Antara Warung Kopi dan Rumah

Seorang teman di Twitter menanyakan mengapa saya belum juga mengisi blog ini setelah sekian lama terlantarkan. Ketika membaca itu, saya hanya tersenyum simpul dan langsung membuka halaman ini. Wah ternyata benar juga, tiba-tiba saya merasa blog ini sedang menatap saya dengan pandangan kesal. Tulisan terakhir saya ternyata bertanggalkan 29 Oktober. Berarti sudah empat bulan saya mengabaikan rumah ini; pasti sudah berdebu dan banyak sarang laba-laba.
Apa yang menyebabkan saya mangkir menulis di sini? Sebuah alasan yang selalu saya gunakan adalah tentu saja pekerjaan, dimana semua klien tiba-tiba langsung aktif setelah beberapa lama “beristirahat”. Tapi masa hanya itu?
Saya pun kembali membaca tulisan-tulisan sebelumnya, melihat tanggal mereka diterbitkan. Lah, ternyata frekuensinya pun berkurang. Dulu saya bisa menulis paling lama sebulan dua kali, tapi kok bisa sampai dua bulan sekali? Apakah saya bosan menulis? Rasanya pun tidak. Tidak ada bahan yang menarik? Ah, itu pun bukan alasan karena sepertinya kok dangkal sekali; bukankah saya sendiri selalu bilang bahwa hidup itu selalu penuh dengan cerita?
Akhirnya saya menemukan tersangka yang paling patut dicurigai meskipun lewat dia lah saya baru saja diingatkan untuk menulis blog ini lagi.
Twitter.
Ketika blog ini adalah sebuah rumah, maka akun twitter saya adalah kursi saya di sebuah warung kopi yang ramai. Tempat itu adalah tempat nongkrong teman-teman saya, baik teman lama maupun teman baru. Kami bisa saling berbincang, mengutarakan isi pikiran masing-masing dan berbagi hal-hal menarik yang kami temukan.
Terus terang saya sudah lama mempunyai akun twitter ini; umurnya sama dengan blog ini karena dia mempunyai nama yang sama; nama yang susah payah saya cari sampai akhirnya direstui oleh orang yang menendang saya untuk membuat blog ini.
Tapi pada saat itu saya belum menemukan keasyikannya. Seperti biasa, karena twitter adalah sebuah tempat baru, saya masih duduk sendirian dan hanya melihat beberapa orang mengobrol antara mereka. Wah, kok saya belum nyaman ya. Akhirnya saya hanya mengunjunginya beberapa kali dan itu pun tidak duduk; hanya sekedar menengok sekilas ke dalam.
Lalu saya pindah kantor. -Lah, apa hubungannya?-
Nah, di kantor saya yang baru ini, kami semua sangat dianjurkan untuk memakai Blackberry untuk memudahkan semua proses pekerjaan. Akhirnya saya mengganti handphone Nokia tahan banting yang sudah setia menemani saya bertahun-tahun. Saya pun terhubung dengan internet 24 jam.
Sampai suatu hari saya iseng mencoba sebuah aplikasi yang bernama Twitterberry atas saran sebuah situs.
Wah, ternyata warung kopi ini menjadi semakin ramai.
Baiklah, mari kita mulai mendengarkan diskusi-diskusi di sekitar saya dengan lebih seksama. Pada saat itu seorang teman baik saya, Ismet, melempar sebuah tema yang menggelitik saya; sebuah permainan yang sebelumnya pun sering kami lakukan lewat Yahoo!Messenger. Permainan itu adalah Sixwords di mana kami saling melontarkan cerita-cerita sepanjang enam kata. Contohnya adalah “Hidup bersama, tangan bergandeng, jiwa terpisah” atau “Kubuka cadarnya perlahan, taringnya mencengkeram leherku”.
Tiba-tiba saya mulai menulis banyak cerita enam kata seperti itu dan yang menyenangkan adalah banyak orang yang berkenalan dengan saya dengan cara me-follow. Artinya mereka mendengarkan saya dan bahkan banyak juga yang menanggapi dan mengomentari saya.
