Bajingan di layar

Saya sangat suka didongengi ketika kecil dulu. Rangkaian kata yang menjadi hidup sesuai dengan cara pendongeng bertutur; Cinderella dengan sendu dan penuh romantisme, Si Kancil yang penuh dengan kejutan dan kenakalan atau Malin Kundang dengan sentuhan ancaman dan pesan moral. Itulah yang membuat saya jatuh cinta pada cerita-cerita masa kecil saya.
Yang terjadi biasanya adalah cara bertutur selalu dikembangkan setelah menemukan ceritanya. Itu adalah kemasan untuk memberikan dimensi kepada cerita itu sendiri.
Quentin Tarantino melakukan kebalikannya.
Dia menemukan caranya lebih dahulu, baru kemudian menuliskan ceritanya.
Itulah sebabnya Pulp Fiction mempunyai rasa komik pulp yang sangat kental, Jackie Brown mengeluarkan aura blaxploitation dan Kill Bill dengan segala ciri khas film Asianya.
Tarantino adalah seorang yang sangat piawai meramu semua referensi film dia menjadi sebuah hidangan yang sangat unik. Semua bumbu dia racik dengan sangat teliti sehingga penonton, meskipun sadar bahwa film itu adalah hasil dari berbagai jenis gaya, tetap merasakan sentuhan personal Tarantino.
Film terbaru dia tidak luput dari kebiasaan itu; kita bisa dengan mudah merasakan pengaruh film-film western yang sangat kental. Adegan pembukanya bisa dibilang adalah sebuah pakem yang selalu ada di genre itu; padang rumput di tengah pegunungan, seseorang sedang melakukan kegiatan sehari-hari, sebuah gubuk kecil dan sekelompok orang yang mendatangi tempat itu, tidak menunggangi kuda, namun dengan mobil dan motor perang dunia II.
Ya, film ini memang menceritakan tentang perang dunia II.
Kita semua sudah tahu berkat promosi yang sangat gencar bahwa Inglourious Basterds memang menceritakan sekelompok pasukan yang membunuhi para nazi dengan sadis. Tujuan mereka adalah menyebarkan teror sehingga para nazi itu akan segan untuk meneruskan perang.
Menarik.
Sangat Tarantino.
Benarkah?
Ketika saya duduk di dalam bioskop, saya mempersiapkan diri untuk menonton sebuah film yang nyeleneh, sebuah pesta darah khas Tarantino dan dialog-dialog yang dilontarkan dengan lancar. Saya menunggu para Basterds itu untuk membantai nazi dengan cara-cara yang kocak, tak terduga dan saya ingin melihat para nazi berdiri gemetar sambil menahan buang air ketika mereka tahu Basterds akan menyerang lagi. Hampir sama ketika para pembunuh profesional resah menunggu The Bride dalam Kill Bill.
Tapi Tarantino menggunakan cara lain untuk bercerita.
Inglourious Basterds adalah sebuah buku yang dengan rapi ditata; per bab.
Para penggemar garis keras Tarantino akan menaikkan alis kanan mereka. Mereka tidak akan disuguhi kekerasan yang berlebih, bergalon-galon darah dan bagian badan yang berterbangan.
Mereka akan diberikan sebuah cerita yang rapi.
Jangan salah, Tarantino seperti yang saya ungkapkan di atas, adalah seorang koki handal. Dia tetap memberikan sentuhan pribadinya. Bahkan salah satu bab akan memberikan penonton sebuah situasi yang penuh dengan dialog cerdas dan semua detil kecil ala Tarantino. Bagaimana sebuah gerakan kecil bisa menjadi titik pivotal adegan tersebut; hanya dia yang bisa menciptakan hal seperti itu.
Film ini akan membagi para penggemar Tarantino. Beberapa teman di twitter maupun facebook memberikan komentar, “Inglourious Basterds is overrated”.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka termakan ekspektasi yang telah bertahun-tahun dibentuk oleh Tarantino. Ditambah lagi setelah digempur promosi yang sangat gencar memberikan kode dimana penonton akan bermandikan darah bersama para Basterds.
Saya hanya menyarankan film ini untuk ditonton dengan kacamata baru. Nikmati semua detil, semua perkataan yang muncul dari mulut setiap karakter, permainan kamera yang sangat indah. Bersiaplah untuk terpaksa suka dengan Hans Landa, karakter antagonis yang diperankan dengan sangat fasih dan menakjubkan oleh Christopher Waltz.
