Kata Rangga

Entries Comments


Kejang…

26 October, 2008 (23:04) | Hidup, Layar | 4 comments

Foto didapat dari beckermanphoto.com

Minggu siang tadi saya isi dengan menonton film dokumenter mengenai breakdancing yang berjudul Planet B-Boy. Film ini bukan sekedar mengulas sejarah tentang seni itu, namun lebih menuturkan perjalanan dari beberapa tim, atau yang lebih sering disebut crew, dari empat negara yang berbeda menuju sebuah ajang lomba paling besar: Battle of the Year. Sebelum membicarakan ini lebih lanjut, mari kita sedikit kembali ke masa lalu.

Terus terang saya sangat suka dengan seni tari ini. Saya banyak mengunduh video-video dari beberapa jagoan breakdance sekedar untuk menikmati saja, karena saya yakin badan saya akan menolak dengan keras melakukan gerakan-gerakan yang, weleh-weleh, rumit tenan.

Saya ingat sekitar tahun 80an, saya menonton salah satu film WarKop -lupa judulnya- dimana ada sebuah pesta kecil yang menampilkan beberapa pemuda menari kejang. Wah, saya dulu semangat sekali menirukan gerakan “memegang kaca”, hehehe. Tapi kelenturan dari penari-penari itu membuat saya kagum. Setelah mencoba beberapa gaya rumit yang membuat badan saya kejang betulan, akhirnya saya menyerah. Sudah lah, itu bukan buat saya.

Pelangi di layar…

5 October, 2008 (14:39) | Layar | 7 comments

Foto dari situs resmi Laskar Pelangi

Ada sebuah cerita tentang seorang pematung yang sangat handal; semua yang dia pahat selalu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Pada suatu hari, dia ditanya oleh salah seorang pengagumnya; bagaimana caranya dia bisa membuat sebuah patung gajah yang sangat indah. Dia hanya menjawab, “Saya hanya membuang apa yang tidak berbentuk gajah.”

Mengadaptasi sebuah cerita novel dalam bentuk film bukanlah hal yang mudah karena penerimaan isi dari kedua media itu berbeda di penikmatnya. Sebuah novel selalu mempunyai dua penulis; si pengarang dan pembacanya, di mana mereka akan melewati cerita itu dengan pengalaman masing-masing. Hal ini akan menghasilkan sebuah interpretasi unik pada setiap cerita karena pada akhirnya, dunia yang terbangun dalam pikiran pembaca akan berbeda-beda.

Film sebagai media audio visual tidak akan menyisakan banyak ruang untuk imajinasi kita. Penonton bisa dibilang hanya menelan apa yang disajikan oleh pencipta film itu tanpa harus turut membangun dunia baru dalam diri mereka.

Menyadur sebuah novel dalam bentuk film akhirnya menjadi sebuah situasi yang cukup rumit karena sutradara harus bisa menyajikan sebuah dunia yang sesuai dengan ekspektasi penontonnya. Apalagi untuk sebuah novel sekaliber Laskar Pelangi yang tercatat sebagai salah satu buku yang paling laris akhir-akhir ini.

Takut…

22 September, 2008 (20:17) | Hidup | 5 comments

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film besutan Robert Redford berjudul Lions for Lambs yang sedikit memberikan saya sebuah kejutan menyenangkan. Film itu menceritakan tiga kisah yang berlangsung dalam waktu yang bersamaan; sebuah wawancara antara seorang senator dan reporter, sebuah diskusi antara seorang dosen dan mahasiswanya dan sebuah misi militer di Afganistan.

Ada satu dialog yang terekam di kepala saya; ketika si mahasiswa mulai berargumen, si dosen yang diperankan dengan wajar oleh Robert Redford sendiri hanya mengutarakan satu hal: “Apa yang kamu takutkan? Semua orang melakukan sesuatu karena takut.”

Takut.

