Terserah apa alasannya.
Dan hal itu membuat saya tersenyum. Ketika saya menoleh ke teman saya yang sedang memejamkan mata sambil memegangi perut yang belum lama ditempati buah hatinya, saya pun membatin:
Semoga tidak lama lagi saya pun bisa meninggalkan jejak di dunia ini seperti dia.
Sekelompok orang di meja itu tiba-tiba terdiam. Saya yakin mereka sedang menyalami teman mereka dengan cara masing-masing.
Di tengah kesunyian sesaat itu, saya pun berdiri perlahan, mengambil kotak rokok saya dan keluar menghirup kehidupan.
Comments
Comment from leila
Time: February 24, 2009, 2:14 pm
awww that’s sweet… I would remember your curly hair and your nguping jakarta that never fails to bring tears to my eyes (due to surpressed laughter to avoid dirty looks from my colleagues). Long time no see, boy.
Comment from Bahasa, please!
Time: February 25, 2009, 2:24 pm
gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang
![]()
Comment from rangga
Time: February 25, 2009, 6:53 pm
Ii:
juga
Leila: long time no see too, bu. How’s the kid? A rocknrolla I hope
Bene: maksud loe apa itu, belang? Siaul. Hahahaha…
Comment from devie
Time: February 25, 2009, 11:29 pm
saya akan mengingat ngupingjakarta, Kang.
that’s awesome!
Comment from burat
Time: February 25, 2009, 11:49 pm
playa!
Comment from rynz
Time: February 26, 2009, 4:34 am
I have good memories about you ![]()
Comment from Bahasa, please!
Time: February 26, 2009, 5:41 pm
idung belang… huahahaha…
Comment from rangga
Time: February 27, 2009, 3:49 am
Devie: Semoga kami akan terus menyenangkan loe…
Burat: Maling teriak maling
Rynz: Thank you, Ryn
Bene: Semprul!
Comment from mbahlurah
Time: March 3, 2009, 1:55 pm
rangga, saya tidak kenal. sekilas saja saya melihat. spirit-nya masih dipenuhi filsafat barat.
hamba pada alam pikir.
saya merasa pernah di jalan itu. camus, sartre, beauvoir, malraux pernah memenuhi ruang kepala saya.
tapi saya akhirnya menyadari bahwa jalan itu hanya ilusi kebebasan yang meletihkan. wasting, bro!
rangga yang jawa… kapan rangga mulai menjadi penempuh sejati seperti para leluhurmu di tanah jawa,
untuk menuju pada sang kebenaran hakiki?
laku menahan diri, mengenolkan diri…
laku sambil bikin iklan… why not?
Comment from rangga
Time: March 3, 2009, 8:28 pm
Mbah Lurah: Wah, Mbah… Entah kenapa dalam diri saya, kedua falsafah itu masih saling bersenggama dengan panasnya. Mungkin saya ingin melihat apa jadinya anak yang akan mereka hasilkan; mungkin di situ saya akan bisa menemukan apa yang sebenarnya saya cari… Maturnuwun, Mbah. ![]()
Comment from indy
Time: March 5, 2009, 5:08 pm
Rangga, the f word, the friend.
*juga saudara
Comment from rangga
Time: March 5, 2009, 7:52 pm
Indy: Indy; the words, the friend in need and the sista.
Comment from ami
Time: March 21, 2009, 2:52 am
hi rangga..akhirnya aku komen ah..aku ga tahu sapa dulu dari kita yang mangkat (istilah-mu)..but aku akan sll ingat u are different, unique, pinter, kriting, jinjit n i love u just t way u are (kayanya pernah denger deh…o ya lagu hi3x)..gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang..tenang aja manusia ga pernah meninggalkan belang (ga tau deh kalau hidung belang)..tapi meninggalkan nama..ngomong2 namamu sapa? (belum mangkat aja gw dah lupa ye?…pissss)
Comment from MM
Time: November 10, 2009, 10:51 pm
the way i remember u is by … being happy, that’s u ![]()
Comment from ii
Time: February 23, 2009, 11:19 pm