Quentin Tarantino tidak pernah mengecewakan saya. Saya pribadi tidak akan berteriak-teriak memuji film ini karena buat saya, Inglourious Basterds bukanlah film yang bisa didefinisikan dengan kalimat “keren banget loe mesti nonton gila”.
Film-film Tarantino yang dulu adalah serentetan gelas berisi tequila dengan cacing di dalamnya. Minum segelas, dua gelas dan kita akan langsung terkapar.
Inglorious Basterds adalah sebotol anggur yang harus lama diresap rasanya. Menikmati tetes demi tetes asam dan manisnya melewati tenggorokan kita.
Sampai akhirnya di tegukan terakhir kita melihat angka 40% di label botol.
Dan kita pun sadar, sekali lagi, Tarantino kembali memperkosa pikiran kita.
Antara Warung Kopi dan Rumah »
Comments
Comment from mbakDos
Time: October 30, 2009, 10:41 pm
*sigh* belum juga menontonnya ![]()
Comment from julie loemakto
Time: December 7, 2009, 10:15 pm
IB memang di luar ekspektasi. Bagus reviewnya, perumpamaan tequila dan wine jg pas.
Aku suka Christopher Waltz sama spt aku suka De Niro di Jackie Brown. Ngk main2 actingnya.
Comment from oglek
Time: December 8, 2009, 9:47 pm
hmmm pengen juga sih nonton, tapi sampai sekarang belum kesampaian ![]()
Comment from Jeremy
Time: December 17, 2009, 1:34 am
Biar gimana pun, walau bagaimana pun, apapun yang dibuat sama QT tetap layak untuk dikonsumsi, dengan atau tanpa acid pastinya. Tapi secara detail saya menginginkan stick baseballnya. Stick baseball yang digurati oleh nama-nama yang sudah pernah dibunuh dengan stick itu.
Tulisan ini bagus, boss.
Salam Kenal.
Jeremy.
Comment from gadgetboi
Time: March 5, 2010, 9:26 am
saya pun kurang paham sama jalan pikiran QT hehehe … tapi saya mah nikmatin aja filemnya … saya suka sinematography-nya. QT pasti selalu memikirkan itu … jadi walau jalan cerita enggak ngerti (ngertinya baru 2-3 kali nonton
) kita tetap disuguhi sama indahnya pengambilan gambar. QT merupakan sedikit sutradara yang peduli akan hal itu. bukan semata-mata acting saja yang jadi perhatiannya … top markotop dah!
Comment from FunkyMami
Time: July 5, 2010, 8:20 pm
IB adalah film yang bagus, tapi Pulp Fiction adalah ‘kult’. Hanya QT yang bisa membuat orang makan di McDonald tampak amat sangat cool, meski cuman pake celana kolor sekalipun. Lagipula, ada berapa bandit yang hapal sama passage Ezekiel 25:17?…”The path of the righteous man is beset on all sides by the inequities of the selfish and the tyranny of evil men. Blessed is he who, in the name of charity and good will, shepherds the weak through the valley of the darkness … … … And you will know I am the Lord when I lay my vengeance upon you.”
Kata Samuel Jackson: Now I’m thinkin’, it could mean you’re the evil man. And I’m the righteous man. And Mr. 9mm here, he’s the shepherd protecting my righteous ass in the valley of darkness. Or it could be you’re the righteous man and I’m the shepherd and it’s the world that’s evil and selfish. I’d like that. But that shit ain’t the truth. The truth is you’re the weak. And I’m the tyranny of evil men. But I’m tryin’. I’m tryin’ real hard to be a shepherd.
Comment from joe
Time: July 18, 2010, 9:06 am
kalau pecinta film sejati memang harus menikmati dulu karya2 Tarantino …
Pingback from Twitter Trackbacks for Kata Rangga » Bajingan di layar [katarangga.com] on Topsy.com
Time: October 29, 2009, 6:38 pm
[…] First Tweet 6 hours ago tikuyuz Noor Atika Hasanah @marioirwiensyah Ngeles aja lo dul kaya bajaj. Nih ada artikel menarik buat lo, dibaca yah http://katarangga.com/?p=70 retweet […]