Dosen itu kemudian mengelaborasi lebih lanjut dengan mengatakan bahwa semua orang punya ketakutan yang membuatnya terus berjalan; kehilangan keluarga, jatuh miskin, kehilangan kebebasan dan masih banyak hal lainnya.

“Apa yang kamu takutkan dalam hidup?” tanyanya lagi ke mahasiswa itu.

Saya melihat ke layar televisi dan melihat mata biru Robert Redford menatap saya tajam; tiba-tiba saya merasa pertanyaan itu juga ditujukan ke saya. Setelah film itu habis, saya pun mulai memikirkan jawaban pertanyaan tadi.

Hmmm…

1 September, 2008 (14:03) | Hidup | 10 comments

Sekumpulan wanita muda sedang bergunjing di teras sebuah gerai kopi internasional. Sambil menyeruput kopi, salah satu dari mereka tiba-tiba berseru, “Eh bo, jangan lupa ya minggu depan buka puasa bareng!”

Temannya pun menyambar, “Oh penting banget tuh, kita ke resto itali baru itu aja di Kemang, katanya pastanya bener-bener enak!”

“Eh, tapi mahal gak?”

“Ah, paling pek go per orang lah, santai kan?”

Muka mereka pun berbinar merencanakan reriungan nanti.

—–

Sementara di tempat lain, di sebuah rumah di bilangan mewah ibukota, beberapa ibu tengah baya sedang saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tentang anak yang sedang kuliah di luar negeri, suami yang sibuk bekerja, mahalnya BBM sehingga harus mulai mengirit dengan tidak membeli tas baru. Begitu banyak topik yang seakan tidak pernah habis. Salah satu dari mereka pun berkata, “Jeng, jangan lupa ya nanti tanggal 13 buka puasa di rumahku, sekalian silaturahim kan…”

“Wah, kok tumben-tumbenan, Mbak?”

“Iya, sekalian anakku juga lagi di Jakarta. Nanti aku juga manggil Ustad Ujep, itu lho yang ngguanteng, hehehe.”

“Pasti seru ya, Mbak. Ngundang siapa aja?”

“Ah, yang pasti keluarga dan temen-temen deket aja, paling cuma seratusan orang.”

—–

Oleh-oleh iklan daerah…

11 August, 2008 (12:51) | Hidup | 5 comments

Untuk pertama kalinya, saya minggu lalu menghadiri sebuah ajang periklanan di Yogyakarta yang bernama Pinasthika. Selama ini saya memang selalu mangkir datang ke acara itu karena keterbatasan waktu dan sebenarnya, acara itu tidak penting-penting amat lah.

Paling tidak itu yang saya pikir beberapa tahun yang lalu.

Namun sekitar dua tahun yang lalu, pendapat saya menjadi berubah setelah melihat kesegaran dalam karya-karya yang ditampilkan. Ide-ide yang nyeleneh, kadang tidak peduli pada template periklanan yang baku; semua tampil dengan liar, meledak-ledak. Saya ingat betapa lucu karya dari Srengenge yang mengiklankan sebuah kedai kopi tradisional. Semua yang ada membuat saya percaya bahwa generasi baru periklanan akan bermula dari daerah.

Pinasthika tahun lalu pun mengukuhkan perkiraan saya. Saya senang sekaligus kagum melihat semangat beberapa mahasiswa membentuk sebuah agensi sendiri –dengan klien yang valid- bernama Bohlam Advertising sebagai tempat mereka berlatih dan hebatnya, karya mereka diakui sebagai iklan televisi terbaik pada saat itu.

Saya pun makin tergelitik untuk melihat secara langsung fenomena ini.

Tahun ini, saya dikirim oleh kantor saya untuk menghadiri Pinasthika Award 2008. Wah, saya senang sekali bisa mendapatkan kesempatan ini, siapa tahu saya bisa menemukan beberapa bibit unggul untuk saya bajak nantinya, hehehe.