Warung ini menjadi jauh lebih menarik.
Selepas permainan itu, ternyata banyak lagi hal yang bisa ditemukan di dalam Twitter. Di sini, orang-orang dari berbagai latar belakang saling berdiskusi, saling mengobrol, saling meledek dan bahkan terkadang juga terlibat dalam berbagai konflik.
Sebuah kehidupan nyata yang berpindah ke dalam sebuah dunia maya.
Dan seperti layaknya sebuah diskusi warung kopi, kita tidak mendapatkan tempat untuk bermonolog panjang lebar. Kita dibatasi untuk berucap sepanjang 140 karakter. Sangat ringkas memang, tapi itu memberikan semua pengunjung warung kesempatan yang sama besarnya untuk mengutarakan pikiran mereka.
Setelah cukup lama, ternyata mulai terlihat pribadi-pribadi unik yang bermunculan. Ternyata di dalam warung ini, mayoritas pengunjungnya bersikap seperti aslinya di dunia nyata; mereka tidak bersembunyi di balik kepribadian yang berbeda. Mereka datang menjadi diri mereka sendiri.
“Terus kenapa loe berenti nge-blog, Ngga?”
Blog ini memang dibuat untuk menuliskan pikiran-pikiran saya; pandangan saya mengenai sekitar saya, apa yang saya alami dan apa yang saya saksikan dalam hidup ini. Dulu, ketika medium yang saya gunakan hanyalah rumah ini, saya mempunyai kebiasaan untuk menyimpan sebuah pikiran untuk dibagi ke, kalau boleh saya katakan, dunia.
Dengan adanya Twitter, simpanan cerita atau pikiran itu bisa dengan mudahnya tersebar dengan langsung, meskipun jauh lebih pendek. Tapi ada sebuah penyelesaian dalam diri saya; pikiran itu sudah tertuliskan dan saya merasa tidak perlu mengelaborasinya lebih lanjut. Itu yang membuat saya sedikit absen di blog ini.
Tapi kembali lagi, penggunaan sebuah medium memang selalu disesuaikan dengan keperluan pemakainya. Dan ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi, kita tidak harus memaksakan diri untuk melanjutkannya.
Terus terang saya kangen menulis seperti ini, tapi saya tahu bahwa saya sedang dalam sebuah euforia dunia instan yang ditawarkan oleh Twitter.
Sebuah warung kopi ramai dengan pengunjung yang saling berbagi cerita.
Tapi kita semua tahu bahwa senyaman apa pun tempat kita berada di luar, seramai apa pun itu…
Kita akan selalu kembali ke rumah.
Comments
Comment from devie
Time: March 6, 2010, 6:31 pm
iya. lama. setelah sekian waktu akhirnya nongol juga di GReader lagi.
gara-gara mobile internet yang booming, twitter ikut booming juga.
Comment from ami
Time: March 8, 2010, 5:36 pm
so…welcome back Rangga!..
Comment from Bram
Time: March 9, 2010, 5:30 am
Welcome back wandering philosopher…
Comment from JJ
Time: March 13, 2010, 9:48 pm
Terima kasih sudah menuliskan ini. Selalu senang membaca tulisan2mu. Kamu benar. Pada akhirnya, kita memang selalu krmbali ke rumah.
Comment from Gandhi
Time: March 17, 2010, 6:44 pm
Dikandani ra percoyo. Rumah lama tetep lebih eksotis ![]()
Comment from Burat
Time: March 18, 2010, 8:38 pm
Hmm, Mas Gandhi, rumahnya bersarang laba-laba tuh
*nyamberalaTwitter*
Comment from nik.e
Time: April 7, 2010, 9:10 am
Haha, yup. twitter juga sempat menjadi tersangka utama kenapa frekuensi menulis di blog saya jd menurun :p mulai berencana mengikis sedikitsedikit ketergantungan akan twitter niih
Comment from ii
Time: March 6, 2010, 5:58 pm
iya, sampai pas nikah pun pengen live-tweet sendiri! *face-palm*