Satria Kelam…

21 July, 2008 (16:22) | Layar | 10 comments

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan kita; benar dan salah, baik dan jahat, cinta dan benci, hidup dan mati dan seterusnya. Selalu ada pilihan yang akan kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, selalu ada dua cabang yang akan kita pilih.

Apakah kita memilih jalan yang benar atau yang salah, apakah kita memilih untuk mencapai kebahagiaan lewat keteraturan atau kekacauan dan apakah kita akan memilih untuk menyerah atau berjalan terus?

Dan apakah kita akan memilih menyongsong fajar atau menutup jendela rapat sampai cahaya enggan masuk?

Inilah tema utama yang saya lihat di film terbaru dari seri Batman, The Dark Knight; dengan sebuah ideologi dualitas yang sangat kental di setiap menitnya. Christopher dan Jonathan Nolan dengan lancarnya menceritakan sebuah drama klasik tentang baik dan benar dalam sebuah ruangan gelap bernama Gotham City. Ini bukan film action yang penuh dengan warna, ini adalah sebuah lukisan hitam putih dengan sebuah garis kelabu. Lupakan semua seri Batman yang sebelumnya. Babak pertama buat saya dimulai dengan Batman Begins. Saya bahkan tidak menghitung dua film Batman yang dibesut oleh Tim Burton, selain mereka adalah bagian dari sejarah tentunya. Dan tidak usah bertanya tentang film Batman yang lainnya, saya masih trauma melihat Bat-Nipple sampai sekarang.

Adieu…

30 June, 2008 (23:41) | Hidup | 6 comments

Baru-baru ini saya kembali ke salah satu tempat pelarian saya; teras kecil penghubung lantai 4 dan sebuah tangga darurat. Seseorang pernah membawa saya merokok di situ dan setelah itu saya menjadi sering sekali mengunjungi tempat itu.Di tempat itu lah saya biasanya menghabiskan beberapa batang rokok dan mendengarkan musik dari iPod setia saya. Kadang, ketika terjadi sebuah pencerahan, beberapa kalimat akan tertuliskan di sebuah notes kecil atau bahkan terkadang beberapa layout.

Tapi sebisa mungkin saya tidak membawa otak kerja saya ke tempat itu karena di situ lah saya bisa menenangkan pikiran saya, hanya dengan memandangi hamparan kota Jakarta, lengkap dengan jejeran gedung pencakar langitnya.

Sungguh tenang.

Di situ saya bisa melepas diri dari kerjaan, masalah-masalah pribadi atau pun pikiran-pikiran lain yang sedang berseliweran di kepala saya. Saya bisa berdialog dengan saya sendiri.

Dan kemarin ini saya berdiri di situ.

Memandang kota Jakarta di hadapan saya dan merasakan kesibukan kantor saya di punggung.

Hmmm, sebuah gambaran yang sesuai.

Saya akan meninggalkan EuroRSCG/Adwork! menuju sebuah tempat baru dimana saya akan meneruskan karir saya. Tempat yang saya harap bisa memberikan pelajaran-pelajaran baru untuk lebih mengisi hidup saya.

Pagi…

13 June, 2008 (12:35) | Hidup | 7 comments

Ketika saya membuka mata pagi ini, matahari sudah terik melewati tirai jendela kamar saya. Di luar sudah terdengar berbagai kesibukan rumah; pembantu yang hilir mudik, mesin cuci yang berdengung, piring-piring yang sedang dicuci dan tentunya suara TV dengan berita-berita yang sudah lama tidak saya ikuti.

Dengan sedikt malas saya keluar dari kamar saya.

Saya melihat sosoknya di ruang tamu sedang membaca koran diteman sebungkus Surya 16 dan secangkir kopi pekat. Dia menoleh ke arah saya dan tersenyum, “Kesiangan?”

Saya hanya menyengir, “Gara-gara kebangun jam 3, gak bisa tidur lagi akhirnya aku nonton DVD aja. Aku minta sebatang ya, rokokku habis.”

Saya duduk di hadapannya dan menyulut sebatang rokok. Saya merasakan asap perlahan menuruni kerongkongan saya dan menari di dada. Sedikit keliyengan, saya tidak biasa merokok kretek kelas berat seperti ini. Dia menatap saya geli dan berkata, “Padahal dulu kamu pernah bilang gak mau ngerokok seumur hidup.”

“Yah, aku kan baru enam tahun pas disuruh ngicipin.”

Kami berdua tertawa mengingat kejadian itu.

Dia meneruskan membaca koran sementara saya berusaha menikmati rokok itu. Kok susah ya, mungkin memang saya tidak cocok dengan rasanya. Atau seperti yang saya bilang ke manager rokok ini dulu ketika saya ketahuan mengkonsumsi rokok lain, saya mungkin belum pantas.

Rasanya…

28 May, 2008 (16:53) | Layar | 3 comments

Baru-baru ini saya menyewa sebuah film action yang cukup seru. Sebenarnya film ini sudah dirilis cukup lama, tapi saya selalu lupa untuk membelinya. Sehingga sekarang saya tidak bisa lagi menemukannya di toko-toko DVD mana pun.

Film itu berjudul Equilibrium dan diperankan oleh Christian Bale, seorang aktor yang menurut saya sangat cocok untuk peran-peran laga. Alkisah, di sebuah masa depan fiktif, telah terjadi perang dunia ke tiga yang menimbulkan penderitaan yang sangat besar ke masyrakat dunia. Setelah selesai, sebuah negara/kota, Libria, mencanangkan hukum dimana perasaan menjadi ilegal karena dia adalah sumber dari segala tindakan buruk manusia.

Untuk menjaga stabilitas, dibentuklah sebuah satuan khusus bernama Kopass, eh, Grammaton yang berisi Clerics, agen pemberantas Sense Offender. Tugas mereka adalah mencari dan melenyapkan benda-benda yang menggugah perasaan kita seperti karya seni misalnya (musik, lukisan, puisi…) dan para penggunanya. Christian Bale memerankan John Preston, salah satu Cleric yang paling handal.

Ceritanya memang sedikit klise, tapi satu hal yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini adalah adegan laganya yang sering dikatakan sama atau bahkan lebih keren daripada trilogi Matrix.

Dan ternyata memang benar.

Pulau Dewata…

14 May, 2008 (16:54) | Hidup | 14 comments

Beberapa waktu yang lalu saya mengajukan cuti ke bos saya. Dia tahu tim saya telah didera-dera oleh salah satu klien kami yang cukup punya rasa humor dalam soal tenggat waktu. Dia bertanya ke saya, “Kemana, Jogja?”

“Nggak, gua mau ke Bali.”

Dia memandang saya dan tersenyum, “Ah, liburan kok gak kreatif.. kesana mulu.”

Tiba-tiba terlintas di benak saya, benar juga ya, hampir setiap kali saya mengajukan cuti pasti dengan alasan mau ke Bali. Sambil berjalan ke meja sekretaris kreatif untuk memberikan surat, saya memikirkan hal itu.

Beberapa hari yang lalu kebetulan saya diberikan kesempatan oleh kantor saya untuk “bertugas” di Bali. Intinya sebenarnya menemani klien yang sedang meninjau sebuah acara yang mereka sponsori, tapi saya beserta beberapa teman dari bagian kreatif menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi Legian dan sekitarnya. Kami sangat menikmati jeda dari rutinitas harian kami.

Malam minggu kemarin, setelah makan malam dan karaoke bersama klien, saya memilih untuk berjalan kaki ke arah hotel daripada naik mobil melewati kemacetan Legian yang luar biasa. Saya pun berjalan menyusuri pantai, menikmati terpaan angin dan basuhan ombak di telapak kaki saya.

« Older entries

 Newer entries »